
Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing, malam ini tidak akan ada yang bisa tidur nyenyak, semua masing memikirkan Adam yang pergi begitu saja.
*****
Pagi hari.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Laksmi dan Mayra menyiapkan sarapan untuk semua orang. Semua makanan sudah tersedia di meja makan, mereka semua sudah keluar dari kamar masing-masing, tapi mereka tidak bersemangat untuk makan.
Tokk.. tokk..
"Assalamualaikum" terdengar suara salam dari luar rumah.
"Biar aku saja" ucap Mayra dan beranjak dari kursinya menuju pintu.
Mayra membuka pintu dan ternyata Rizal sudah berada di hadapannya, Mayra merasa cukup terkejut, karena tidak biasanya Rizal datang sepagi ini.
Mayra menyuruh Rizal masuk dan mengajaknya ikut sarapan bersama.
"Zal, ada apa kau datang sepagi ini?" tanya Musa.
"Maaf mas, sebenarnya aku dengar kalau Adam sudah siuman jadi aku sangat tidak sabar untuk menemuinya" Rizal tersenyum, dan Musa membalas senyuman itu dengan senyuman masamnya.
Rizal melirik Mayra yang duduk di sampingnya, seolah bertanya apa yang terjadi dengan semua orang, Mayra menjawab dengan kedipan mata seakan mengatakan kalau dia akan menjelaskannya nanti.
Setelah sarapan, semua orang memulai aktifitas masing-masing, Musa ke sekolah, ustadz Fadlan ke kantor, Ilyas bersekolah, Mayra pergi kuliah diantar oleh Rizal, sementara Laksmi dan bu Fatma berada di rumah.
Dalam perjalanan ke kampus Mayra.
"May, sebenarnya ada apa? dan kemana Adam aku tidak melihatnya tadi?" tanya Rizal sambil mengemudi.
"Mas, sebenarnya mas Adam kemarin pergi tanpa memberitahu siapapun" jawab Mayra.
Rizal yang masih bingung mengeryitkan dahinya seolah masih tidak mengerti maksud Mayra.
Mayra kembali melanjutkan ceritanya.
"Kemarin mas Adam keluar dari rumah lewat jendela kamarnya menggunakan sprei, saat kami mengejarnya, kami sudah kehilangan jejak" lanjut Mayra sedih.
Rizal mengusap punggung Mayra mencoba menenangkannya, Mayra hanya menunduk menahan air mata.
"Jangan di tahan Mayra, keluarkan saja air matamu, itu pasti akan membuatmu lega"
"Mas, bisakah kita pergi ke tempat lain saja, aku tidak ingin ke kampus" pinta Mayra.
"Tapi kau harus kuliah May, bagaimana jika ayah dan ibumu nanti mengetahuinya?"
"Itu akan jadi tanggung jawabku mas, ajaklah aku ke tempat lain, aku ingin menenangkan diri".
__ADS_1
Rizal mengangguk mencoba mengerti perasaan Mayra, Rizal mengajak Mayra kesebuah taman di pinggir kota, dimana banyak orang-orang yang berkunjung hanya sekedar untuk bersantai menghilangkan penat.
*****
Disisi lain.
Adam berada di sebuah rumah tak berpenghuni, dia hanya duduk terdiam mencoba mencerna semua cerita yang di dengarnya kemarin.
Tiba-tiba, seseorang datang dan duduk di sampingnya.
"Makanlah ini dulu"
Adam menerima makanan itu tanpa berkata apa-apa, wajahnya masih terlihat sangat sedih, dan merasa sangat putus asa dengan apa yang di dengarnya kemarin.
"Kenapa mereka melakukan ini kepadaku, apakah mereka tidak menginginkanku" ucap Adam mengeluh.
"Jangan berfikir seperti itu Dam, bukannya mereka tidak menginginkanmu, tapi mereka merasa iba terhadap paman dan bibimu yang masih belum mempunyai anak saat itu"
"Walaupun seperti itu, tapi apakah mereka tidak iba melihatku, mereka menjagaku selama setahun, tapi saat itu juga mereka membuangku" Adam semakin sedih dan kesal.
"Mereka tidak membuangmu Dam, mereka hanya menitipkanmu kepada paman dan bibimu"
"Menitipkanku hingga usiaku sekarang, aku benar-benar kecewa"
"Sabar Dam, berdo'a lah kepada Allah, kau jangan sampai meragukan cinta mereka, biar bagaimanapun, mereka adalah orang tuamu".
"Kembalilah Dam, kembalilah bersama mereka, jangan kau bersikap seperti ini, mereka pasti sangat khawatir kepadamu".
Adam menatap mata orang itu, yang tidak lain adalah Rayya, dia mencoba mencari ketenangan dari tatapan mata Rayya yang begitu teduh dan lembut, walaupun mereka belum mengenal lama, tapi Adam merasa nyaman di dekatnya.
*****
Disekolah.
"Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini sudah selesai, semua bersiap dan berdoa" perintah Musa kepada murid-muridnya.
Anak-anak mematuhi perintah Musa, mereka berdoa dan keluar dari kelas dengan tertib, mereka di ajarkan agar selalu saling menyayangi satu sama lain.
Musa keluar dari kelas dan pergi ke ruangannya, dia kembali duduk termenung ketika mengingat kembali kepergian Adam.
"Musa, tenanglah, kami akan membantumu mencari Adam" ucap Ali.
"Benar Musa, kau jangan terlalu berfikir keras, nanti kau akan sakit" sahut Imran.
Musa tersenyum dan menatap mereka.
"Terima kasih Li, Imran, kalian selalu menenangkan aku disaat sulit"
__ADS_1
"Kita kan sahabat sejak kecil, kau tidak ingat, dulu aku selalu membantumu saat kau di ganggu anak perempuan haha" Imran mengejek Musa.
Musa hanya tersenyum mendengar perkataan kedua sahabatnya itu, untuk sementara dia bisa melupakan masalahnya.
*****
Siang hari, Rizal mengantar Mayra kembali ke rumahnya, dalam perjalanan tidak sengaja mobil yang di kendarai Rizal menyerempet sebuah pengendara motor membuat pengendara itu terjatuh.
Seketika Rizal menghentikan mobilnya, Mayra yang terkejut segera keluar dari dalam mobil dan mendekati orang itu.
"Maaf nona, temanku tidak sengaja, apa ada yang terluka, mari kami antar kau ke rumah sakit" ucap Mayra.
"Ah, aku tidak apa-apa nona" gadis itu mencoba berdiri tapi ternyata kakinya sedikit terkilir.
"Auw.."
"Nona, kau kesakitan mari kami ajak kau kerumah sakit"
"Tidak usah, sebentar lagi akan baikan"
"Tidak nona, lihat kakimu mulai bengkak, izinkan kami untuk merawatmu" sahut Rizal.
Gadis itu tidak bisa menolak lagi, karena dia merasakan kakinya benar-benar sakit, hingga membuatnya harus mau untuk di bawa kerumah sakit, sementara Rizal sudah meminta seseorang untuk membawa motornya ke bengkel.
Dalam perjalanan, gadis itu terus memegangi kakinya sambil meringis kesakitan.
"Nona, maafkan aku, aku sangat menyesal telah membuatmu seperti ini" ucap Rizal sambil mengemudi dan sesekali melihat gadis itu lewat kaca mobilnya.
"Aku tidak apa-apa, hanya sakit sedikit"
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit, dokter segera menangani gadis itu. Dokter mengatakan gadis itu harus di rawat di rumah sakit selama dua minggu dan tidak dilarang untuk berjalan.
"Nona, sekali lagi maaf, kami janji akan merawatmu" ucap Mayra.
Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, sementara Rizal sedang mengurus administrasi untuk dua minggu kedepan.
"Oh iya, siapa namamu?" tanya Mayra.
"Namaku Rayya" jawab gadis itu.
Mayra mulai bertanya hal lain mengenai Rayya, membuat mereka menjadi akrab dalam waktu yang singkat.
Tidak lama, Rizal masuk ke ruangan dan melihat mereka sedang berbincang, Rizal merasa senang karena Mayra sudah tidak sedih lagi karena memikirkan Adam.
Rizal menyarankan Mayra agar memberitahu keluarganya, Rizal tidak mau sampai membuat mereka khawatir. Mayra segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menelepon kerumah.
Sementara Rayya juga mengirim pesan kepada Adam tentang kondisinya.
__ADS_1