
Sore ini Laksmi berniat menemui Ilyas, dalam perjalanan Laksmi mampir kesebuah toko mainan, Laksmi membeli beberapa mainan anak laki-laki untuk di berikan kepada Ilyas.
Brukk...
Barang bawaan Laksmi terjatuh dan berserakan di lantai toko, Laksmi bertabrakan dengan seorang laki-laki. Laksmi menoleh ke arah lelaki itu dan mulai membereskan barang belajaannya.
"Maaf.. maaf, aku tidak sengaja" laki-laki itu membantu Laksmi membereskan barangnya yang berantakan.
"Iya, tidak apa-apa"
"Kau Laksmi kan?" tanya lelaki itu.
Laksmi kembali melihat kearahnya dan mengeryitkan dahinya merasa heran siapa pria itu.
"Kamu tidak ingat aku? aku Rizal, abangnya Zahra"
"Oh.. Iya aku ingat"
"Apa kabar kamu, sudah lama ya tidak bertemu, semenjak aku dengar kamu di lamar Adam" ucap Rizal pelan.
"Hmm.. kabar ku baik, oh iya maaf, aku terburu-buru, aku duluan ya" Laksmi pergi meninggalkan Rizal.
Rizal tersenyum melihat kepergian Laksmi walaupun tanpa menghiraukannya.
"Benar kata bi Mirna, kamu semakin cantik, kenapa kamu mau menerima lamaran Musa" gumam Rizal.
Ternyata Rizal sudah mengetahu semua tentang Laksmi, mulai dari kegagalan pertunangannya dengan Adam, hingga rencana pernikahannya dengan Musa.
Rizal mengetahui semua itu dari bi Mirna, yang tidak sengaja dia temui beberapa bulan yang lalu.
**flashback on**
Brakk...
"Auw.. aduh.. Hei bawa motor itu yang benar donk!!" teriak bi Mirna.
Bi Mirna terjatuh setelah di serempet sebuah motor, motor itu di kendarai oleh Rizal. Rizal turun dari motornya dan segera membantu bi Mirna.
"Maaf bi, aku tidak sengaja" ucap Rizal.
"Hei mas, ini jalan umum, jangan ngebut kalau bawa motor" teriak orang disekitar jalan itu.
"Iya pak, maaf, saya tanggung jawab"
Rizal membantu membawa barang-barang bi Mirna.
"Ada yang terluka bi, saya antar ke dokter ya?"
"Tidak usah, antar saya pulang saja"
"Baik bi, mari naik ke motor saya"
Bi Mirna naik ke motor pemuda yang baru saja menabraknya itu, bi Mirna masih cukup kesal dengan kejadian tadi.
"Rumah bibi dimana?" tanya Rizal.
"Lurus saja, nanti belok kiri"
__ADS_1
Rizal melajukan kendaraannya mengikuti arahan dari bi Mirna.
"Sudah berhenti disini saja, ini rumah saya"
Mereka berhenti didepan rumah yang masih berpagar bambu dengan cat warna hitam. Bi Mirna hendak mengambil barang belanjaannya yang di gantung didepan motor Rizal.
"Biar saya bawakan bi"
Rizal membawa belanjaan milik bi Mirna hingga teras rumah.
"Sini belanjaannya, kamu duduk saja dulu, saya taruh barang dulu ke dalam" ucap bi Mirna.
Bi Mirna masuk kedalam rumah, sementara Rizal duduk di teras di atas kursi yang terbuat dari rotan. Matanya mulai berkeliling seperti hendak mencari sesuatu, hingga tiba-tiba tatapannya terhenti pada sebuah foto yang terletak di atas meja didalam rumah itu.
Rizal tanpa sadar masuk kedalam rumah dan menghampiri foto itu.
"Heii.. kamu didalam, sedang apa?" ucap bi Mirna dengan membawa sebuah gelas berisi teh hangat.
"Ah.. Maaf bi, aku masuk tanpa permisi" ucap Rizal.
"Hmm..."
"Bi, ini Laksmi kan? Dia anak bibi?" tanya Rizal sambil memegang bingkai foto itu di tangannya.
"Kamu kenal Laksmi?"
"Iya, kebetulan dia teman lama waktu di pesantren" Rizal berbohong, sebenarnya Laksmi adalah teman Zahra.
"Oh.. Dia ponakanku, bukan anak"
"Belum, dia masih lajang, kau tahu, Adam memutuskan hubungan mereka dan menyuruh Laksmi menikah dengan Musa" jawab bi Mirna.
"Musa? siapa Musa?" tanya Rizal.
Bi Mirna tanpa ragu mulai menceritakan semua kejadian kepada Rizal, orang yang baru saja di kenalnya, Rizal hanya mendengarkan cerita bi Mirna yang padat dan jelas itu.
"Sebenarnya, saya juga dulu sudah berniat melamar Laksmi, tapi sayang, saya sudah keduluan dengan Adam" ucap Rizal lirih.
"Hmm.. kamu tinggal dimana?"
"Rumah saya di jakarta bi, tapi saya sedang ada proyek disini, saya menyewa sebuah rumah di samping rumah pak Lurah"
"Rumah besar itu?" tanga bi Mirna.
"Iya bi,"
"Oh.. Kamu sedang mengerjakan proyek apa?"
"Proyek pembuatan pabrik kertas bi"
"Wahh.. kamu orang kaya ya?"
"Tidak juga bi, saya masih bantu-bantu perusahaan abi saya saja"
"Hmm.. Kenapa kamu tidak melamar Laksmi lagi?"
Rizal terkejut dengan ucapan bi Mirna, Rizal juga cukup heran, kenapa bi Mirna berkata begitu, padahal Laksmi sudah di lamar oleh Musa. Tapi perasaan cintanya kepada Laksmu memang masih sangat dalam, itu juga yang membuatnya ugal-ugalan di jalan tadi, hingga menabrak bi Mirna, Rizal sedikit kecewa mendengar cerita dari Zahra, bahwa Laksmi sudah di lamar Adam, dan tidak ada harapan lagi untuknya.
__ADS_1
"Harapan itu sekarang kembali lagi" ucap Rizal didalam hatinya.
"Ayo di minum dulu" ucap bi Mirna, membuat lamunan Rizal terhenti.
Rizal meminum teh yang sudah di suguhkan untuknya, dan berpamitan kepada bi Mirna karena harus kembali ke kantor.
"Tidak mau menunggu Laksmi?" tanya bi Mirna.
"Tidak usah bi, lain kali saja saya datang kesini lagi"
"Oh.. Baiklah. Hati-hati ya"
"Iya bi, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Rizal melajukan motornya meninggalkan rumah Laksmi, dalam perjalanan Rizal tersenyum senang, dalam benaknya terlintas untuk bisa mendapatkan cinta Laksmi yang sebelumnya terhalang oleh lamaran Adam.
**flashback off**
Laksmi sudah sampai dirumah Musa, kedatangannya disambut hangat oleh pelukan tubuh mungil Ilyas. Laksmi menciumnya berkali-kali sebagai pelepas rindu.
"Ma.." ucap Ilyas.
"Iya sayang, lihat mama bawa apa untukmu" Laksmi menyerahkan bungkusan kado itu kepada Ilyas. Ilyas menerimanya dengan senang dan membawanya masuk kedalam rumah. Tangan Laksmi di genggamnya kuat dan mengajak Laksmi ikut masuk kedalam rumah.
"Kamu baru datang?" ucap Musa.
"Eh.. Iya" jawab Laksmi.
"Aneh ya, padahal dia anakmu, tapi kamu tega meninggalkan dia dirumah orang asing" ucap Musa ketus.
"Aku.. aku.. aku sedang sibuk"
"Sesibuk itukah sampai kamu meninggalkan anakmu sendiri?" Musa terlihat kesal.
"Bukan begitu, aku cuma.."
Ucapan Laksmi terhenti setelah Musa mengisyaratkan nya untuk diam.
"Aku tidak mau dengar alasanmu, semoga saja Farida tidak sepertimu, yang hanya mementingkan karir daripada keluarga" Musa pergi meninggalkan Laksmi yang masih berdiri di samping sofa tempat duduk Musa.
Ibu Musa melihat kejadian itu, dan segera menghampiri Laksmi yang sedang bersedih.
"Jangan hiraukan ucapan Musa ya Laksmi, maafkan dia"
"Tidak apa-apa bi, aku mengerti"
"Baiklah, ayo duduk, bibi tahu kamu kesini untuk berpamitan kepada Ilyas kan?"
"Iya bi, sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Ilyas, apalagi dengan fikiran mas Musa yang seperti itu, dia menganggap ku ibu yang tidak bertanggung jawab"
"Sudah, biarkan saja. Bibi akan coba memberi pengertian kepada Musa, kamu sabar ya?"
"Iya bi,"
Ilyas datang menghampiri Laksmi dan neneknya, Ilyas mengajak mereka bermain bersama.
__ADS_1