
Laksmi sedang mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke pesantren, dia membawa barang cukup banyak, karena mungkin dia akan tinggal lama disana.
Tokk.. tokk..
"Assalamualaikum" terdengar suara seorang lelaki dari luar rumahnya.
"Waalaikumsalam" bi Mirna berlari kecil dan membuka pintu.
Ternyata itu adalah Rizal, Rizal sengaja datang karena di beritahu bi Mirna kalau Laksmi akan pergi ke pesantren hari ini.
"Eh.. Rizal, ayo masuk, kamu benar-benar tidak mau kehilangan kesempatan ya?" bi Mirna tersenyum.
Rizal hanya tersenyum malu mendengar ucapan bi Mirna.
"Siapa bu?" tiba-tiba paman Adi datang.
"Eh.. paman" Rizal menghampiri paman Adi dan mencium punggung tangannya.
Paman Adi menerima salam dari Rizal, walaupun hatinya bertanya-tanya "Mau apa pemuda ini datang se-pagi ini?".
"Ayo silahkan duduk" ucap bi Mirna.
Bi Mirna kemudian pergi ke dapur dan membuat minuman untuk Rizal.
"Sebentar ya Nak, saya tinggal dulu" ucap paman Adi kepada Rizal yang sedang duduk di ruang tamu.
"Oh iya paman, silahkan" jawab Rizal.
Paman Adi menyusul bi Mirna ke dapur, disana terlihat bi Mirna sedang merebus air panas yang akan digunakan untuk membuat teh.
"Bu, Mau apa lelaki itu datang kesini? masih pagi pula, memang ibu di antar kepasar sama dia?" tanya paman Adi.
"Ih bapak, belanjaan kemarin saja masih banyak, untuk apa ke pasar lagi" jawab bi Mirna sambil mengaduk teh.
"Lalu, untuk apa dia kesini?"
"Dia itu dulu suka sama Laksmi, dan sekarang dia minta ibu untuk membuat dia dekat lagi dengan Laksmi"
"Masya Allah..!!", paman Adi terkejut "Untuk apa bu, ibu kan tahu kalau Laksmi sudah bertunangan dengan Musa"
"Alahh Pak, Musa lupa ingatan begitu kok, Musa itu cuma ingat kepada istrinya saja, buat apa di pertahankan"
"Iya bapak tahu, tapi ini tidak benar bu, dokter Fahri kan sudah bilang, pasti Musa akan sembuh"
"Kapan sembuhnya pak, kasian Laksmi sudah cukup umur malah tidak jadi menikah, sudahlah bapak jangan ikut campur, ini urusan ibu" bi Mirna keluar dari dapur dan meninggalkan paman Adi.
"Astagfirullah, setan apa yang merasukimu bu, kenapa sikapmu berubah seperti ini" gumam paman Adi.
Setelah selesai berkemas, Laksmi keluar dari kamarnya dan Laksmi terkejut melihat Rizal yang berada di dalam rumahnya.
"Mas Rizal, sedang apa disini?"
__ADS_1
"Laksmi, aku dengar kamu akan pergi ke pesantren, kalau boleh aku ingin mengantarmu"
"Hmm.. Tidak usah Mas, paman Adi yang akan mengantarku"
"Jangan menolak rezeki Laksmi, itu tidak baik", bi Mirna tiba-tiba datang sambil meletakkan nampan berisi teh dan makanan kecil di atas meja, " Pergi saja bersama Nak Rizal, paman mu juga tiba-tiba sakit perut, jadi tidak bisa mengantarmu"
Paman Adi datang dari arah dapur, Laksmi langsung mendekatinya.
"Paman sakit? Kenapa tidak bilang? Paman sudah minum obat?" tanya Laksmi.
"Sakit?" paman Adi terlihat bingung.
"Iya, bapak sakit kan, sudah tiga kali bolak balik ke kamar mandi" ucap bi Mirna.
"I-iya, paman sakit perut" jawab paman Adi tergagap.
"Tuh, dengar kan, sudah biar Rizal yang mengantarmu"
"Baiklah"
Setelah beberapa menit, Laksmi berpamitan kepada paman dan bibinya, kali ini Rizal sengaja datang menggunakan mobil supaya bisa membawa barang milik Laksmi.
Laksmi masuk ke dalam mobil Rizal, Rizal duduk di kursi kemudi, wajahnya terlihat bahagia karena bisa kembali dekat dengan wanita pujaannya.
Sementara Musa yang berada di rumahnya, hanya bisa beristirahat, dia belum bisa melakukan aktifitas seperti biasanya karena larang ibunya.
Melihat ibunya yang berada di halaman rumah, Musa menghampirinya.
"Kamu tidak lihat, ibu sedang menyiram tanaman"
"Hmm.. Oh iya, apa Laksmi benar-benar berangkat ke pesantren bu?" tanya Musa.
"Iya, bukankah kemarin ibu sudah bilang kepadamu"
"Kenapa dia tega sekali meninggalkan putranya sendirian" Musa melihat Ilyas yang sedang asyik bermain di halaman.
"Kenapa? Ilyas masih punya kita kan?" tanya ibunya menatap Musa.
"Tapi, kita kan bukan siapa-siapa bagi Ilyas bu?"
Ibu Musa terkejut mendengar ucapan Musa, di dalam hatinya merasa sangat sedih, sampai kapan Musa akan melupakan putranya sendiri.
"Bu, Pak Fadlan memanggil" bi Tuti datang dan memanggil ibu Musa.
"Oh iya sebentar, bi, tolong lanjutkan menyiram bunganya ya" ibu Musa menyerahkan alat penyiram itu kepada bi Tuti, dan pergi untuk menemui suaminya.
"Na.. na.. na.." bi Tuti menyanyi tanpa lirik.
"Suara bi Tuti bagus" ucap Musa yang masih berada di halaman.
"Eh.. Den Musa bisa saja"
__ADS_1
"Bi, sudah berapa lama bibi bekerja disini?" tanya Musa.
"Semenjak ibu dan bapak baru jadi pengantin baru" jawab bi Tuti.
"Hmm.. kalau begitu, bi Tuti pasti tahu kan semua kejadian di rumah ini?"
"Iya tentu saja Den"
"Aku boleh bertanya?"
"Tentu saja boleh Den, kalau bibi tahu pasti bibi jawab"
"Hmm.. kapan aku menikah dengan Farida?"
"Sekitar hampir tiga tahun yang lalu"
"Lumayan lama ya bi, apakah aku dan Farida sudah mempunyai anak?"
"Sudah, Den Ilyas itu anak Den Musa dan Neng Farida" bi Tuti menjawab semua pertanyaan Musa dengan ceplas ceplos.
"Anakku?", Musa terkejut dengan jawaban bi Tuti dan mulai bertanya lagi tentang hal lainnya "Lalu, dimana Farida sekarang?"
"Neng Farida sudah meninggal saat melahirkan Den Ilyas"
Bi Tuti membelalakan matanya, dia baru sadar kalau baru saja dia telah menceritakan semua hal yang di larang oleh orang tua Musa, karena mereka khawatir kalau Musa tahu, dia pasti akan berfikir keras untuk mengingat masa lalunya dan bisa beresiko pada otaknya.
"Apa?!!" Musa terkejut.
"Aduhh... Bagaimana ini" bi Tuti merasa ketakutan.
"Benarkah, kalau Ilyas adalah putraku dan Farida?" Musa kembali bertanya, sementara bi Tuti hanya terdiam.
"Jawab bi!" Musa sedikit memaksa.
"Ya ampun, bibi lupa kalau sedang masak air, bibi pergi dulu" bi Tuti mengalihkan pembicaraan dan pergi meninggalkan Musa.
Musa hanya menatap kepergian bi Tuti, dalam hatinya masih merasa bingung, otaknya mulai berfikir keras mencoba mengingat tentang masa lalunya.
"Ilyas, putraku?" Musa memandang Ilyas yang masih asyik bermain.
"Lalu, siapa Laksmi? kenapa Ilyas memanggilnya Mama? apakah aku sudah menikah dengan Laksmi?"
Musa terus berfikir, hingga membuat kepalanya terasa sakit, Musa terus memegang kepalanya dan berjalan tertatih meninggalkan halaman rumah.
Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, Musa terjatuh tak sadarkan diri, Ilyas yang melihat itu langsung berlari masuk dan memanggil kakek dan neneknya.
"Kakek, nenek, ayah jatuh" ucap bocah kecil itu.
"Apa? Dimana sayang?" ibu Musa terkejut.
Ilyas berlari kembali ke arah halaman, orang tua Musa mengikutinya dari belakang. Mereka terkejut, kenapa ini sampai terjadi.
__ADS_1