
Dirumah Rayya.
"Ayo Rayya, apa kau tidak mau hadir?" Vera berusaha membujuk Rayya yang mengurung diri di kamar.
"Tidak kak, kakak pergi saja berdua" jawab Rayya dari dalam kamarnya.
"Kenapa ma?" tanya Rozi yang tiba-tiba datang.
"Rayya tidak mau hadir pa" jawab Vera.
"Kenapa?"
"Dia mengira kalau yang menikah hari ini si Adam, dia sangat sedih semenjak undangan itu datang"
"Lho, apa mama tidak memperlihatkan undangan itu kepada Rayya?"
"Tidak pa, mama sengaja mau mengerjai Rayya hihi"
Rozi menepuk jidat melihat kelakuan istrinya yang jahil.
"Rayya, keluar bukan Adam yang menikah tapi Mayra, adiknya, kalau kau mau kakak akan melamar Adam untukmu?" ucap Rozi dengan suara datar.
Dengan cepat, Rayya keluar dari kamarnya, dan wajahnya terlihat bingung.
"Ayo bersiap" ucap Rozi.
"Apa benar yang kakak bilang tadi?" tanya Rayya.
"Iya, nih lihat undangannya, apa kakak harus melamar Adam untukmu?"
Rayya mengambil undangan itu dan membacanya, wajahnya kembali ceria, senyum di wajahnya mulai terlihat.
"Yes yes yes" Rayya melompat kegirangan.
"Mau di lamar?"
Rayya seketika berhenti dan langsung memeluk kakaknya.
"Jangan kak, malu donk kalau pihak perempuan melamar pihak laki-laki"
"Apa salahnya, daripada dia di ambil orang" sahut Vera.
Setelah Rayya siap, mereka segera menuju lokasi undangan, dalam perjalanan, Rayya masih terlihat senyum-senyum sendiri.
Tidak lama, mereka sampai di rumah Musa, Rayya tidak langsung masuk, matanya mencari-cari keberadaan Adam tapi tidak menemukannya.
"Kau mencariku?" terdengar suara Adam dari belakang Rayya.
Rayya sangat terkejut dan segera menoleh, di hadapannya sudah ada Adam yang terlihat tampan dengan setelan jas hitam.
"Adam, aku-aku" Rayya terlihat gugup.
"Aku sudah tahu, kalau kau mengira ini pernikahanku kan? makanya kau datang sangat terlambat?"
"Maksudmu?"
"Kau menyukaiku Rayya, aku benarkan?"
Rayya terlihat menunduk malu, bagaimana Adam bisa tahu tentang isi hatinya.
"Haha, kau percaya diri sekali" Rayya melangkah hendak meninggalkan Adam.
"Tidak ya, kalau begitu aku akan menerima perjodohan dari orang tuaku"
Kata-kata Adam membuat Rayya menghentikan langkahnya, dia berbalik dan melihat Adam yang masih berdiri di tempat semula.
__ADS_1
"Kau, akan di jodohkan?"
"Iya, besok ayah dan ibu akan melamarnya" ucap Adam yang kini balik menatap Rayya.
"Oh, hm.. selamat ya, aku turut bahagia" ucap Rayya pelan.
"Terima kasih" Adam tersenyum.
Rayya segera pergi meninggalkan Adam tanpa berkata apa-apa lagi, wajahnya yang ceria kini berubah kembali sangat murung dan sedih.
Rayya mengajak kakaknya untuk segera pulang, akhirnya mereka berpamitan kepada seluruh anggota keluarga.
Sesampainya dirumah, Rayya langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya rapat-rapat, kak Rozi dan Vera merasa heran dengan tingkah Rayya.
Kamu jahat sekali Dam, aku sudah jauh-jauh dari kairo untuk menemuimu, tapi saat disini kau tidak peka dengan perasaanku.
Rayya menangis merintih, kakaknya tidak mengetahui hal itu.
*****
Malam hari.
"Kak, aku ingin kembali ke kairo" ucap Rayya di tengah makan malam.
Uhukk... uhukk...
"Minum dulu pa, jangan buru-buru" Vera memberikan segelas air.
Rozi langsung meminumnya.
"Kenapa mendadak Ray? ada apa?"
"Tidak apa-apa kak, kurasa aku tidak betah disini" jawab Rayya.
"Tapi kakak belum sempat memesan tiket pesawatmu"
"Hm, kau yakin?"
"Iya kak"
Akhirnya Rozi dan Vera menyetujui keputusan Rayya, Rayya segera mempersiapkan barang-barangnya untuk di bawanya besok.
Sudah jam 9 malam, Rayya masih tidak bisa tidur, dia hanya menatap foto Adam yang ada di ponselnya, tanpa sadar air matanya mengalir.
Karena lelah, akhirnya Rayya tertidur.
*****
Esoknya.
"Selamat pagi pengantin baru" ucap Adam saat keluar dari kamarnya dan melihat Mayra dan Rizal sudah duduk di meja makan bersama yang lain.
"Apa kau benar-benar lelah, sampai kau bangun sesiang ini?" tanya bu Fatma sambil mengisi piring Adam dengan makanan.
"Iya bu, Adam lelah sekali"
"Kenapa lelah? bukannya yang pengantin baru adalah Rizal?" sahut Musa dengan terkekeh.
"Ah, mas Musa ini" Rizal terlihat malu.
"Jangan bicarakan hal itu, kalian tidak kasihan melihat Adam yang masih jomblo?" sahut bi Anita sedikit mengejek Adam.
"Aku tidak jomblo sendirian, bocah ini pun jomblo" Adam mengacak rambut Ilyas yang duduk disampingnya.
"Ah, om nakal, lihat, rambutku berantakan" Ilyas merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Hahaha" semua orang tertawa bersamaan.
"Dam, kamu yakin akan melamarnya hari ini?" tanya ustadz Fadlan serius.
"Iya yah, aku tidak ingin dia di ambil orang" Adam memasukkan makanan kedalam mulutnya.
"Hm, baiklah, apa semuanya sudah siap Musa?" tanya ustadz Fadlan.
"Sudah yah, tenang saja, semua sudah beres"
"Baguslah, nanti kita akan berangkat setelah sholat ashar"
Semua orang mengangguk setuju.
*****
Rumah Rayya.
"Kamu yakin Rayya, akan pergi hari ini?"
"Iya kak, aku yakin"
"Hm, baiklah kalau begitu"
Tidak terasa hari sudah sore, Selesai sholat ashar keluarga Adam sudah siap untuk melamar seorang gadis.
Sementara disisi lain, Rayya sedang berpamitan kepada kakaknya untuk segera berangkat ke kairo, taksi yang dipesannya sudah datang, siap untuk mengantar menuju bandara.
Rayya segera masuk kedalam taksi dan melambaikan tangan kepada kakaknya. Akhirnya taksi melaju menuju bandara.
Tiga puluh menit kemudian, dua buah mobil mewah berhenti di halaman rumah Rayya, Rozi dan Vera yang sedang bersantai merasa terkejut dengan kehadiran tamu tak terduga.
Keluarga besar Adam keluar dari dalam mobil, semua orang membawa bingkisan masing-masing, Rozi dan Vera menyambut mereka dengan hangat.
"Assalamaualaikum" ucap mereka serentak.
"Waalaikumsalam, Masya Allah, tamu darimana ini?" Rozi memeluk ustadz Fadlan.
"Tamu jauh ini" gurau ustadz Fadlan.
Rozi mempersilahkan mereka untuk masuk, karena rumah mereka tidak memiliki sofa, Rozi menggelar tikar seadanya.
"Maaf, cuma ini yang kami punya" ucap Rozi.
"Tidak apa-apa, begini lebih nyaman" jawab Musa.
Mereka berbincang hingga ke intinya.
"Kami datang kesini, sebenarnya ingin melamar Rayya untuk Adam" ucap ustadz Fadlan selaku wali.
"Masya Allah, mimpi apa saya semalam, adik saya di lamar keluarga ustadz Fadlan" Rozi tersenyum.
"Dimana Rayya kak?" tanya Adam.
"Hm, begini, sebenarnya Rayya baru saja pergi ke bandara setengah jam yang lalu"
"Lho, dia mau kemana?" tanya Musa.
"Dia akan kembali ke kairo, katanya dia merasa tidak nyaman disini"
Semua orang terdiam mendengar penjelasan kak Rozi.
"Tuh mas, ini salah mas, kenapa mas bilang kepada Rayya kalau mas di jodohkan dengan wanita lain" ucap Mayra.
"Iya, mas fikir, dia tidak akan melakukan ini, sekarang mas harus bagaimana?" wajah Adam nampak khawatir.
__ADS_1
"Ya mas jemput dialah, semoga dia belum naik pesawat".
Adam menuruti perkataan Mayra dan segera berangkat menuju bandara bersama Rizal.