Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 52


__ADS_3

**flashback on**


"Zal, ini sudah cukup lama, kenapa kau tidak putuskan saja hubunganmu dengan Mayra" ucap Umi Rizal.


"Benar Zal, sampai kapan kau akan menunggu sampai kakaknya itu siuman" sahut Abi Rizal.


"Umi, Abi, sabarlah sedikit, Rizal yakin, Adam akan segera pulih"


"Alahh.. Zal zal, sampai kapan itu, tidak ada yang tahu" ucap Uminya.


"Allah maha tahu bu" Rizal tersenyum.


**flashback off**


"Mas, kenapa diam?" Mayra mengejutkan Rizal yang sedang melamun.


"Ah.. tidak May, oh iya, apa aku boleh menemui Adam?" tanya Rizal.


Mayra mengangguk.


Rizal segera masuk kedalam kamar Adam, dia benar-benar prihatin melihat kondisi Adam yang semakin kurus.


"Dam, aku ingin minta izin lagi kepadamu untuk yang kesekian kali, aku ingin menikah dengan Mayra" Rizal tersenyum.


"Hmm.. kau tahu Dam, aku sangat ingin mengenalmu lebih jauh lagi, tapi sepertinya kau tidak ingin mengenalku?"


Trek..


Pintu kamar Adam terbuka lebar, Rizal melihat ternyata Musa sedang berdiri disana.


"Kau sudah lama zal?"


"Belum, aku baru saja datang, oh iya Mas aku ingin minta izin untuk mengajak Mayra keluar, apa boleh?"


"Iya, ajaklah dia, aku juga kasihan selalu melihatnya murung"


"Terima kasih Mas" Rizal tersenyum dan keluar menemui Mayra.


*****


"May, kita keluar yuk, aku sudah izin dengan mas Musa" ajak Rizal.


"Aku malas mas"


"Huhff.. kalau begitu, aku cari gadis lain saja"


"Apa?! kau tega sekali"


"Makanya ayo kita keluar sebentar!" Rizal sedikit memelas.


"Baiklah, tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu"


Mayra pergi ke kamarnya dan berganti pakaian, sebelum berangkat tidak lupa Mayra meminta izin kepada Musa dan Laksmi.


*****

__ADS_1


Hari sudah semakin sore, Laksmi sedang menyiapkan makan malam, Musa sedang mengajar mengaji di TPA yang di bangunnya setahun yang lalu, sementara ayah dan ibunya masih belum kembali.


Ilyas bermain-main di dekat kamar Adam, dia berlarian kesana kemari, bahkan sesekali dia berteriak.


Hingga akhirnya dia kembali masuk ke kamar Adam seperti yang dilakukannya tadi siang.


"Om.. Bangun.." ucap Ilyas berbisik.


"Om, aku punya mainan baru, apa om tidak mau menemaniku main?" Ilyas berusaha mengajak Adam bicara.


"Om, aku punya cerita, tadi teman sekolahku bilang, kalau orang tidur tidak bangun-bangun, artinya dia sedang di bawa oleh setan, apa om juga begitu?"


"Om, om kan sangat pandai, kenapa om tidak melawan setan-setan itu, seperti ini, ciat... ciat..." Ilyas memperagakan gerakan bela diri.


"Hah.. om tidak bangun-bangun juga" Ilyas terlihat kecewa dan meletakkan kepalanya di ranjang tempat Adam terbaring.


Tiba-tiba, Ilyas merasa seseorang sedang menyentuh kepalanya, Ilyas mengangkat kepalanya dan sangat terkejut melihat seseorang yang menyentuhnya itu.


"Hahh..??"


*****


Jam 5 sore.


Tokk.. tokk..


"Assalamualaikum" seseorang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" Laksmi segera mendekati pintu dan membukanya.


"Ah.. hari ini cukup melelahkan" Musa menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamunya.


"Ada apa mas? apa ada anak yang membuat ulah lagi seperti kemarin?" Laksmi menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya kepada Musa.


"Tidak, tapi mereka sangat susah untuk di atur" jawab Musa.


"Hm, sabar ya mas, namanya juga anak-anak, kau seperti belum punya anak saja" Laksmi tersenyum dan duduk di samping Musa.


"Oh iya, ayah dan ibu belum pulang? Mayra juga?" tanya Musa, Laksmi hanya menggeleng.


"Hmm, mereka tidak memberi kabar?"


"Tadi ibu menelepon, katanya sedang berada di rumah bi Anita, kalau Rizal tadi bilang kalau dia akan mengajak Mayra makan malam di rumahnya" jawab Laksmi.


"Jadi kita hanya makan malam bertiga malam ini?" tanya Musa sedikit sedih.


"Kita akan malam ber-empat mas" seseorang menyahut obrolan mereka.


Musa dan Laksmi menoleh ke arah suara itu, mereka sangat terkejut sekaligus bahagia, melihat Adam sedang berdiri di hadapan mereka bersama Ilyas yang menuntunnya.


"Masya Allah, Adam?!" Musa segera menghampiri dan memeluknya, air matanya mengalir bagitu saja.


Begitu juga dengan Adam sendiri, dia memeluk erat Musa dengan tetesan air mata keluar dari sudut matanya.


"Mas, aku sangat merindukan kalian semua" ucap Adam.

__ADS_1


"Tidak hanya kau Dam, semua orang sangat merindukanmu"


Laksmi yang menyaksikan keharuan dua kakak beradik itu ikut menangis sambil memeluk Ilyas yang kini berdiri di sampingnya.


Tidak berapa lama, Adam merasakan kram pada kakinya, tubuhnya gemetaran seperti akan terjatuh.


"Kau baik-baik saja Dam, ayo duduklah" Musa menuntun Adam duduk di sofa.


"Tubuhnya gemetar mas, aku akan mengambil air dan makanan" ucap Laksmi yang langsung berlari ke dapur.


Sementara itu, Musa mencoba memijat kaki Adam yang terasa sangat kaku, setelah setahun hanya berbaring di tempat tidur, tanpa asupan obat bahkan makanan.


"Jangan sentuh kakiku mas, aku tidak enak" ucap Adam.


"Tidak apa-apa Dam, ini adalah kewajibanku sebagai seorang kakak" Musa tersenyum.


Tidak lama kemudian, Laksmi datang membawa nampan berisi makanan dan jus untuk Adam.


"Ini Dam, makanlah, selama ini tubuhmu kekurangan makanan, hanya cairan infus yang masuk kedalam tubuhmu" Laksmi memberikan semangkok sup.


"Terima kasih Laksmi" Adam menerimana sup itu dan memakannya, tapi ketika baru satu suapan, Adam berhenti memakannya dan seketika dia terdiam.


"Kenapa? apakah kau tidak suka? mau aku buatkan makanan lain?" tanya Laksmi.


"Ah, tidak, bukan begitu, hanya lidahku tidak bisa merasakan rasa dari sup ini" Adam tersenyum dan melanjutkan makannya.


"Hm, apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Musa.


"Tidak usah mas, mungkin ini karena aku yang tidak sadar cukup lama, mungkin sebentar lagi akan kembali" Adam tersenyum.


"Kau yakin?" Musa memastikan.


"Iya mas, kau tenang saja, aku akan menghabiskan makanan ini"


Musa dan Laksmi hanya tersenyum mendengar kata-kata Adam.


"Sebaiknya kalian makan juga, mubazir kan banyak makanan tapi tidak di makan" ucap Adam sambil melihat meja makan yang sudah penuh dengan makanan buatan Laksmi.


"Kau ikut dengan kami di meja makan, supaya kau bisa makan lebih banyak makanan bergizi, ayo!" ajak Musa.


"Tidak mas, ini sudah cukup, nanti aku akan makan lagi jika lapar"


"Kau yakin?"


"Iya mas"


"Kau berjanji akan makan lagi?"


"Hm, iya mas, kau jangan khawatir, sekarang lebih baik kau ajak Laksmi dan Ilyas makan, kasihan mereka sudah kelaparan" Adam tersenyum mengejek.


"Hah, dasar, baiklah. Kau tetap disini, jangan kemana-mana, oke"


"Iya mas, tenang saja" Adam menunjukan kedua ibu jari tangannya.


Musa, Laksmi dan Ilyas menuju meja makan, sementara Adam duduk menonton televisi sambil meluruskan kakinya di atas sofa karena masih sedikit kram akibat tidak berjalan-jalan karena koma yang cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2