
Laksmi dan Ilyas bermain bersama di halaman belakang rumah Musa, sementara Musa hanya duduk di kursi yang berada disana sambil tersenyum melihat anak dan calon istrinya tersenyum.
Tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki menghampiri Musa, ternyata Adam yang datang, dia mengirimkan kue buatan ibunya untuk paman dan bibinya.
Musa menyambutnya dengan senyuman, Adam yang tidak tahu kalau Laksmi juga sedang berada disana, duduk tenang di kursi yang sama denga Musa.
"Om.." Ilyas menghampiri Adam.
Adam memeluk Ilyas dan mengeluarkan sebuah cokelat kesukaan Ilyas dari sakunya, Ilyas begitu senang dan melupakan kalau dia sedang bermain petak umpet dengan Laksmi.
Laksmi yang sudah menunggu lama di balik pohon, tiba-tiba muncul dan dia terkejut melihat Adam yang berada disana begitu juga dengan Adam yang terkejut melihat Laksmi.
"Hei, Laksmi, lihat siapa yang datang, kalian belum bertemu kan sejak kalian kembali kesini" ucap Musa masih berpura-pura hilang ingatan.
Adam dan Laksmi hanya tersenyum mendengar ucapan Musa.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Musa tiba-tiba.
"Apa?! Menikah?!" Adam dan Laksmi sangat terkejut.
Musa menganggukan sedikit kepalanya dan tersenyum.
"Iya, menikah, bukankah kalian sudah bertunangan cukup lama?" Musa mencoba tenang dengan kata-katanya itu.
"Mas, kau salah paham, kami tidak punya hubungan apa-apa" ucap Adam mencoba menjelaskan, "kami hanya berteman, benarkan Laksmi?"
Laksmi hanya mengangguk.
"Hmm, benarkah?"
Tiba-tiba ponsel Musa berdering, sebuah panggilan dari Imran terlihat dari layar ponselnya, Musa menjawab telepon itu dan pergi meninggalkan mereka bersama Ilyas.
Laksmi membersihkan mulut Ilyas yang kotor akibat cokelat yang di makannya, Adam mencoba membuka pembicaraan dengan Laksmi.
"Maaf Laksmi, kau jangan salah paham dengan ucapa mas Musa, dia masih belum ingat semuanya"
"Iya, tidak apa-apa mas Adam, aku mengerti, lagipula tidak mungkin kita akan menjelaskan semuanya dengan kondisi mas Musa yang masih belum pulih" Laksmi menatap mata Adam dan tersenyum.
Wajah Laksmi yang cantik dan di hiasi senyuman itu, membuat hati Adam kembali berdebar, dia merasa cintanya kepada Laksmi masih tetap ada seperti dulu.
"Astagfirullahal adzim, Ya Allah, perasaan apa ini, aku tidak seharusnya masih memendam cinta untuk Laksmi" gumam Adam dalam hatinya.
Musa yang menyaksikan kejadian itu merasa semakin yakin kalau Adam masih mencintai Laksmi, tatapan matanya masih menunjukkan betapa tulus rasa cinta itu.
Musa masih tetap bertahan dengan pendiriannya, dia tidak akan mengungkapkan bahwa ingatannya sudah kembali.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau ingatanmu sudah kembali Musa, Laksmi sudah lama menunggumu, pasti hatinya sangat sedih dengan kejadian ini" ibu Musa tiba-tiba berada di belakannya.
"Lihat bu, cinta Adam dan Laksmi sangat murni, mereka harus merelakan cintanya hanya demi aku, aku tidak ingin menjadi duri di antara mereka bu" jawab Musa.
"Itu sudah lama Nak, bukankah kau ingat kalau Adam sudah melepaskan Laksmi untukmu dan itu adalah permintaan terakhir Farida"
"Yang sangat aku sesalkan, kenapa Farida bisa membuat permintaan seperti itu, tapi ini juga salahku, karena aku tidak mengatakan kepada Farida kalau Adam dan Laksmi sudah bertunangan"
__ADS_1
"Sudahlah Nak, mungkin ini takdir dari Allah yang harus kalian jalani, semoga Allah memberi jalan keluar yang baik untuk kalian"
Musa tersenyum dan ibunya pergi meninggalkannya.
Adam melihat Musa yang berdiri di balik pintu dan langsung pergi menghampirinya, dia merasa tidak enak hati jika tetap berada bersama Ilyas dan Laksmi.
"Mas, sudah hampir sore, aku pulang dulu ya?" ucap Adam.
"Kenapa terburu-buru, kau makan dulu disini ya?" Musa mencoba Adam.
"Tidak usah Mas, kebetulan masih ada pekerjaan juga yang harus aku kerjakan"
"Hm.. begitu, baiklah"
Musa mengantar Adam hingga ke pintu depan dan Adam berlalu dengan mobilnya.
Mayra yang melihat Laksmi hanya berdua dengan Ilyas kemudian mendekatinya.
"Kamu ini sebenarnya ingin menjadi istri mas Musa atau Adam?" ucapnya dengan nada kasar.
"Apa maksudmu?" Laksmi balik bertanya.
"Kau tidak usah munafik, kau ini kelihatannya saja baik, tapi nyatanya semua lelaki ingin kau dekati, dasar perempuan m*****n"
Laksmi tetap sabar mendengar hinaan dari Mayra, dia mencoba tenang dan cukup mendengar saja.
"Lihat aku, walaupun tampilanku seperti ini, tapi aku tidak munafik sepertimu, dan aku juga ingin bilang kalau kamu jangan mendekati Adam"
Setelah mengatakan semua itu, Mayra meninggalkan Laksmi dan berlalu begitu saja. Saat hendak ke kamarnya, Mayra melihat ponsel Musa yang berada di atas meja, dia mengambil ponsel itu dan mulai menggeser-geser kontak mencari nomor ponsel Adam.
Musa kembali ke halaman dan melihat Laksmi yang masih berada disana seorang diri dengan wajah yang terlihat sedih.
"Laksmi, kau sendiri? Dimana Ilyas?" mata Musa melihat kesegala arah mencari Ilyas.
"Ilyas sedang ke kamar mandi, sakit perut katanya" jawab Laksmi dengan suara datar.
"Kau kenapa? Apa aku berbuat salah?"
Laksmi menggeleng.
"Apa Adam berkata kasar?"
Laksmi kembali menggeleng.
"Lalu, kenapa? Apakah Mayra?"
"Mas, sudah sore aku harus pulang, aku pamit ya? Assalamualaikum" Laksmi berlalu begitu saja.
Musa merasa heran dengan sikap Laksmi yang tiba-tiba berubah. Dia mulai berfikir apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama..." Ilyas berlari ke halaman.
"Mama sudah pulang sayang, kamu bermain dengan ayah saja ya?"
__ADS_1
"Om?"
"Om juga sudah pulang, ayo kita bermain"
Musa mengajak Ilyas bermain untuk menghiburnya karena mama nya sudah pulang tanpa memberitahunya.
Laksmi kembali kerumahnya dengan wajah yang masih terlihat sedih, bi Mirna datang dan menghampirinya.
"Kamu kenapa pulang dari rumah Musa malah sedih seperti itu? Apa dia menyakitimu?" tanya bi Mirna.
"Tidak bi,"
"Terus kenapa? Makanya kamu putuskan saja hubunganmu dengan Musa, dulu kamu sudah bahagia dengan Adam, malah kamu kembali pada Musa, tapi sekarang malah begini, tidak mungkin kan kamu kembali dengan Adam"
"Bibi bicara apa sih, aku tidak apa-apa, dan ini tidak ada hubungannya dengan mas Musa"
"Alah Laksmi, kamu jangan selalu membela Musa, kalau kamu putus dengannya lebih baik kamu tunangan dengan Rizal"
Laksmi terkejut dengan ucapan bibinya.
"Bibi ini bicara apa? kenapa bibi mengaitkan ini dengan Rizal, aku dan Rizal hanya teman, dia kakak dari temanku saat di pesantren"
"Ya tidak masalah, lebih baik Rizal, masa depannya sudah jelas, dia juga tidak kalah ganteng dari Musa, dia juga sama lulusan dari pesantren kiayi Munawir"
Setelah mengatakan itu semua, bi Mirna pergi meninggalkan Laksmi, bukannya menghibur keponakannya itu, bi Mirna malah semakin membuat hati Laksmi gusar.
"Ya Allah, kenapa bibi sekarang berubah seperti itu, apa yang membuat sikapnya jadi kasar".
Esoknya Musa berangkat kesekolah, tidak sengaja saat dalam perjalanan mobilnya hampir menabrak motor yang lewat di sampingnya.
"Astagfirullah" Musa mengerem mendadak.
"Maaf mas, aku tidak sengaja" ucap Musa yang keluar dari mobilnya.
"Tidak apa-apa Mas, aku juga salah karena tidak melihat jalan tadi"
Musa melihat pria itu, sepertinya wajah itu pernah di lihatnya, tapi dimana?
"Kau mau kemana? biar aku antar, biar motormu nanti aku panggilkan montir untuk di bawa ke bengkel?"
"Aku akan pergi kekantor, sebentar lagi sampai"
"Oh, kebetulan kita searah, mari aku akan mengantarmu".
Musa dan pria itu masuk kedalam mobil, Musa melajukan mobilnya menuju kantor pria itu.
"Nama saya Musa mas, kamu siapa?" tanya Musa di tengah perjalanan.
"Saya Rizal,"
"Oh, sepertinya kamu orang baru ya di desa ini? dimana rumahmu?"
"Aku tinggal di samping rumah pak Lurah"
__ADS_1
Musa dan Rizal saling bicara hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.