Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 34


__ADS_3

Laksmi menyalakan mesin motornya dan berangkat kesekolah, Laksmi masuk kedalam gerbang sekolah dan memarkir motornya.


Disekolah suasana tampak lengang, semua murid sudah masuk kedalam kelas masing-masing.


"Wahh kita terlambat, ini semua gara-gara kamu Lif, kamu selalu bangun kesiangan" ucap Balqis.


Mereka berlari menuju kelas dan meninggalkan Laksmi yang masih berada di tempat parkir. Laskmi masuk kedalam ruang guru, semua orang sudah menunggu kehadiran Lakmsi.


"Laksmi, duduklah" pinta ustadz Fadlan


Laksmi duduk di kursi yang sudah di sediakan, semua langsung memulai rapat penting yang mendadak itu.


"Sebenarnya ada apa kita mengadakan rapat mendadak seperti ini?" tanya Laksmi.


"Begini Laksmi, sebenarnya di pesantren milik Kiayi Munawir, sedang membutuhkan tenaga pengajar, karena ustadzah Ainun sudah tidak mengajar lagi?" jawab ustadz Fadlan.


"Lho.. memang kenapa ustadzah Ainun tidak mengajar lagi?"


"Dia sudah pindah rumah keluar kota, bersama suaminya"


Laksmi mengangguk mencoba memahami posisi ustadzah Ainun.


"Dan.. Kami ingin kamu yang berangkat ke pesantren" lanjut ustadz Fadlan.


Laksmi merasa terkejut dengan ucapan ustadz Fadlan, di saat seperti ini kenapa dia malah mau mengirimnya ke pesantren.


"Tapi Ustadz, kenapa harus saya?" tanya Laksmi.


"Karena cuma kamu satu-satunya yang belum menikah di antara kami, jadi kamu akan bisa lebih fokus mengajar disana" ucap ustadzah Nadia, salah satu guru disekolah itu.


"Bagaimana Laksmi? Kau mau kan?" lanjutnya.


"Apa aku bisa memikirkan ini dulu, karena ini sangat mendadak buatku" jawab Laksmi.


"Baiklah, kami tunggu jawabanmu sampai lusa ya" ucap ustadzah Nadia.


Laksmi menggangguk.


Setelah rapat selesai, Laksmi masuk kedalam kelas untuk mulai memberi materi kepada murid-muridnya, Laksmi masih bingung apa keputusan yang harus dia ambil.


"Mungkin aku akan bicara lagi dengan ustadz Fadlan dan bibi nanti setelah kembali dari sekolah" gumam Laksmi.


Sementara dirumah, Musa belum melakukan aktifitas seperti biasanya, dia masih harus banyak-banyak istirahat. Musa duduk di halaman belakang rumahnya, dengan membaca buku kesukaannya tentang kehidupan pada zaman Nabi terdahulu.


Duk... duk... duk...


Ilyas berlari kesana kemari di tempat dimana Musa sedang duduk, Musa menutup bukunya dan mulai memperhatikan tingkah polah bocah kecil itu, ibu Musa datang membawa obat untuknya dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Ibu, sebenarnya dimana istriku, Farida" Musa menatap ibunya dan meletakkan gelas kosong diatas meja.


"Farida sudah pergi" jawab ibunya singkat.


"Pergi? Maksud ibu?" Musa semakin bertanya.


"Dia sudah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi" ibu Musa mulai meneteskan air mJadi,


Musa terlihat semakin bingung, dia semakin bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan ibunya. Sementara ibu Musa pergi menuju dapur.


Sementara Laksmi yang sudah selesai mengajar kembali ke rumahnya dan membicarakan hasil rapat pagi tadi kepada paman dan bibinya.


"Kalau itu semua sudah di setujui semua pihak, ya kamu berangkat saja, bukannya kamu dari dulu memang ingin mengajar di pesantren?" ucap bi Mirna.


"Tapi bi, bagaimana dengan Ilyas, aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian?" jawab Laksmi.


"Ilyas kan punya orang tua, punya nenek, punya kakek, kenapa kamu memikirkan anak yang bukan anakmu?" jawab bi Mirna ketus.


Laksmi merasa terkejut dengan ucapan bibinya, kenapa sikapnya jadi seperti itu, padahal sebelumnya bi Mirna sangat sayang kepada Ilyas, bahkan bi Mirna memintanya menjaga Ilyas seperti anaknya sendiri.


Setelah mengucapkan itu, bi Mirna pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya.


"Paman, kenapa bibi bicara begitu?" tanya Laksmi kepada paman Adi.


"Paman juga bingung Mi, biar nanti paman cari tahu ya" paman Adi mencoba menenangkan Laksmi.


"Dam, kamu tidak mau melanjutkan S3 kamu disini?" tanya seorang pengajar di kampus Adam, bernama Ustadz Mustofa.


"Aku ingin ustadz, tapi untuk sementara aku ingin kembali ke Indonesia, aku rindu keluarga disana" jawab Adam.


"Hmm.. baiklah kalau begitu, aku harap kamu akan segera kembali kesini ya"


"Iya ustadz"


Ustadz Mustofa memberikan berkas bukti nilai ujian Adam, nilai yang didapat Adam terbilang cukup baik, hingga membuat ustadz Mustofa pun kagum kepadanya.


"Jadi, kapan kamu akan berangkat ke Indonesia?" tanya ustadz Mustofa.


"Mungkin akhir pekan nanti Ustadz" jawab Adam.


"Ya sudah, hati-hati ya"


"Baik ustadz, kalau begitu aku permisi dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Adam keluar dari ruangan ustadz Mustofa dan kembali ke asrama dimana tempatnya tinggal.

__ADS_1


Adam menelepon kedua orang tuanya, dia memberi kabar akan kepulangannya akhir pekan nanti, kedua orang tua Adam sangat senang, anak semata wayang mereka akan kembali berkumpul.


Esoknya, bi Mirna pulang dari pasar, dia berjalan kaki ke jalan besar untuk mencari angkutan umum. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekatnya, pengendara motor itu membuka helm nya dan bi Mirna tersenyum melihat laki-laki yang masih cukup muda itu.


"Ayo bi, biar saya antar" ucap pemuda itu, yang tidak lain adalah Rizal, kakak Zahra.


"Iya.. iya.." bi Mirna naik ke atas motor Rizal.


Bi Mirna ternyata sudah sering bertemu dengan Rizal, tapi bi Mirna tidak pernah mengatakannya kepada siapapun bahkan kepada suaminya sendiri.


"Bi, bagaimana kabar Laksmi?" tanya Rizal dalam perjalanan.


"Baik, dia bahkan semakin cantik sekarang, dia juga sudah menjadi guru" jawab bi Mirna yang masih berboncengan dengan Rizal.


"Benarkah? Hmm.. aku jadi ingin bertemu dengannya"


"Temui saja, bibi tidak keberatan"


"Iya bi, nanti aku temui dia, tapi tidak sekarang"


"Baiklah, bibi tunggu ya?"


"Iya bi"


Mereka sudah sampai dirumah, Rizal menghentikan motornya didepan pagar rumah dan berpamitan kepada bi Mirna. Paman Adi melihat bi Mirna turun dari motor itu, dan mulai bertanya-tanya siapa lelaki yang membonceng istrinya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, kamu di bonceng siapa bu?" tanya paman Adi.


"Ohh.. itu Rizal"


"Rizal? Rizal siapa? Apa dia orang baru di kampung kita?"


"Dia itu teman lamanya Laksmi, dia menyewa rumah di samping rumah pak Lurah"


"Kok kamu kenal dia?"


"Iya kenal lah pak, dia itu baik lho pak orangnya, sudahlah ibu mau masak" bi Mirna pergi meninggalkan suaminya yang masih duduk di teras.


"Rizal? teman Laksmi? kenapa Laksmi tidak pernah cerita tentang pemuda itu?" gumam paman Adi.


Hari ini Laksmi mengajar ke sekolah, dia sudah menyetujui untuk keberangkatannya ke pesantren, dia berpamitan kepada semua orang dan kepada murid-muridnya.


"Paman, apa boleh aku bertemu Ilyas sebelum aku berangkat besok?" tanya Laksmi.


"Tentu saja boleh, kamu datang saja kerumah, pasti Ilyas akan sangat senang" jawab ustadz Fadlan.

__ADS_1


Laksmi tersenyum, dia tidak sabar untuk bertemu Ilyas, karena sudah beberapa hari ini Laksmi sibuk mengurus urusan di sekolah.


__ADS_2