Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 37


__ADS_3

"Ya Allah Musa, kenapa bisa sampai begini, pak Min tolong bantu saya membawa Musa kedalam!" teriak ustadz Fadlan memanggil sopir pribadinya.


Pak Min dan ustadz Fadlan segera mengangkat tubuh Musa dan membaringkannya di sofa ruang keluarga.


"Bi Tuti, tolong ambilkan air!" teriak ibu Musa.


Bi Tuti datang membawa segelas air, tangannya gemetar karena di selimuti rasa takut, melihat hal itu ibu Musa mulai bertanya.


"Bi Tuti, bibi sakit?" tanya ibu Musa. Bi Tuti hanya menggelengkan kepala.


"Lalu kenapa tangan bi Tuti gemetar begitu, bi Tuti belum makan?"


Bi Tuti kembali menggeleng.


Tak berapa lama Musa tersadar dari pingsannya, dan menatap semua orang yang berada di depannya.


"Aku kenapa?" tanya Musa.


"Justru kami yang seharusnya bertanya, kenapa kamu sampai pingsan seperti itu?" ustadz Fadlan balik bertanya.


"Aku.." Musa menghentikan ucapannya dan kembali mengingat setiap kata yang di ucapkan bi Tuti di halaman tadi.


"Bu, kenapa kalian tidak jujur kepadaku, kalau sebenarnya Farida sudah meninggal dan Ilyas adalah anakku?" ucap Musa.


Ustadz Fadlan dan istrinya merasa terkejut, darimana Musa bisa tahu tentang semua ini, apakah ingatannya sudah kembali?.


"Siapa yang berkata begitu Musa, apakah kau sudah ingat semuanya?" tanya ustadz Fadlan.


"Aku belum ingat semuanya, tapi jika bi Tuti tidak mengatakan semua itu, mungkin kalian akan terus membohongiku" jawab Musa.


Semua orang menatap bi Tuti yang masih berdiri dengan sekujur tubuh yang masih gemetar.


"Maafkan saya pak, bu, saya tidak bermaksud untuk mengatakan semua itu" bi Tuti bersimpuh di kaki ustadz Fadlan dan istrinya.


"Jangan lakukan itu bi, aku malah sangat bersyukur karena ada yang bisa bicara jujur kepadaku, kalau bibi tidak mengatakan itu aku tidak mungkin tahu kebenarannya, dan mungkin aku akan hidup dalam kebohongan" ucap Musa kesal dan meninggalkan mereka semua.


Ustadz Fadlan dan istrinya menatap kepergian Musa, bi Tuti yang masih duduk bersimpuh, hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Bangunlah bi, aku tidak marah kepada bibi, bibi jangan takut, ayo bangunlah" ibu Musa membantu bi Tuti untuk bangun.


"Sekarang kalian semua kembalilah ke tempat masing-masing" lanjut ibu Musa.


Bi Tuti, pak Min, dan yang lainnya kembali keposisi masing-masing dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


Ibu Musa masuk kekamar Musa, dia melihat putranya itu sedang berdiri menatap keluar jendela, ibu Musa mencoba mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Musa, maafkan ibu, ibu dan ayah tidak bermaksud untuk membohongimu, hanya waktu saja yang belum tepat untuk kami mengatakannya"


"Lalu, kapan waktu yang tepat? Apakah saat Ilyas sudah tumbuh dewasa? Apakah saat Laksmi sudah benar-benar sakit hatinya?" Musa menjawab dengan mata masih menatap keluar jendela.


"Bukan begitu Nak, ibu hanya menuruti ucapan dokter Fahri, kalau kau memaksa mengingat masa lalumu, itu akan sangat berbahaya buatmu"


"Bu, aku mengerti apa yang ibu maksud, tapi bukankah ibu bisa membantuku sedikit demi sedikit" Musa menatap ibunya.


"Iya Musa, maafkan ibu"


"Maafkan aku juga bu, karena sudah berkata kasar kepada ibu, tapi percayalah kepada Allah bu, kalau aku baik-baik saja"


"Iya Nak, ibu memang sempat egois dan tidak percaya kepada kehendak Allah" ibu Musa meneteskan air mata.


"Jangan menangis bu, sekarang ceritakanlah semua tentang masa laluku, Insya Allah aku akan kuat" Musa memeluk ibunya.


Ibu Musa mulai menceritakan semuanya satu persatu, dan Musa mendengarkan dengan tenang.


Sementara, Laksmi yang masih dalam perjalanan menuju pesantren hanya berdiam diri tanpa ada obrolan antara dirinya dan Rizal.


"Laksmi, kenapa kamu diam saja?" Rizal mulai membuka suara.


"Oh iya, Maaf. Sebenarnya aku hanya tidak enak saja berdua didalam mobil ini" jawab Laksmi.


Laksmi mengeryitkan dahinya merasa tidak mengerti dengan maksud Rizal.


Rizal tersenyum dan melirik ke kursi bagian belakang, Laksmi ikut melirik, dan disana terlihat seekor kucing dengan hidung pesek sedang menjilati bulu-bulunya yang halus.


"Kucing?" Laksmi terkejut dan mengambil kucing itu, kini kucing bernama Loly itu sudah berada di pangkuannya.


"Lucu sekali.." Laksmi mengelus bulu halus Loly.


"Kamu suka?" tanya Rizal.


"Iya, aku suka sekali"


"Saat kau kembali dari pesantren nanti, aku akan menyerahkannya padamu"


"Benarkah?"


Rizal menganggukan kepala sembari tersenyum, dia sangat senang bisa membuat gadis pujaannya itu tidak cemberut lagi.


Setelah dua jam perjalanan, akhirnya Laksmi dan Rizal sampai di pesantren, Rizal memarkirkan mobilnya di halaman pesantren yang kini sudah semakin luas karena renovasi setahun yang lalu.


Laksmi turun dari mobil dan langsung menuju bagasi untuk mengambil barang-barangnya.

__ADS_1


"Biar aku saja Laksmi, barangmu cukup berat jika kau angkat sendiri" Rizal mengeluarkan koper dari dalam bagasi dan membawanya menuju ruangan kiayi Munawir.


"Assalamualaikum" ucap Laksmi dan Rizal.


"Waalaikumsalam" jawab Kiayi Munawir di barengi dengan jawaban semua pengajar.


"Laksmi, silahkan masuk, kami sudah menunggumu" sambut kiayi Munawir.


Laksmi bersalaman kepada semua orang dan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Rizal pun ikut duduk, Kiayi Munawir menyipitkan matanya dan sedikit menurunkan kacamatanya saat melihat Rizal.


"Kamu.." ucap Pak kiayi.


"Saya Rizal pak Kiayi, masa pak Kiayi lupa" Rizal tersenyum.


"Oh.. iya, saya ingat, apa kabar kamu? kok kamu bisa bersama Laksmi?" tanya pak Kiayi.


"Kebetulan saya kenal dengan bibinya Laksmi, karena paman Laksmi sakit, maka saya yang mengantar Laksmi" jawab Rizal sedikit menjelaskan.


"Oh iya-iya" pak Kiayi manggut-manggut.


Laksmi hanya tersenyum dan mulai berbincang dengan semua guru pengajar disana, sementara Rizal di minta kiayi Munawir untuk ikut dengannya berkeliling pesantren.


"Kamu belum menikah Zal?" tanya pak Kiayi.


"Belum kiayi, siapa yang mau dengan orang seperti saya" Rizal tersenyum malu.


"Siapa bilang, kamu kan ganteng, sudah punya pekerjaan, pasti banyak yang mau, atau mau saya jodohkan dengan salah satu pengajar disini?" ucap pak Kiayi sedikit meledek.


"Ah.. tidak usah pak Kiayi, saya bisa cari sendiri hihi"


"Hmm.. jangan-jangan kamu suka sama Laksmi ya?"


Rizal membelalakan matanya karena terkejut dengan ucapan pak Kiayi, yang tahu isi hatinya.


"Ah.. sudahlah, anak muda jaman sekarang mana mau di jodohkan"


Rizal tersenyum dan mereka pun melanjutkan perjalanan.


Hari sudah sore, Rizal berpamitan kepada semua orang dan menitipkan Laksmi, seolah-olah Laksmi adalah istrinya.


Semua orang tersenyum mendengar perhatian Rizal yang di ungkapkannya secara terang-terangan, sementara Laksmi merasa sedikit malu, kenapa Rizal bisa perhatian begitu kepadanya.


Rizal pergi ke halaman pesantren dan masuk kedalam mobilnya, dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan pesantren juga meninggalkan Laksmi.

__ADS_1


__ADS_2