Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 48


__ADS_3

Hari ini hari pertama pernikahan Musa dan Laksmi, Musa cuti dari sekolah untuk beberapa hari.


Laksmi yang sudah turun ke lantai bawah terlebih dahulu, segera menyiapkan sarapan untuk semua orang.


"Mba, masak apa?" tanya Mayra yang tiba-tiba masuk ke dapur.


"Eh Mayra, aku masak sop daging dan ikan goreng, aku tidak tahu apakah semua akan suka" Laksmi terlihat ragu dengan masakannya.


"Hmm.. baunya harum, pasti semua menyukainya" Mayra tersenyum.


Kini Laksmi lebih percaya diri untuk menyajikan makanan itu.


Beberapa menit kemudian, semua orang turun ke lantai bawah dan duduk di meja makan, kedua orang tua Musa memuji masakan Laksmi yang lezat.


*****


"Dam, kamu benar akan kembali ke kairo?" tanya ibunya.


"Iya bu, Adam kan harus melanjutkan kuliah S3 Adam"


"Apa kamu tega meninggalkan ibu sendiri lagi?"


Adam memegang kedua bahu ibunya dan menatapnya mencoba meyakinkan.


"Bu, kan masih ada ayah, ibu pasti tidak kesepian, hmm kenapa ibu dulu tidak memberi Adam adik, seperti mas Musa mempunyai Mayra?"


"Hmm, ibu saja susah untuk mendapatkan kamu, bagaimana ibu bisa memikirkan adik untukmu"


"Haha.. iya bu, Adam mengerti, sudahlah ibu jangan sedih ya?" Adam memeluk ibunya.


"Bisakah saat kamu kembali nanti, kamu membawakan calon menantu untuk ibu dan ayah?"


Mendengar permintaan ibunya, Adam merasa sangat terkejut.


"Insya Allah ya Bu, Adam masih belum siap menikah untuk saat ini"


"Kenapa? apakah karena cinta pertamamu kandas?"


"Ah.. ibu, bukan karena itu, Adam hanya tidak ingin mencari gadis sembarangan untuk di jadikan menantu ibu"


"Lalu, kamu ingin istri yang bagaimana?"


"Adam ingin mencari gadis yang tidak hanya mencintai Adam, tapi juga bisa mencintai ibu dan ayah"


Ibu Adam terharu mendengar jawaban putra semata wayangnya itu, dan memeluknya dengan erat.


Tiba-tiba..


"Wah.. wah.. ada drama apa ini?" ucap ayah Adam.


"eh, ayah. Tidak ada apa-apa, ibu cuma kangen saja sama anak paling tampannya ini haha" Adam sedikit menyombongkan diri.


"Haha.. bisa saja kamu, baiklah ayo sarapan"


"ayok.."


Mereka keluar dari kamar Adam dan menikmati sarapannya.


*****


Siang hari..


Tokk.. tokk..


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Laksmi segera membuka pintu.


"Rizal, mari masuk, mas Musa sudah menunggu" ucap Laksmi.


Rizal masuk ke ruang tamu dan Musa menyambutnya dengan senang hati.

__ADS_1


"Selamat ya Musa, atas pernikahan kalian, maaf kemarin aku tidak bisa hadir" ucap Rizal.


"Terima kasih Zal, tidak apa-apa, aku mengerti, seorang pengusaha sepertimu pasti sangat sibuk" Musa tersenyum.


"Ahh.. bisa saja, aku cuma pegawai biasa"


"Pegawai untukmu sendiri kan?"


Semua orang tersenyum melihat keakraban mereka.


*****


Mayra keluar dari kamarnya, Rizal yang melihatnya merasa terpesona, Mayra sangat cantik dengan balutan busana muslimah.


Laksmi yang melihat hal itu, segera menyadarkan Rizal dari tatapannya.


"Ehmm"


Rizal tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ustadz Fadlan dan Bu Fatma yang melihat hal itu hanya tersenyum.


"Zal, kapan kamu akan menyusul?" tanya bu Fatma basa basi.


"Menyusul kemana bi?" Rizal tidak faham.


"Menyusul ke pelaminan"


"Ah.. nanti saja bi, Rizal masih harus mengurus pekerjaan abi"


"Hm.. Zal, maafkan sikap Mayra dulu ya, seharusnya Mayra tidak melakukan hal itu kepadamu, tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena waktu itu kami kehilangan jejak" ucap Ustadz Fadlan.


"Tidak apa-apa paman, aku mengerti, mungkin saat itu Mayra belum siap untuk menikah" Rizal sedikit mengingat kenangan pahit itu.


"Kau baik sekali nak, semoga Allah memberimu jodoh yang baik"


"Aamiin"


*****


Dalam perjalanan, Rizal masih teringat wajah cantik Mayra.


"Kenapa kamu dulu menolakku sebelum bertatapan May, apakah aku ini begitu buruk untukmu? apa mungkin kau sudah punya pilihan sendiri saat itu?" gumam Rizal.


"Ah.. ya ampun, kenapa aku mengingat masa lalu, mungkin dia bukan jodohku, sudahlah" Rizal kembali fokus pada jalan yang ada di depannya.


Rumah Musa.


"Yah, kenapa kita menjodohkan lagi saja Mayra dan Rizal?" ucap bu Fatma.


"Ah ibu ada-ada saja, ayah sudah cukup malu bila ingat kejadian waktu itu"


"Tapi Rizal itu anak baik yah, mungkin dia akan bisa membimbing Mayra"


"Ayah tahu bu, tapi apa Mayra mau di jodohkan dengannya lagi? ayah takut kejadian itu akan terulang lagi"


"Daripada dia terus mengejar-ngejar Adam yah?"


"Maksud ibu apa?" Ustadz Fadlan terkejut dengan ucapan istrinya itu.


"Yah, Mayra kemarin meminta ibu menikahkan dia dengan Adam"


"Astagfirullah, jangan bu jangan"


"Makanya itu yah, kita harus cepat mencarikan jodoh untuknya"


Mereka berdua kembali berfikir apakah harus menjodohkan Mayra dan Rizal lagi.


*****


Esoknya.


"Adam pamit ya bu, jaga diri ayah dan ibu, jangan sampai sakit" ucap Adam berpamitan.

__ADS_1


"Kamu juga hati-hati nak, jangan kelelahan, jangan terlalu pusing dengan pekerjaanmu"


"Iya ayah, Adam pamit ya"


Adam masuk ke dalam mobilnya dengan di antar sopir menuju bandara, Dalam perjalanan Adam hanya melamun melihat keluar jendela mobilnya, lagi-lagi dia harus meninggalkan kedua orang tuanya.


Adam sudah sampai di bandara, ketika Adam akan masuk, tiba-tiba...


Brukk...


Seseorang memeluknya dari belakang, Adam terkejut dan segera melepas pelukan itu.


"Tidak sopan sekali kau, beraninya memelukku seperti itu" Adam sangat marah.


Tapi kemarahannya hilang saat dia melihat siapa yang memeluknya.


"Mayra? sedang apa kamu disini?"


"Dam, jangan pergi ya, kalau kamu pergi bawalah aku juga" jawab Mayra.


"Mayra, aku ke Kairo untuk belajar, bukan untuk traveling" ucap Adam.


"Aku tahu, tapi bawalah aku, aku mencintaimu"


Adam sangat terkejut mendengar pengakuan Mayra, dia segera mundur menghindari Mayra.


"Dam, kenapa?"


"Aku harus pergi"


Adam segera masuk ke bandara dengan terburu-buru, dia tidak ingin sampai Mayra menghalanginya lagi.


"Adaaaammmm" Mayra berteriak.


Tapi teriakannya itu tidak berguna, karena Adam sudah masuk ke dalam pesawat dan akan segera lepas landas.


Adam menyandarkan kepalanya di kursi pesawat.


Brukk...


Sebuah tas jatuh di pangkuan Adam, seorang wanita hendak duduk di kursi di sebelah Adam.


"Oh, maaf. Aku tidak sengaja, maaf ya"


Adam mengembalikan tas itu, wanita itu mengangkat tasnya mencoba meletakkannya di tempat yang seharusnya, tapi dia tidak sampai.


"Biar aku bantu" Adam bangun dari duduknya dan meletakkan tas wanita itu.


"Terima kasih" wanita itu tersenyum dan Adam membalas senyumannya.


"Namaku Rayya, Kamu siapa?" wanita itu memperkenalkan diri dan menadahkan tangan.


Adam yang melihat hal itu, hanya menyatukan kedua tangannya, dia tidak ingin bersentuhan dengan wanita yang bukan mahromnya.


"Oh.. maaf" ucap Rayya.


"Aku Adam" Adam membuka suara.


Wanita tersenyum mendengar Adam yang mau menjawab pertanyaannya.


"Kau, mau ke Kairo?" tanya Rayya.


"Iya" jawab Adam datar.


"Kau mau belajar, atau bekerja?" tanya Rayya lagi.


Ahh


wanita ini cerewet sekali


padahal aku malas menjawabnya. Gumam Adam.


Rayya terus saja mengajukan pertanyaan seperti seorang wartawan, walaupun tidak ada jawaban dari Adam, tapi dia tetap bertanya macam-macam, membuat Adam merasa terganggu.

__ADS_1


__ADS_2