Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 33


__ADS_3

Laksmi sudah sampai dirumah, Laksmi bercerita tentang keadaan Musa kepada paman dan bibinya, mereka merasa terkejut mendengar penuturan Laksmi kalau Musa juga melupakan Ilyas, putranya sendiri.


Hari sudah pagi, Musa sudah bangun dari tidurnya semenjak pukul 04.00 pagi, Musa melaksanakan sholat subuh dan kemudian mengaji. Mendengar suara ayahnya, Ilyas terbangun dan duduk di samping Musa sambil ikut menyimak ayat-ayat yang dilantunkan Musa.


Musa sudah menghentikan bacaan Qur'an nya, dia melihat kesamping dan tampak Ilyas yang menadahkan tangan seraya meminta untuk bersalaman, Musa menerima uluran tangan mungil itu, Ilyas mencium punggung tangan ayahnya dengan lembut, Musa mengusap kepala Ilyas dan tersenyum kepadanya.


"Ayah..." ucap Ilyas yang langsung memeluk Musa.


Musa masih merasa heran, tapi dia tidak ingim membuat hati bocah kecil itu bersedih, Musa membalas pelukan Ilyas, dalam ingatannya sekilas terlintas dia sedang menimang sosok bayi mungil, tapi wajah bayi itu tidak nampak jelas.


Ilyas melepaskan pelukannya dan kembali keluar dari kamar Musa, Musa yang masih terlihat bingung semakin bertanya-tanya, siapa sebenarnya sosok bayi mungil yang ada dalam ingatannya? Apakah itu anaknya dengan Farida?


Sudah pukul 7 pagi, Musa keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan untuk sarapan, disana sudah duduk Ustadz Fadlan dan istri serta Ilyas yang sudah menanti kedatangan Musa.


"Musa, Ayo duduk Nak, kita sarapan bersama, ibu sudah membuat masakan kesukaanmu" ucap ibunya.


Musa duduk di kursi yang masih kosong yang berada disamping kursi Ilyas, Ilyas terlihat sangat lahap memakan makanan itu. Musa tersenyum dengan tingkah bocah berusia 2 tahun itu.

__ADS_1


"Bu, dimana Farida?, kenapa dia tidak terlihat sejak aku kembali dari rumah sakit?" tanya Musa ditengah sarapannya.


Ibu dan Ayah Musa saling menatap, mereka bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Musa.


"Emm.. Farida.. Dia.." ibu Musa nampak gugup.


"Jawablah ayah, ibu! Lalu tadi pagi terlintas di fikiranku sosok bayi mungil yang sedang ku gendong, siapa bayi itu, apakah dia bayiku dan Farida? Lalu dimana dia?" Musa melimpahkan banyak pertanyaan kepada orang tuanya.


Dertt... dertt...


Ponsel ustadz Fadlan bergetar, dia mengambil ponselnya yang berada di atas meja, dan menjawab panggilan itu, itu telepon dari salah satu guru di sekolah Musa.


"Tapi kau belum selesai sarapan?" ucap istrinya.


"Tidak apa-apa, aku akan sarapan di kantin sekolah, aku pergi ya, Asslamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab mereka berbarengan.

__ADS_1


"Ibu, ibu belum menjawab pertanyaanku?" lanjut Musa setelah ayahnya pergi.


"Ibu..." ibu Musa kembali gugup.


"Nek.." ucap Ilyas. Dia menunjukkan jari kelingkingnya menandakan dia ingin ke kamar mandi.


"Baiklah, Ayo nenek antar"


Ibu Musa pergi mengantar Ilyas ke toilet tanpa menjawab pertanyaan Musa. Musa tidak mengerti mengapa semua orang bersikap aneh seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Musa melanjutkan sarapannya, dia berfikir akan bertanya lagi nanti, atau mungkin akan mencari tahu sendiri kebenarannya.


Sementara Laksmi dirumahnya sedang bersiap untuk mengantar Balqis dan Alif kesekolah.


"Bi, bibi tidak kerumah Ilyas?" ucap Balqis.


"Iya bi, ajak Ilyas kesini" sahut Alif.

__ADS_1


"Iya sayang, nanti bibi akan mengajak Ilyas setelah bibi selesaikan tugas di sekolah ya" ucap Laksmi.


Laksmi kini menjadi guru di sekolah Musa, Laksmi mengajar pelajaran agama menggantikan Imran yang sedang pulang kampung.


__ADS_2