Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 51


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


Belum sampai mereka ke ruang UGD, mereka melihat dokter dan para perawat berlarian menuju ke ruangan itu.


Mereka semakin khawatir dan ikut berlari mengejar mereka. Tepat di depan pintu ruangan, terlihat Rayya yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Rayya, ada apa?" tanya Ilham.


"Mas Ilham, Adam.." Rayya menghentikan kata-katanya.


"Ada apa dengan Adam?" Musa segera mendekati Rayya.


Rayya sedikit terkejut dengan kedatangan Musa, dia menatap Musa dengan heran.


"Aku kakaknya Adam" ucap Musa seolah tahu kebingungan yang ada di mata Rayya.


"Adam tiba-tiba kritis" ucap Rayya.


Semua keluarga merasa sangat terkejut, bahkan bi Anita kembali jatuh pingsan hingga harus mendapat perawatan.


Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang UGD, semua orang langsung mendekatinya dan bertanya-tanya tentang kondisi Adam.


"Bagaimana kondisi Adam dok? apa yang terjadi? apa dia baik-baik saja?" tanya Musa.


"Adam saat ini masih mengalami kritis, dia banyak kehilangan darah akibat benturan yang terjadi di kepalanya" jawab dokter Fahmi.


Derrtt... derrtt..


Ponsel dokter Fahmi bergetar, dia segera menjawab panggilan itu.


"Hallo, bagaimana?" ucap dokter Fahmi.


Maaf dok, kami tidak bisa menemukan darah yang cocok untuk pasien Adam, stok darah di semua tempat sedang kosong.


"Apa kau sudah meminta ke rumah sakit lain?"


Sudah dok, tapi hasilnya tetap nihil.


"Baiklah, terima kasih" dokter Fahmi menutup teleponnya.


"Ada apa dok?" tanya ustadz Fadlan saat melihat wajah khawatir dokter Fahmi.


"Maaf, kami kekurangan stok darah untuk Adam, apa mungkin darah kalian ada yang cocok untuk pasien?" jawab dokter Fahmi.


"Darahku saja dok" ucap Laksmi.


"Apa golongan darahmu?"


"A dok"


"Tapi darah Adam B+, apa mungkin kalian ada yang memiliki golongan darah yang sama?"


"Biar aku saja dok, aku ibu kandungnya" ucap bu Fatma.


"Tapi sepertinya ibu terlihat sedang tidak sehat"


"Kalau begitu kita semua harus memeriksa golongan darah masing-masing, aku tidak ingin kalau Adam akan terlambat untuk di tangani" ucap ustadz Fadlan.


*****

__ADS_1


Semua orang pergi menuju ruang pemeriksaan, sampai akhirnya darah Musa lah yang benar-benar cocok untuk Adam.


Dokter segera melakukan tindakan, Adam sudah tidak mengalami pendarahan lagi, tapi kondisinya masih sama.


"Ya Allah, sembuhkanlah anakku" ucap bu Fatma yang berada di pelukan suaminya.


Allahu akbar Allahu akbar


Allahu akbar Allahu akbar


Suara adzan berkumandang, tibalah waktu sholat ashar waktu Kairo.


Mereka segera pergi ke mushola yang ada di rumah sakit, mereka bersama-sama berdoa untuk kesembuhan Adam.


*****


Seminggu sudah mereka berada di Kairo, tapi Adam masih belum sadarkan diri sejak kecelakaan itu, semua keluarga semakin khawatir.


Dokter Fahmi mengatakan kalau Adam sekarang koma, kesembuhannya hanya bergantung atas izin Allah.


Satu bulan sudah berlalu...


Tiga bulan dilalui...


Hingga sekarang sudah masuk 6 bulan, tapi semua tidak ada hasil apa-apa.


"Dok, kami sekeluarga sudah memutuskan, akan membawa Adam pulang ke Indonesia" ucap Musa yang berada di ruangan dokter Fahmi.


"Apa anda yakin tuan?" tanya dokter Fahmi.


"Insya Allah dok, kalau memang Adam harus seperti ini keadaannya, biarlah kami menjaganya disana"


"Tidak dok, jangan meminta maaf, kami tahu kau sudah berusaha sebaik mungkin, saya benar-benar mengucapkan terima kasih" jawab Musa.


Mereka bersalaman, dan dokter Fahmi segera mengurus kepulangan Adam.


*****


Tiga hari kemudian, mereka sudah berada di Indonesia, Adam hanya di rawat di rumah agar selalu dekat dengan keluarga.


Musa meminta dokter terbaik untuk selalu memantau keadaan Adam, walaupun dengan biaya yang sangat besar, itu tidak masalah untuknya, karena baginya kesembuhan Adam lah yang terpenting saat ini.


"Mas Adam, cepat sembuh ya, aku janji akan menjadi adik yang baik untukmu" ucap Mayra yang duduk di kursi di kamar Adam.


"Mayra, kau makanlah dulu, kau jangan sampai sakit" Laksmi mendekatinya.


"Nanti saja mba, Mayra belum lapar"


"Sudah tiga hari kau belum makan Mayra, apa kau ingin saat Adam sadar, kau malah sedang sakit?"


Mayra sedikit berfikir, dan menuruti permintaan Laksmi.


Mayra turun ke lantai utama dan makan makanan yang sudah di sajikan.


"Dam, bangunlah, apa kau tidak ingin bercanda denganku lagi, lihat keponakanmu sudah besar sekarang" ucap Musa yang bergantian menjaga Adam.


Musa meneteskan air mata, dia mengingat momen-momen bahagia saat selalu bersama Adam.


Adam yang masih terbaring tidak sadar, ikut meneteskan air mata dari sudut matanya, walaupun tubuhnya tidak bisa bergerak, tapi dia mendengar setiap ucapan orang-orang yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Om, bangun.. ayo kita main" ucap Ilyas sambil menyentuh tangan Adam.


"Ilyas, kamu belum mengerjakan tugas sekolah kan, ayo kerjakan dulu tugasmu" ucap Laksmi menyusul Ilyas di kamar Adam.


"Iya ma" Ilyas segera keluar.


Laksmi tersenyum melihat Ilyas tumbuh menjadi anak yang baik dan sangat patuh kepada kedua orang tua.


Laksmi melihat Musa yang masih duduk melamun menatap Adam, Laksmi pun mendekatinya.


"Mas, jangan begini, Adam pasti sangat sedih jika melihat kau terus meratap"


"Apa yang harus aku lakukan Laksmi agar Adam segera bangun dan memelukku?"


"Kau berdoa lah mas supaya Adam segera pulih dan kembali bersama kita"


Laksmi memeluk Musa mencoba menenangkannya.


Tidak terasa, satu tahun sudah Adam mengalami koma, kini tubuhnya terlihat kurus karena tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya, hanya selang infus saja yang mampu menjaga kondisinya.


"Om.. bangun, lihat aku mendapat piala" Ilyas mengguncang tubuh Adam.


"Ilyas, kau jangan begitu, kasihan om Adam" Mayra mendekatinya.


"Maaf tante" Ilyas segera keluar dari kamar Adam di susul oleh Mayra.


*****


Tokk... tokk...


"Assalamualaikum" terdengar suara dari luar rumah.


"Waalaikumsalam" Mayra segera membuka pintu.


Disana sudah berdiri Rizal yang berhadapan dengan Mayra.


"Mas Rizal, ayo masuk" ajak Mayra.


"Ibu dan ayah ada di rumah?" tanya Rizal.


"Mereka belum pulang mas, mungkin sebentar lagi"


Rizal duduk di sofa ruang tamu bersama Mayra, Rizal dan Mayra sudah menjalin hubungan 6 bulan yang lalu, setelah kedua orang tua mereka kembali merencanakan pertunangan.


Rizal pemuda yang sangat baik, dia tidak keberatan karena harus menunda pernikahannya dengan Mayra mengingat kondisi Adam yang belum pulih.


"Mas, apa kau masih ingin melanjutkan pertunangan kita?" tanya Mayra.


Rizal mengeryitkan dahinya, merasa heran dengan pertanyaan Mayra.


"Kenapa kau bertanya begitu? apa kau tidak yakin denganku?" Rizal balik bertanya.


"Bukan begitu mas, sejak pertunangan kita enam bulan yang lalu, aku merasa tidak enak denganmu, aku takut kau marah kepadaku" Mayra tertunduk.


"Masya Allah May, aku akan tetap menunggumu, janganlah kau berfikir begitu tentangku"


"Aku senang mendengarnya, tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu?"


Rizal terdiam mendengar perkataan Mayra, dia teringat ucapan kedua orang tuanya sebulan yang lalu tentang hubungannya dengan Mayra.

__ADS_1


__ADS_2