Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 50


__ADS_3

Adam merasa telinganya berdengung.


"Astagfirullah, kenapa telingaku berdengung begini, apa ada yang sedang membicarakanku?" gumam Adam.


"Dam, ada telepon untukmu, katanya nomormu tidak aktif, makanya dia menelpon ke pesantren" ucap Ilham teman se-asrama Adam.


"Oh iya, aku lupa men-charger ponselku" Adam menepuk jidat.


"Dari siapa Ham?" tanya Adam.


"Katanya dari kakakmu"


"Kakak?" Adam sedikit bingung, dan segera menjawab telepon itu.


"Assalamualaikum" ucap Adam.


"Waalaikumsalam, adikku?" terdengar suara Musa.


"Mas Musa, tumben memanggilku seperti itu?" Adam tersenyum walau tidak terlihat Musa.


"Adam, kembalilah ke Indonesia"


"Lho, kenapa mas? apa ada masalah?"


"Tidak, aku hanya rindu kepadamu"


"Ah.. geli sekali aku mendengarnya mas haha"


"Jangan lama-lama di Kairo, seluruh keluargamu ada disini"


Adam semakin bingung dengan kata-kata Musa yang tidak seperti biasanya.


"Mas, apakah kau yakin disana baik-baik saja?" Adam memelankan nada suaranya.


"Iya, kau tenang saja. Saat kau sudah lulus nanti, cepatlah kembali"


"Oke mas, tenang saja"


"Baiklah, aku tutup teleponnya, disini sudah masuk waktu dzuhur, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Mereka saling menutup telepon. Ternyata di rumah Musa sudah ada ayah dan ibu Adam, karena mereka memanggilnya untuk datang dan menjelaskan semuanya.


*****


Kairo.


"Hah.. kenapa pak Kiayi memintaku berbelanja sebanyak ini?" gumam Rayya.


Brukk..


Tanpa sengaja, Rayya menabrak seseorang dan membuat semua barang bawaannya terjatuh.


"Ya Allah, aku sudah lelah, tapi malah berantakan" ucap Rayya mengeluh.


"Biar aku bantu" kata orang itu.


Rayya mengeryitkan dahinya, seakan dia mengenal suara iti, Rayya melirik orang itu dan ternyata dia adalah Adam.


"Adam? Masya allah, aku tidak menyangka bertemu kau disini" ucap Rayya.


"Rayya, iya aku sedang membeli buku yang tidak ada di perpustakaan kampus" jawab Adam.

__ADS_1


"Apa sudah dapat semua?" tanya Rayya.


"Alhamdulillah, semua sudah dapat, baiklah barangmu sudah rapi, aku tinggal dulu ya?" ucap Adam.


"Iya, baiklah, oh iya sebelum pergi, boleh aku meminta nomor ponselmu?" tanya Rayya terang-terangan.


"Hmm.. boleh" Adam menyebutkan nomor ponselnya dan tersenyum meninggalkan Rayya.


Tiba-tiba...


Ciittt...


Brukk...


"aaaa...."


Rayya menoleh ke belakang, disana sudah berkumpul orang-orang. Rayya menghampirinya dan melihat apa yang terjadi.


"Permisi, ada apa nyonya?" tanya Rayya.


Dengan bahasa arab ya readers, author enggak bisa bahasa arab, jadi terjemahan aja hihi...


"Ada kecelakaan, lihat" ibu itu menunjuk ke arah korban.


Yang ternyata..


"Ya Allah, Adam" Rayya melepaskan belanjaannya begitu saja dan menghampiri Adam yang tergeletak dengan darah yang mengalir keluar dari hidung dan telinganya.


Orang-orang yang ada disana menelpon ambulans dan polisi segera mengamankan pengemudi mobil itu.


Rayya ikut mengantar Adam ke rumah sakit, saat dalam perjalanan, Rayya melihat sebuah panggilan di ponsel Adam yang masih ada di saku bajunya.


Rayya mengambil ponsel itu, dan hendak menjawab panggilan itu, tapi sudah terlambat, panggilan itu mati karena sudah lama tidak ada yang menjawabnya.


*****


Rayya mencarinya satu persatu, dan terlihat sebuah nomor bernama Ilham pesantren. Rayya segera menelpon nomor itu dan mengabari tentang keadaan Adam.


Tiga puluh menit kemudian, datang seorang lelaki yang penampilannya seperti kiayi dan seorang laki-laki lagi yang sebaya dengan Adam.


"Apa kamu Rayya? aku Ilham, dimana Adam?" tanya Ilham.


"Dia masih di ruang UGD, dokter sedang menanganinya" jawab Rayya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana kejadianny?" tanya lelaki yang seperti kiayi.


Rayya menghela nafas dalam-dalam dan mulai menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.


"Astgfirullah, Ilham kau mau menelpon siapa?"


"Aku akan memberitahu keluarganya pak Kiayi"


"Jangan sekarang, kita tunggu sampai dokter keluar dan memberitahu keadaannya"


"Baik pak Kiayi"


Ilham memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.


Sudah satu jam, tapi dokter belum juga keluar dari ruang UGD, mereka sangat cemas dan khawatir.


"Oh iya, apa kamu mengenal Adam?" Ilham mulai bertanya.


"Aku mengenal dia saat di pesawat, sewaktu akan datang ke Kairo" jawab Rayya dan mulai menceritakan awal dia mengenal Adam.

__ADS_1


"Oh, baiklah. Aku fikir kau sudah kenal sejak lama" jawab Ilham, Rayya sedikit tersenyum.


Akhirnya dokter keluar dari ruang UGD, dan mengatakan kalau kondisi Adam masih kritis akibat adanya pendarahan didalam otaknya.


Pak Kiayi langsung meminta Ilham mengabari keluarganya, karena mereka takut sesuatu yang buruk akan terjadi.


Ilham menelpon Musa, yang sudah dia ketahui dari Adam sebelumnya, sementara Rayya terus berdoa mengharap kesembuhan Adam.


*****


Musa menerima panggilan dari nomor yang tidak dia kenal.


"Nomor siapa ini? Sepertinya dari luar negeri?"


"Hallo, Assalamualaikum" ucap Ilham.


"Waalaikumsalam, maaf siapa ini?"


"Ini benar mas Musa kan? saya Ilham mas, teman asrama Adam"


"Oh.. Masya Allah, senang berkenalan denganmu, ada apa? apa Adam membuat masalah?"


"Tidak mas, saya cuma mau memberi kabar kalau Adam masuk rumah sakit"


Musa terkejut mendengar ucapan Ilham, Ilham menceritakan semua kejadian.


Mereka saling menutup telepon. Musa langsung memberitahu seluruh keluarga, mendengar hal itu, bu Fatma jatuh pingsan begitu juga bi Anita.


Musa segera membawa mereka ke kamar, Laksmi dan Mayra mencoba menyadarkan mereka.


Musa segera memesan tiket penerbangan menuju Kairo, mereka memesan penerbangan pertama agar cepat sampai dan segera menemui Adam.


*****


Esoknya.


Seluruh keluarga berangkat menuju Kairo, Musa menelepon Ilham agar menjemput mereka di Bandara, supaya mereka langsung menuju rumah sakit.


Beberapa jam mereka didalam pesawat, akhirnya mereka sudah sampai di Bandara. Disana sudah menunggu Ilham yang sedang duduk di sebuah kursi.


Ilham melihat foto yang dia ambil dari ponsel Adam untuk mencocokan wajah Musa, setelah yakin Ilham menghampirinya.


"Mas Musa?" ucap Ilham.


Musa menoleh ke asal suara dan sudah berdiri di hadapannya Ilham yang sebaya dengan Adam.


"Ilham? benar?" tanya Musa.


"Iya mas, aku Ilham"


"Baiklah, sekarang antar kami ke rumah sakit" Musa merasa tergesa-gesa.


"Apa kalian tidak ingin istirahat dulu, aku sudah memesan penginapan tidak jauh dari asrama?"


"Terima kasih Ham, tapi kami sangat ingin menemui Adam"


"Baiklah kalau begitu"


Ilham segera memesan taksi untuk mereka semua, dan berangkat menuju rumah sakit.


Musa sangat khawatir, Laksmi mencoba menenangkannya, begitu juga ustadz Fadlan dan bu Fatma, yang tidak henti-hentinya menangis sejak semalam hingga matanya terlihat sembab.


Laksmi dan Mayra mencoba bersikap tenang, walaupun dalam hatinya mereka sangat terpukul dan sedih.

__ADS_1


Kuatkan dirimu mas Adam, kau adalah kakakku, kau harus kuat, aku tidak akan mengganggumu lagi, selain sebagai seorang adik kepada kakaknya. Ucap Mayra dalam hatinya, tanpa sadar matanya meneteskan air mata.


__ADS_2