
Adam membaca pesan itu dan dia merasa sangat khawatir, Adam berniat datang kerumah sakit tapi Rayya melarangnya karena jam besuk sudah habis, percuma jika Adam datang, mereka tidak bisa bertemu.
Hari sudah semakin senja, Mayra dan Rizal berpamitan kepada Rayya untuk pulang, Rizal sudah menyewa perawat khusus untuk menjaga dan menemani Rayya 24 jam.
Rayya merasa seperti seorang ratu dengan perhatian dari Rizal dan Mayra, dia merasa tidak enak telah membuat Rizal dan Mayra repot.
*****
Rumah Musa.
"May, kau baru pulang?" tanya Laksmi.
"Iya mba, sebenarnya kami sudah pulang dari tadi, tapi di jalan..." Mayra menceritakan semua kejadian kepada keluarganya.
Tentu mereka sangat khawatir, terlebih lagi kalau-kalau Rayya melaporkan mereka ke polisi.
"Itu tidak akan terjadi bu, Rayya itu gadis yang baik" ucap Mayra menenangkan ibunya.
Mayra kembali menceritakan tentang Rayya, mendengar cerita Mayra, semua orang sangat penasaran ingin bertemu Rayya, dalam ceritanya, Mayra mengatakan hal-hal positif tentang Rayya.
"Besok antar ibu kesana ya, ibu ingin bertemu gadis itu?" pinta ibunya kepada Mayra.
Suara adzan berkumandang, mereka semua sholat maghrib berjamaah. Mereka terus berdoa supaya Adam cepat kembali ke rumah dan bisa berkumpul bersama mereka lagi.
Setelah selesai sholat, mereka semua kembali ke kamar masing-masing, saat Laksmi baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, membuat semua orang sangat khawatir.
"Ini mba, minumlah" Mayra memberikan obat pereda sakit kepala dan segelas air.
Laksmi menerima dan langsung meminumnya, tapi tiba-tiba Laksmi merasa mual dan muntah, semua orang semakin khawatir tapi tidak dengan bu Fatma yang malah senyum-senyum sendiri.
"Bu, kenapa ibu malah senyum-senyum? ibu tidak khawatir denga keadaan Laksmi?" tanya Musa.
"Ini sudah biasa" jawab bu Fatma.
"Maksud ibu apa?"
"Nanti juga kalian tahu, ayo cepat telepon dokter Rika" perintah bu Fatma.
Musa mengambil ponsel dari dalam sakunya dan segera menelepon dokter Rika, dua puluh lima menit kemudian dokter Rika datang dengan tas berisi semua alat medisnya.
Dokter Rika segera memeriksa kondisi Laksmi dan ikut tersenyum seperti yang di lakukan bu Fatma.
"Bagaimana dok, apa semua baik-baik saja?" tanya Musa yang terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
"Tenang Musa, semua baik-baik saja, ini sudah biasa di bulan pertama kehamilan" jawab dokter Rika sambil menulis resep obat.
"Oh, biasa di bulan pertama kehamilan ya dok? hah? apa? hamil?" Musa membelalakan matanya.
Dokter Rika dan bu Fatma tersenyum melihat Musa yang sangat terkejut, semua orang sangat bahagia mendengar berita kehamilan Laksmi.
Begitu juga Laksmi terlihat sangat bahagia karena sudah cukup lama menantikannya. Semua orang memberi selamat kepadanya.
*****
Rumah sakit.
Sudah pukul sembilan malam, tapi Rayya belum juga bisa tidur, dia hanya berbaring di kamarnya sambil sesekali memainkan ponselnya.
"Nona, kau butuh sesuatu?" tanya perawat yang di sewa Rizal, namanya Tania.
"Tidak, aku hanya merasa gelisah saja" jawab Rayya.
"Hm, mau aku bawakan makanan?" tanya Tania.
"Tidak usah, aku tidak apa-apa" Rayya tersenyum.
Kini mereka kembali saling diam karena tidak ada obrolan yang penting bagi mereka, Rayya hanya memainkan ponselnya membuka galeri foto dan sesekali memandang foto Adam sambil senyum-senyum sendiri.
Begitu juga dengan Tania, dia hanya memainkan ponselnya terkadang wajahnya terlihat kesal saat membaca pesan yang masuk.
"Ah, aku kesal sekali, kenapa dia memaksaku datang, padahal aku sudah bilang sedang bekerja" gumam Tania lagi.
Rayya kembali tersenyum dan memainkan ponselnya lagi.
"Tania, boleh aku minta tolong" ucap Rayya.
"Ah iya nona, tentu saja boleh, nona mau apa?" tanya Tania dan memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Aku ingin makan salad buah di pinggir jalan xx, apa kau bisa membelikannya?" tanya Rayya.
"Tentu saja nona, baiklah aku akan keluar" Tania beranjak hendak keluar dari ruangan.
"Tunggu Tania, satu lagi, aku tidak terburu-buru dengan saladnya, kalau kau ingin menemui orang itu, temui saja" Rayya tersenyum.
"Maksud nona apa?"
"Aku tahu kekasihmu ingin menemuimu kan, tapi kau malah sibuk menemaniku, jadi malam ini kau aku bebas tugaskan, tapi hanya sampai jam sebelas malam"
__ADS_1
"Hah, benarkah nona, terima kasih nona, kau baik sekali, pasti sangat beruntung lelaki yang menjadi kekasihmu, baiklah aku pergi" Tania keluar dari ruangan dan pergi menggunakan motornya.
kekasih yang mana, aku bahkan tidak punya kekasih, tapi aku sangat merindukan Adam, apakah dia bisa menjadi kekasihku?.
*****
"Dimana orang ini?" gumam Tania.
"Hei sayang" terdengar suara lelaki memanggilnya.
"Lama sekali, kau bilang ingin bertemu" Tania cemberut.
"Maaf, tadi aku habis membeli ini untukmu" lelaki itu menunjukkan sebuah bucket bunga yang sangat cantik, Tania sangat bahagia.
Mereka terlihat sangat romantis dan tidak malu-malu menunjukkan keromantisan mereka di depan umum, tanpa mereka sadari, seseorang sejak tadi sedang menatap mereka, dan tidak lama orang itu mendekat.
"Kau bekerja di rumah sakit itu?" tanya lelaki itu kepada Tania, yang tidak lain adalah Adam.
Tania dan kekasihnya saling menatap, karena mereka tidak mengenal Adam.
"Iya, dia bekerja disana, siapa kau?" jawab kekasih Tania yang bernama Doni dengan sedikit kesal.
"Namaku Adam, oh iya apa kau tahu pasien bernama Rayya?" tanya Adam.
"Iya, aku yang merawatnya, ada apa?" Tania balik bertanya.
"Aku minta tolong, berikan ini kepada Rayya" Adam menyerahkan sebuah wadah berisi salad buah.
"Oh iya, aku lupa, tadi nona Tania juga memintaku membeli salad ini, ya ampun"
Adam tersenyum melihat Tania yang sangat khawatir.
"Hei, kenapa kau senyum-senyum begitu, dia kekasihku, kau jangan macam-macam ya" Doni terlihat cemburu.
"Tidak, baiklah aku pergi dulu, tolong jaga Rayya baik-baik, katakan padanya besok aku akan datang" Adam pergi meninggalkan mereka.
Tania tersenyum sendiri melihat kepergian Adam, membuat Doni semakin cemburu dan kesal.
"Hei, kau menyukainya?" tanya Doni.
"Siapa yang tidak menyukai pria tampan sepertinya" jawab Tania masih sambil menatap Adam.
"Dasar kau!!" Doni semakin kesal.
__ADS_1
Tania menatapnya dan tertawa melihat kecemburuan kekasihnya itu, hingga akhirnya dia berhasil membujuknya. Setelah pertemuan dengan kekasihnya itu, Tania kembali ke rumah sakit dengan di antar Doni, Tania sangat bahagia sekali malam ini, karena pasien yang di rawatnya sangat baik dan pengertian, berbeda dengan pasien-pasien yang sering dia rawat, yang terkadang suka marah tidak jelas.
Tania segera masuk ke ruangan Rayya yang terlihat masih duduk sambil memainkan ponselnya.