Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 30


__ADS_3

Malam ini Laksmi memutuskan untuk menginap di rumah sakit bersama kedua orang tua Musa, awalnya paman Adi dan bi Mirna tidak menyetujuinya, tapi dengan bujukan halus Laksmi, mereka memperbolehkan Laksmi menginap di rumah sakit.


Laksmi dan ibu Musa duduk di samping ranjang tempat Musa berbaring, Laksmi terus menatap wajah Musa yang masih di pasangi selang oksigen, Laksmi kembali meneteskan air mata dan berdoa untuk kesembuhan Musa.


Allahu akbar Allahu akbar


Terdengar suara adzan isya berkumandang, Laksmi dan ibu Musa bergantian pergi ke mushola, dalam sholatnya Laksmi terus meneteskan air mata hingga air matanya jatuh di atas sajadah.


Dari luar mushola terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berlari, Laksmi keluar dan melihat seorang dokter dan tiga orang suster berlari menuju ruangan Musa yang tidak jauh dari mushola.


Laksmi langsung melepas mukenanya dan ikut berlari menuju ruangan Musa.


Laksmi terkejut setelah sampai di ruangan melihat keadaan Musa yang semakin memburuk, nafas Musa tidak terkontrol lagi, para suster dan dokter mulai melakukan pemeriksaan.


"Ada apa dengan Mas Musa bi, kenapa keadaannya seperti ini?" tanya Laksmi.


Ibu Musa mencoba menenangkan Laksmi dengan memeluknya.


"Aku tidak tahu Laksmi, tiba-tiba Musa sulit bernafas" jawab ibu Musa.


"Ya Allah, sembuhkanlah Mas Musa" Laksmi berdoa dalam tangisannya.

__ADS_1


"Ibu, bapak, saya minta ibu dan bapak harap tunggu di luar, biar kami akan melakukan tindakan untuk Musa" ucap Dokter Fahri.


Mereka keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu, Laksmi mengeluarkan sebuah Al-qur'an kecil dari dalam tasnya dan mulai membacanya seraya berdoa.


Ustadz Fadlan dan istrinya sangat bangga memiliki calon menantu seperti Laksmi, tapi sayang dengan keadaan Musa yang sudah satu tahun tidak sadarkan diri membuat pernikahan mereka tertunda terlalu lama.


Derrt... derrtt..


Ponsel ustadz Fadlan bergetar, di ambilnya ponsel itu dari dalam sakunya, terlihat sebuah panggilan dari Adam.


Ustadz Fadlan menjawab telepon dari Adam, yang sampai sekarang masih berada di Kairo.


"Assalamualaikum paman" ucap Adam.


"Alhamdulillah aku sehat paman, bagaimana kabar keluarga disana, dan bagaimana kondisi Mas Musa saat ini?"


"Alhamdulillah, kami juga sehat Dam, tapi Musa belum juga sadar dari komanya, bahkan sekarang keadaannya semakin memburuk" ustadz Fadlan meneteskan air mata.


"Astagfirullahal adzim, yang sabar paman, teruslah berdoa, maafkan aku yang tidak bisa menemani kalian di saat-saat seperti ini" ucap Adam lirih.


"Tidak apa-apa Dam, doamu saja sudah cukup untuk membantu kesembuhan Musa"

__ADS_1


"Insya Allah, aku akan selalu berdoa untuk Mas Musa paman, baiklah aku tutup dulu teleponnya, aku akan mencoba meminta ijin pak Kiayi untuk segera pulang ke Indonesia"


"Baiklah Adam, jaga dirimu disana"


"Iya, paman juga jaga kesehatan, jangan sampai sakit, kasihan Ilyas"


"Iya Dam"


"Wassalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ustadz Fadlan mengakhiri telepon dan memasukkannya kembali kedalam saku celananya.


Beberapa menit kemudian, dokter Fahri keluar dari ruangan Musa bersama ketiga susternya, Wajah dokter Fahri terlihat begitu sumringah, membuat mereka heran.


"Bagaimana keadaan Musa dok?" tanya ustadz Fadlan.


"Alhamdulillah, masa kritis Musa sudah terlewat, dan Insya Allah sebentar lagi Musa akan siuman"


"Alhamdulillah..." ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


Mendengar kabar dari dokter, Laksmi sangat senang dan bersyukur, Laksmi memeluk calon ibu mertuanya dengan rasa bahagia.


__ADS_2