Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 49


__ADS_3

Masih didalam pesawat.


Rayya masih saja berbicara, walaupun Adam masih tidak menjawab pertanyaannya, akhirnya Adam membuka suara.


"Kau ini wartawan?"


Rayya senyum gembira, akhirnya Adam mau bicara padanya.


"Ah.. Bukan. Aku ini mahasiswi"


"Oh" jawab Adam datar.


"Kau sendiri?"


"Aku juga mahasiswa"


"Wah.. ternyata kita sama"


Lagi-lagi Rayya terus mengajukan pertanyaan, dan kini membuat Adam sangat kesal.


"Apakah kau tidak bisa diam?"


Rayya terkejut dan seketika menghentikan kata-katanya.


"Nah, begitu kan bagus, aku jadi bisa istirahat" ucap Adam.


Sudah lama Rayya terdiam, Adam membuka matanya dan melihat Rayya sedang memejamkan matanya dan tangannya memegang erat pada pegangan kursi.


"Kau kenapa?" tanya Adam.


"Sebenarnya, aku takut naik pesawat, makanya aku dari tadi mengajakmu bicara"


Adam tersenyum mendengar jawaban Rayya, yang menurutnya itu sangat menggelikan.


"Haha, ternyata kau lucu sekali ya?" Adam tertawa.


"Ah kenapa kau malah mengejekku?"


"Apa ini pertama kalinya kau naik pesawat?"


"Tidak, aku sudah beberapa kali naik pesawat, tapi selalu bersama kakakku, tapi kali ini aku sendirian"


"Hmm... memang dimana kakakmu?"


"Kakakku tentu saja dirumahnya"


"Kenapa tidak ikut?"


"Dia baru saja punya baby, jadi aku terpaksa pergi sendiri"


Adam terus mengajukan pertanyaan kepada Rayya, sampai akhirnya mereka merasa lelah dan tertidur.


*****


Sudah beberapa jam penerbangan, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat di sebuah bandara.


Adam melihat Rayya masih terlelap, Adam berniat meninggalkannya, tapi dia menjadi tidak tega.


"Hei, bangunlah nona, kita sudah mendarat!" ucap Adam sambil menepuk-nepuk bahu Rayya dengan sebuah koran yang di lipat.


"Hm.. benarkah? kita sudah sampai?" Rayya terbangun dari tidurnya.


"Iya, cepatlah keluar dari pesawar, kalau kau tidak ingin dibawa keliling dunia" Adam tersenyum dan pergi keluar.


"Heii.. tunggu"


Akhirnya mereka keluar dari dalam pesawat, wajah Rayya terlihat bahagia dia menghirup udara segar setelah dia merasa tegang didalam pesawat.


"Adam, kenapa kau mengajakku bicara terus saat didalam pesawat, aku sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai?"


"Aku sengaja mengajakmu bicara untuk mengurangi ketakutanmu"


"Hahh.. terima kasih Adam, oh iya kau kuliah dimana?"


"Aku kuliah di universitas A"

__ADS_1


"Aku kuliah di universitas B"


"Aku tidak bertanya"


"Hmmhh.. baiklah"


"Taksi ku sudah datang, aku harus pergi"


"Baiklah, terima kasih ya"


Adam masuk ke dalam taksi yang dipesannya dan pergi meninggalkan Rayya.


Saat dalam perjalanan, Rayya sedikit berfikir, kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya tadi, ah payah.


"Semoga kita bertemu lagi ya Dam" Rayya tersenyum didalam taksinya, sopir taksi melihatnya dengan tatapan aneh.


Waduhh


apa nona ini sudah gila. Gumam sang sopir taksi.


*****


Rumah Musa.


Hari ini Mayra terlihat sangat rajin, dia membantu Laksmi membereskan rumah yang berantakan karena acara pernikahan 2 hari yang lalu.


"Mba, aku mau menaruh ini di gudang ya?" Mayra mengangkat sebuah dus besar.


"Mau aku bantu Mayra, sepertinya itu berat?" jawab Laksmi.


"Tidak usah mba, aku bisa kok"


"Hmm.. baiklah, hati-hati ya"


Mayra tersenyum dan pergi menuju gudang.


Karena gudang terlihat berantakan, Mayra mencoba merapikannya, semua barang yang berserakan di lantai, di letakkannya di tempat yang seharusnya.


Brukk...


Mayra tertarik pada sebuah buku yang bergenre romantis, dan dia mengambilnya.


"Fadlan love Fatma, hmm sepertinya ini buku milik ibu dan ayah, kenapa di simpan di gudang?" Mayra membawa buku itu di tangannya, tiba-tiba


Pluk..


Terlihat selembar foto keluar dari selipan buku itu, Mayra kemudian mengambilnya.


"Foto siapa ini?" Mayra membalik foto itu tapi tidak ada keterangan apa-apa.


"Ini foto ibu dan ayah, tapi siapa kedua anak ini?"


Di foto itu terlihat ustadz Fadlan sedang menggendong seorang anak yang kira-kira berumur tiga tahun, sedangkan bu Fatma memangku anak lain yang kira-kira usianya satu tahun.


Mayra semakin penasaran dengan foto itu, disana terlihat dua anak laki-laki.


"Kenapa di foto ini ada dua anak laki-laki, bukankah anak ibu dan ayah hanya aku dan mas Musa?"


Mayra segera keluar dari gudang dan mencari ayah dan ibunya.


"Ibu.. ayah.. dimana kalian?" Mayra sedikit berteriak.


"Mayra, ada apa?" tanya Laksmi.


"Mba, dimana ayah dan ibu?"


"Ayah sedang mengantar ibu ke pasar, memang ada apa May?"


"Tidak apa-apa mba, aku hanya ada perlu saja, ya sudah aku ke kamar dulu"


Mayra pergi meninggalkan Laksmi yang masih terlihat bingung dengan tingkah Mayra.


*****


Tidak lama kemudian, ustadz Fadlan dan bu Fatma kembali dari pasar.

__ADS_1


"Sini bu, biar Laksmi bawa ke dapur belanjaannya"


"Iya, ini. Tolong ambilkan ibu dan ayah minum ya Mi!" bu Fatma menyerahkan barang bawaannya.


Mendengar ayah dan ibunya sudah pulang, Mayra segera turun dan menghampiri mereka.


"Ayah, ibu, sudah pulang?" Mayra duduk di antara mereka.


"Iya sayang, kau sudah makan?"


"Sudah bu, bu apa Mayra boleh tanya sesuatu?"


"Boleh sayang, mau tanya apa?"


"Siapa anak laki-laki yang ada di foto ini bu?" Mayra menunjukan sebuah foto.


Ustadz Fadlan dan bu Fatma merasa sangat terkejut melihat foto itu.


"Darimana kamu dapat foto ini May?" tanya ayahnya.


"Aku menemukannya didalam buku ini, jawablah pertanyaanku ayah, ibu, siapa anak ini?"


Musa dan Laksmi yang mendengar pembicaraan mereka langsung ikut bergabung dan melihat foto yang masih di pegang ibunya.


"Siapa dia bu?" tanya Musa.


Bu Fatma dan ustadz Fadlan semakin terlihat gugup, mereka bingung harus menjawab apa, tapi Musa dan Mayra terus mendesak mereka, hingga mereka memberitahu siapa anak itu.


"Dia.. dia adikmu Musa" jawab ayahnya.


"Adikku? bukankah adikku Mayra? dia ini anak laki-laki bu"


"Kalau dia adik mas Musa, lalu aku ini siapa bu? apa aku bukan anak kandung ibu dan ayah?" tanya Mayra yang sudah terlihat sedih, Laksmi mencoba menenangkannya.


"Tidak, tidak begitu, kau juga adiknya Musa"


"Lalu, maksud ibu apa?" desak Musa.


"Sebenarnya, dia juga adikmu sekaligus kakak Mayra, tapi dia tidak bersama kita" ucap ustadz Fadlan.


"Maksud ayah bagaimana? ceritakan dengan jelas?" Musa semakin mendesak.


"Sebenarnya, sebelum Mayra ibu lahirkan, beberapa tahun sebelumnya ibu sudah melahirkan anak itu, tapi anak itu terpaksa ibu serahkan kepada orang lain" jawab bu Fatma.


"Bisakah ibu bercerita lebih jelas?" ucap Mayra.


"Bibi kalian sudah menikah sangat lama sebelum ibu menikah dengan ayah, tapi dia belum juga di karuniai seorang anak, hingga ibu melahirkan Musa, setelah usia Musa 2 tahun, ibu kembali melahirkan seorang bayi laki-laki, bibi sangat menyayangi bayi itu, hingga akhirnya..."


**flashback on**


"Mba, bolehkah aku yang menjaga anak kedua mba, aku sangat ingin mempunyai anak"


"Tapi Anita, bagaimana bisa mba menyerahkan anak mba sendiri"


"Aku mohon mba, aku berjanji akan menjaga dan merawatnya dengan baik, aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya walapun nanti aku punya anak sendiri"


"Dia masih sangat kecil, tunggulah sampai usianya 1 tahun" ucap Fatma walau terpaksa.


Anita sangat bahagia mendengar jawaban Fatma, dia sangat sabar menunggu bayi itu berusia 1 tahun, hingga akhirnya setahun itupun tiba, Fatma menyerahkannya kepada Anita, walaupun dia tidak rela melepas anaknya, tapi ini demi kebaikan Anita, yang sudah sangat depresi tanpa adanya seorang anak.


"Terima kasih mba, aku berjanji akan mendidik dan membesarkannya seperti anakku sendiri" ucap Anita.


"Jaga Adam baik-baik, sesekali bawalah dia kesini, sebelum kau pergi aku berfoto dulu dengan Adam"


Ustadz Fadlan dan bu Fatma berfoto bersama Adam sebagai kenang-kenangan, dan kembali menyerahkan Adam kepada Anita.


**flashback off**


"Jadi, Adam adalah adikku?" Musa sangat terkejut.


Ayah dan ibunya hanya mengangguk.


"Adam, dia adalah kakakku?" Mayra pun ikut terkejut.


"Iya Mayra, maka dari itu, ibu tidak ingin kau berdekatan dengan Adam, karena dia adalah kakakmu juga"

__ADS_1


Semua orang terdiam mendengar cerita itu, Musa merasa sedih sekaligus bahagia.


__ADS_2