
Hari ini Kairo sedang di landa angin kencang, membuat semua mahasiswa dan mahasiswi tidak bisa keluar asrama.
Adam sangat bingung, dia berfikir bagaimana dia akan ke bandara untuk mendapatkan penerbangan pertama karena hari ini Adam akan kembali ke Indonesia.
Adam mengurungkan niatnya, dan duduk di depan televisi, dia melihat di berita bahwa semua penerbangan menuju luar negeri akan tertunda sampai waktu yang belum di tentukan.
Adam merasa lemas setelah melihat berita itu, dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai menggeser-geser layar ponselnya tanpa tujuan.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dia melihat sebuah panggilan video dari orang tuanya, Adam menjawab panggilan itu.
"Assalamualaikum ayah, ibu, apa kabar?" ucap Adam.
"Waalaikumsalam, kami baik Nak, bagaimana kamu disana, ibu lihat di berita kalau Kairo sedang di landa angin kencang? ibu khawatir" jawab ibunya yang berada dipelukan suaminya.
"Tenang saja bu, asrama ku jauh dari bencana itu, tapi semua bandara menunda penerbangan ke luar negeri, jadi aku tidak bisa pulang hari ini"
"Tidak apa-apa Dam, yang penting jaga dirimu baik-baik ya"
"Iya bu, ibu juga jaga kesehatan"
"Iya nak"
Panggilan itu tiba-tiba terputus karena jaringan di Kairo yang sedikit rusak akibat angin kencang.
"Assalamualaikum bu, pak" Adam mengucapkan salam walaupun orang tuanya tidak mendengar.
Adam meletakkan ponselnya dan kembali berbaring, hingga akhirnya matanya terpejam dalam tidur.
Lima hari sudah Laksmi berada di pesantren, dia tidak terlalu merindukan Ilyas karena setiap hari mereka selalu melakukan panggilan video di waktu senggang Laksmi.
Laksmi tidak tahu, kalau kini Musa sudah mengingat semuanya, karena Musa melarang semua orang untuk tidak memberitahu kepada siapa pun.
Terkadang Laksmi merasa khawatir, apa yang Musa lakukan kepada Ilyas selama dia pergi, terlebih lagi saat dia mengingat semua kata-kata Musa, yang mengatakan kalau dia tega meninggalkan putranya sendiri.
Terkadang Laksmi menelepon ibu Musa untuk menanyakan perlakuan Musa kepada Ilyas, tanpa sepengetahuan siapa pun.
Laksmi merasa tenang setelah mendengar jawaban calon ibu mertuanya itu yang mengatakan kalau Musa sangat bersikap baik kepada Ilyas.
Sementara di rumahnya, Musa selalu mengajak Ilyas bermain, dan bahkan sekarang Musa sudah menyekolahkan putranya itu di sebuah Play Group khusus balita.
Musa selalu mengantar jemput Ilyas setiap hari di sela-sela waktu mengajarnya, Kini Musa sudah kembali mengajar di sekolah dengan normal.
Tanpa terasa setelah beberapa hari setelah kepergian Laksmi, Musa mulai merindukannya, dia selalu berniat menghubungi Laksmi, tapi dia enggan melakukan itu.
__ADS_1
Musa sudah kembali mencintai Laksmi seperti dulu, dia sangat ingin segera menikahi Laksmi, Musa berniat memberi Laksmi kejutan setelah kepulangannya dari pesantren.
Tiga hari kemudian badai yang terjadi di Kairo sudah hilang, kini Adam mulai berkemas kembali dan segera berangkat ke bandara untuk mendapatkan penerbangan pertama, dia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya dan sangat ingin tahu tentang keadaan Musa saat ini.
Adam sudah berada didalam pesawat, rasa kantuknya yang sudah tidak tertahankan membuatnya terlelap dalam penerbangannya. Tidak terasa pesawat sudah mendarat dengan lancar di bandara. Adam membuka matanya dan mengambil barang bawaannya.
Dia keluar dari pesawat dan menghirup udara tanah airnya yang sudah cukup lama dia tinggalkan.
"Adam..!!" terdengar sebuah panggilan dari jauh.
Adam melihat ke arah asal suara itu, dan ternyata ayah dan ibunya sudah menunggunya.
Adam segera berlari menghampiri mereka, Dia mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan memeluk mereka.
"Adam, kamu sehat Nak?" tanya ibunya.
"Alhamdulillah bu, aku sehat, ibu lihat sendiri kan?" Adam memutar tubuhnya menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
"Ibu mu ini sangat khawatir sekali saat mendengar ada badai disana, dan sekarang ibu bisa lihat, kalau putra kita malah bertambah gemuk" ucap ayahnya.
"Ah ayah, gemuk dari mana, aku biasa saja"
"Hahaha.." mereka tertawa bersama.
Mereka segera masuk kedalam mobil yang di kemudikan ayah Adam, mereka langsung menuju rumah karena Adam harus beristirahat.
"Lho, mau apa? Apa kau tidak lelah?" tanya Ayah Adam.
"Tidak, aku sangat ingin bertemu mas Musa, aku ingin tahu keadaannya, setelah aku dengar tentang kecelakaan itu, aku menjadi khawatir" jawab Adam.
"Oh iya, baiklah" Ayah Adam melajukan mobilnya menuju rumah ustadz Fadlan.
Ustadz Fadlan dan istri kebetulan sedang berada dirumah hari ini, mereka terlihat sedang duduk santai di teras rumah dengan di temani teh hangat dan beberapa makanan kecil, sesekali Ilyas berlari dihadapan mereka.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna silver masuk kedalam gerbang rumah mereka, mereka tidak mengenali mobil siapa itu. Hingga akhirnya keluarlah Adam dan kedua orang tuanya.
Mereka menyambutnya dengan pelukan.
"Assalamualaikum" ucap ayah Adam.
"Waalaikumsalam" jawab ustadz Fadlan.
"Mari silahkan masuk, sudah lama kalian tidak datang kesini"
__ADS_1
"Iya, kebetulan banyak sekali pekerjaan akhir-akhir ini"
"Iya-iya, oh iya Adam, kau sudah kembali, apa kabar?"
"Baik paman, aku dari bandara langsung kesini, oh iya, dimana Mas Musa?"
"Dia ada di dalam, kau masuk saja"
Adam masuk kedalam rumah Musa, sementara ayah dan ibunya berbincang di teras rumah mereka yang begitu sejuk.
Adam mencari kesemua arah, tapi tidak juga melihat Musa, sampai akhirnya Adam melihat ruang kerja Musa yang sedikit terbuka.
"Assalamualaikum" Adam membuka pintu itu.
Musa terkejut dan menjatuhkan benda yang sedang di pegangnya.
"Waalaikumsalam" jawab Musa setelah melihat Adam yang berdiri di samping pintu.
Adam menghampiri Musa dan memeluknya, sudah lama mereka tidak bertemu semenjak perpisahannya di bandara waktu itu.
"Mas Musa, mas masih ingat aku?" tanya Adam yang masih belum tahu kalau ingatan Musa sudah kembali.
"Kau Adam kan?" Musa balik bertanya.
"Alhamdulillah, mas masih ingat aku"
"Tentu aku ingat, aku kan .." Musa menghentikan ucapannya.
Adam mengeryitkan dahinya dan memandang Musa dengan tatapan penuh tanya.
"Eh.. aku kan dari kecil selalu bersamamu, iya kan?" Musa sedikit tergagap.
"Iya Mas" Adam tersenyum mendengar jawaban Musa.
Adam tidak sengaja menyenggol barang yang di jatuhkan Musa dengan kakinya, dia hendak mengambil sebuah kotak kado kecil itu, tapi Musa secepat kilat langsung mengambilnya lebih dulu.
"Apa itu Mas?" tanya Adam.
"Bukan apa-apa, oh iya sudah waktunya makan siang, ayo kita makan bersama" Musa keluar kamar dan meninggalkan Adam.
Adam mengikutinya dari belakang dan mereka sampai di ruang makan, disana sudah duduk kedua orang tua mereka. Bi Tuti mulai menghidangkan makanan di atas meja.
"Adam, kau menginap saja disini, sudah lama kan kau tidak kesini, pasti kau dan Musa juga ingin mengobrol" ucap ustadz Fadlan di tengah makan siangnya.
__ADS_1
"Jangan Mas, biar Adam pulang bersama kami, aku masih kangen" ucap ibu Adam.
Semua orang tersenyum dan mengerti betapa rindunya seorang ibu kepada putra semata wayangnya.