
Suasana masih begitu hening, hanya terdengar suara kicauan burung dan angin yang berhembus begitu lembut seraya memainkan irama yang merdu dan menggoyangkan pepohonan yang dihampirinya.
"maafkan aku laksmi, aku benar-benar tidak berdaya saat itu, akupun sedih memandang wajah bayi mungil yang tidak berdosa yang harus kehilangan ibunya" ucap adam halus.
"lalu, bagaimana dengan mas musa?"
"mas musa tidak berkata apa-apa saat itu, dia hanya diam membisu"
"apa kau akan mewujudkan keinginan kak farida?" lanjut adam.
laksmi menatap adam dengan penuh rasa kecewa, dia yang saat ini sudah benar-benar mencintai adam kenapa harus ada jalan terjal seperti ini.
"aku harus pergi" laksmi bangun dari duduknya dan beranjak pergi.
"aku harap kau bisa mewujudkannya, walaupun bukan demi kak farida setidaknya demi ilyas"
Laksmi menghentikan langkahnya mendengar ucapan adam, air matanya jatuh tak tertahankan tapi adam tidak melihat hal itu.
Setelah dirumah, laksmi segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat.
Hanya Allah yang dapat memberi jalan yang terbaik saat ini, begitu fikir laksmi.
__ADS_1
Laksmi terus mengalirkan air mata dalam sholatnya, bi mirna yang melihat hal itu merasa bingung, ada apa dengan laksmi.
tok... tok.. tok...
"assalamualaikum"
Terdengar suara pintu diketuk dan ucapan salam dari seseorang, bi mirna segera membukakan pintu.
"waalaikumsalam, ustadz fadlan, silahkan masuk"
Ustadz fadlan dan istrinya masuk kedalam rumah, dan duduk dikursi yang terbuat dari rotan, karena rumah laksmi memang belum memakai kursi sofa.
Mendengar ada tamu yang datang, paman adu keluar dari kamarnya yang memang sedang istirahat.
"ustadz fadlan, tumben, apa ada hal penting, kenapa tidak menyuruh saya saja yang datang kesana, kenapa repot-repot datang ke gubuk kami" ucap paman adi dengan senyuman.
"begini pak, sebenarnya saya ingin membicarakan tentang permintaan terakhir farida yang berkaitan dengan musa dan laksmi"
Paman adi masih tidak mengerti apa maksud ustadz fadlan.
"permintaan terakhir farida adalah, supaya laksmi menjadi ibu bagi putra musa" lanjut ustadz fadlan.
__ADS_1
"menjadi ibu, maksudnya bagaimana ini pak?" tanya paman adi penasaran.
"maksudnya... farida meminta laksmi dan musa menikah" lanjut ustadz fadlan.
Mendengar pernyataan ustadz fadlan, paman adi merasa terkejut, begitupun bi mirna yang baru kembali dari dapur membawa teh.
"tidak mungkin pak, laksmi kan sudah bertunangan dengan adam" sahut bi mirna sambil meletakkan teh di atas meja.
"kami tahu itu pak, tapi kami bisa berbuat apa, ini permintaan farida, kami juga terkejut karena ini juga permintaan adam supaya kami datang melamar laksmi" ucap ustadz fadlan.
Laksmi yang mendengar pembicaraan mereka dari dalam kamarnya merasa sangat sedih dan kecewa, kenapa adam bisa melakukan ini tanpa memberitahunya dan meminta persetujuan darinya.
Disisi lain, adam yang sedang mengaji tiba-tiba menitikkan air mata mengingat permintaan farida kepada tunangannya.
"ya allah, apakah yang aku lakukan sudah benar, aku benar-benar telah mengecewakan hati laksmi, ampuni aku ya allah" gumam adam yang sedang tertunduk.
Melihat anak semata wayangnya yang berperilaku tidak biasa, ibu adam menghampirinya dan mulai bertanya.
Adam yang terus meneteskan air mata memeluk ibunya dan menceritakan semuanya.
Ibu adam sangat terkejut dengan keputusan adam yang hanya sebelah pihak, tanpa persetujuan laksmi bahkan tanpa membicarakannya dulu dengan keluarga.
__ADS_1