Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 42


__ADS_3

Setelah mengantar Rizal ke kantornya, Musa menelepon seorang montir yang akan membawa motor Rizal ke bengkel.


"Oh iya mas, boleh aku minta nomor ponselmu, supaya saat motormu selesai di perbaiki aku akan mengabarimu" ucap Musa yang masih berada di depan kantor Rizal.


"Oh iya, boleh Mas" Rizal mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Sepertinya terasa canggung sekali mendengar panggilan itu, kau panggil aku Musa saja, supaya lebih akrab" ucap Musa tersenyum.


"Haha.. Iya benar, kau juga panggil aku Rizal saja" jawab Rizal.


Musa berpamitan dan pergi menuju sekolahnya, dia cukup senang karena mendapat teman baru, dia juga masih mengingat-ingat wajah Rizal yang seperti tidak asing baginya.


Adam yang berada di kantornya tiba-tiba mendapat panggilan dari nomor tidak dikenal di ponselnya, Adam mematikan panggilan itu, tapi nomor itu terus menghubunginya hingga beberapa kali.


Adam terpaksa menjawab panggilan itu, dan terdengar suara seorang perempuan.


"Adam, bisakah kau datang kesini, aku tersesat!" ucap perempuan itu.


"Assalamualaikum, kamu siapa?" tanya Adam.


"Oh iya, aku Mayra, tolong aku Dam, aku lupa jalan pulang"


"Mayra? Hmm memang kamu dimana sekarang?"


"Aku tidak tahu tepatnya dimana, tapi aku berada di dekat danau dengan pohon besar"


"Oh, baiklah, aku akan kesana"


Mayra mengakhiri panggilan, Adam mengambil kunci mobilnya dan keluar dari kantor untuk menjemput Mayra.


Setelah sampai di tempat tujuan, Adam melihat-lihat seluruh area danau itu, tapi Mayra tidak terlihat, dia hanya melihat beberapa pedagang di pinggir danau itu.


"Kemana dia?" Adam bolak balik dengan mobilnya menyusuri danau itu.


Tiba-tiba terlihat seorang perempuan melambaikan tangannya menghentikan mobil Adam, dia Mayra yang dari tadi menggu Adam di balik pohon besar.


Adam menghentikan mobilnya dan menghampiri Mayra, tapi Mayra malah kembali ke balik pohon itu.


"Ayo, aku antar kau pulang!" ucap Adam yang melihat Mayra duduk di kursi yang berada di bawah pohon itu.


Tapi tiba-tiba Mayra malah menarik tangan Adam hingga Adam terduduk di samping Mayra, Mayra kembali melakukan aksinya seperti beberapa hari yang lalu, dia mencoba menggoda Adam dengan ke-seksiannya.


"Apa yang kau lakukan?!" Adam menepis tangan Mayra yang menyentuh wajahnya.


"Ayolah Dam, kamu jangan munafik, mana mungkin kamu tidak tergoda denganku" Mayra semakin menjadi-jadi.


"Astagfirullah, Mayra!!!" Adam berteriak dan bangun dari tempat duduknya.


"Kenapa? Apa aku tidak cantik?"


"Kau sadar tidak, kalau kau anak seorang ustadz, ayahmu, kakakmu, ibumu, mereka orang yang cukup di segani?!!"


"Lalu kenapa? mereka yang di segani kan? bukan aku, kamu jangan munafik Adam"


"Aku benar-benar tidak menyangka dengan jalan fikiranmu Mayra" Adam merendahkan nada suaranya.


Mayra tetap tidak peduli dengan ucapa Adam, dia malah ingin tetap melakukan aksinya itu.

__ADS_1


"Lihat Dam, aku cantik, wangi, tubuhku indah, kenapa kau tidak suka denganku?"


"Kecantikanmu tidak ada artinya selama kau masih memamerkannya, wanita akan terlihat cantik saat tubuhnya tertutup dengan benda yang cantik pula"


Adam meninggalkan Mayra, sementara Mayra tetap diam tidak mengerti ucapan Adam.


Adam kembali menghampirinya dengan membawa syal panjang yang dia beli di salah satu pedagang di danau itu.


Adam menutup tubuh Mayra dengan syal itu, dan dia pergi begitu saja meninggalkan Mayra sendiri.


Mayra menatap kepergian Adam, dia masih memegang syal yang menutup tubuhnya itu.


"Adam, kau sangat baik, aku sudah menggodamu berkali-kali, tapi kau tidak pernah tergoda, kau bahkan malah menyuruhku menutup tubuhku, ya ampun, aku payah sekali" gumam Mayra.


Mayra yang sebenarnya tahu jalan pulang, kemudian menelepon taksi online, dia pulang menggunakan taksi itu dengan masih tetap menutup bagian tubuhnya.


Sementara Laksmi yang sekarang sudah berada di rumah Musa, sedang asyik bermain dengan Ilyas, Ilyas sangat senang dengan kehadiran mamanya itu.


Tiba-tiba Mayra pulang dan langsung masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan orang di sekitarnya, Mayra menatap cermin dan memandang dirinya sendiri, dia membuka lemarinya dan mengambil setelan baju tertutup yang dulu pernah di belikan ibunya.


Mayra memakai pakaian itu, dan menutup kepalanya dengan kerudung, Mayra terlihat cantik dengan jilbab maroon yang menutup rambut pirangnya itu.


"Kau cantik Mayra, kau sangat cantik" Mayra memuji dirinya sendiri.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan video dari teman Mayra bernama Nina, Mayra menjawab panggilan itu.


"Hallo Mayra, ya ampun, kamu beneran Mayra? pakai jilbab? hahaha" Nina tertawa setelah melihat penampilan Mayra.


"Tidak, aku hanya mencobanya saja" Mayra melepas kerudungnya dan melemparnya ke lantai.


"Tidak, aku malas"


"Kenapa? kamu sudah tobat? haha" lagi-lagi Nina tertawa.


"Apa sih kamu ini," Mayra terlihat kesal.


"Makanya, ayo kita datang, banyak cowok ganteng lho" ucap Nina pelan.


"Iya-iya, aku ikut, kau tunggu saja disana, aku akan datang"


"Baiklah, see you beib"


Mayra mengakhiri panggilan dan berbaring di tempat tidurnya hingga benar-benar terlelap.


Laksmi yang membawa susu untuk Ilyas, lewat didepan kamar Mayra, dia melihat Mayra yang sedang tertidur dengan pakaian yang berserakan di lantai, Laksmi masuk dan merapikan pakaian itu dan meletakkannya di sebuah sofa yang ada di kamar Mayra.


"Adam.."


Terdengar suara Mayra yang mengigau memanggil nama Adam, Laksmi merasa terkejut dan menoleh ke arah Mayra yang masih tertidur.


"Maafkan aku.." Mayra kembali mengigau.


Laksmi kemudian tersadar dari lamunannya setelah terdengar suara panggilan Ilyas yang meminta susu, Laksmi segera menghampiri Ilyas yang berada di ruang bermainnya.


Sudah jam 4 sore, Musa sudah kembali dari sekolah, sementara Laksmi sedang menidurkan Ilyas. Terdengar suara Musa yang bebicara dengan seseorang, sepertinya Musa tidak pulang sendiri.


"Silahkan duduk dulu, aku akan segera kembali" Musa meminta tamunya itu duduk.

__ADS_1


Karena Ilyas sudah benar-benar terlelap, Laksmi keluar dari kamar Ilyas dan melihat ke lantai bawah, terlihat seorang pemuda yang sebaya dengan Musa sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Rizal?!" Laksmi terkejut melihat keberadaan Rizal.


"Sedang apa dia disini, apakah dia mengenal mas Musa?" Laksmi bertanya-tanya.


Musa kembali dari kamarnya dan duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi Rizal.


"Maaf lama, tadi aku sudah menelpon montirnya, dia bilang dia akan mengantar motormu kesini" ucap Musa.


"Terima kasih Musa," jawab Rizal.


Musa tersenyum.


"Bi, tolong bawakan air untuk kami ya" ucap Musa memanggil bi Tuti tapi tak ada jawaban.


"Bi, bi Tuti?"


"Bi Tuti tidak ada mas, dia sedang keluar bersama bibi" Laksmi turun ke lantai bawah.


Mendengar suara itu, Rizal langsung menoleh dan terkejut melihat Laksmi.


"Laksmi?!" ucap Rizal.


"Kalian saling kenal?" sahut Musa.


"Ah.. Iya, dia teman adikku, Zahra"


"Oh, kenapa aku merasa tidak asing dengan namamu dan adikmu ya? Apakah hanya perasaanku saja"


"Mas pasti mengenal Zahra, dia sahabatku saat di pesantren, mas juga pernah bertemu dia saat mas mengajar disana" ucap Laksmi.


"Pesantren? Pesantren kiayi Munawir?" ucap Musa, Laksmi hanya mengangguk.


"Oh, jadi kau ini menantu ustadz Fitra ya?" tanya Rizal.


"Kau tahu?" Musa balik bertanya.


"Iya, aku mendengar tentang pernikahanmu dengan Farida waktu itu, kau juga pasti tahu kalau aku cucu ustadz Ahmad" ucap Rizal dengan wajah sedikit kecewa, mengingat dulu adik Musa pernah menolaknya tanpa bertemu.


"Rizal? Cucu ustadz Ahmad?" Musa mulai ingat kalau Rizal adalah orang yang sempat di jodohkan dengan Mayra.


tokk.. tokk.. tokk..


Suara pintu di ketuk, ternyata montir dari bengkel datang untuk mengantar motor Rizal.


"Mas, motornya sudah beres" ucap pria itu.


Musa mendekatinya dan memberikan sejumlah uang tip untuknya.


Tidak berapa lama, Rizal berpamitan dan pergi melajukan motornya dengan cepat, hingga saat ini Musa masih merasa tidak enak dengan kejadian yang lalu.


Dalam perjalanan pulang, Rizal tidak habis fikir, kalau gadis pujaannya adalah tunangan dari mantan calon kakak iparnya, dia juga berfikir, apakah Musa akan berpoligami?


Rizal tidak mengetahui kalau Farida sudah meninggal, yang dia tahu hanyalah pertunangan Laksmi dan Adam yang gagal beberapa tahun yang lalu.


Rasa kecewa terus menghampiri hati Rizal yang kini sedang berharap akan bisa mendapatkan cinta Laksmi.

__ADS_1


__ADS_2