
Rizal yang sedang berada di kantornya tiba-tiba telinganya berdenging.
"Ah.. sepertinya ada yang sedang membicarakanku" ucap Rizal "Mungkin Laksmi?" Rizal tersenyum.
Tok.. tok..
Pintu ruangan Rizal di ketuk, dan masuklah pak Hendi, ketua proyek yang saat ini sedang di kelola oleh Rizal.
"Pak, ini detail pengeluaran untuk bulan ini, bapak bisa cek lebih dulu supaya tidak terjadi kesalahan"
"Iya, saya akan cek nanti"
"Baik pak, saya permisi"
Rizal menganggukan kepalanya, dan pak Hendi keluar dari ruangannya.
Beberapa bulan sudah berlalu, hari ini Laksmi akan pulang, karena pesantren sudah di liburkan dan semua siswa dan siswi sudah pulang ke kampung masing-masing.
Laksmi pulang naik bus, dia tidak memberitahu paman dan bibinya, karena dia tidak mau kalau bibinya akan meminta Rizal untuk menjemputnya.
Sementara di rumah, paman dan bibinya mulai gelisah, karena Laksmi belum juga memberitahunya kapan akan pulang. Bi Mirna menelepon Rizal dan memintanya untuk datang.
Tidak berapa lama Rizal sampai di rumah bi Mirna, karena jarak kantor yang cukup dekat dari rumah bi Mirna tidak butuh waktu lama untuk Rizal datang.
"Bu, kamu mau apa meminta Rizal kesini?" ucap paman Adi berbisik setelah Rizal sampai di rumahnya.
"Untuk menjemput Laksmi, dia kan calon menantu kita pak" bi Mirna masuk kedalam rumah disusul paman Adi.
"Calon menantu? Calon menantu kita itu Musa bu"
"Alah pak-pak, Musa linglung gitu kok, apa yang di harapkan dari lelaki seperti itu, kalau sama Rizal, hidup Laksmi bakal enak pak"
"Ya Allah bu-bu"
Paman Adi menghela nafas panjang.
Tidak berapa lama, bi Mirna kembali keluar dan meminta Rizal untuk menjemput Laksmi, saat Rizal hendak berangkat, sebuah motor berhenti di halaman rumah bi Mirna, dan Laksmi turun dari motor itu.
"Terima kasih pak, ini ongkosnya" Laksmi memberikan sejumlah uang kepada tukang ojek.
"Assalamalaikum" ucap Laksmi.
"Waalaikumsalam, Laksmi kamu sudah pulang, baru saja bibi meminta Rizal untuk menjemputmu" ucap bi Mirna.
Laksmi melihat Rizal yang masih berada disana, dia tidak menyangka bibinya benar-benar akan meminta Rizal untuk menjemputnya.
"Tidak apa-apa bi, aku kan bisa pulang sendiri, aku masuk dulu" Laksmi masuk kedalam rumah dengan di sambut Balqis dan Alif.
__ADS_1
Sementara Rizal berpamitan untuk kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan, dan dia tidak mau mengganggu Laksmi yang baru tiba dari perjalanan jauh.
Sementara Adam yang masih berada di rumah Musa, menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang, dia mengambil ponsel dari sakunya dan tidak sengaja menjatuhkan sebuah foto.
Adam bicara dengan orang itu di halaman belakang rumah Musa, tiba-tiba Mayra datang ketempat Adam menjatuhkan foto itu, Mayra mengambilnya dan melihat foto seorang gadis yang sangat cantik, Mayra membalik foto itu dan terlihat sebuah nama 'Laksmi'.
"Oh.. jadi ini kekasih Adam, perempuan berkerudung seperti ini?" gumam Mayra.
Melihat Mayra memegang sesuatu, Musa menghampirinya dan mengambil foto itu.
"Mas kenal perempuan ini?" tanya Mayra.
Musa terdiam melihat foto Laksmi berada di tangan Mayra.
"Darimana kamu mendapatkan foto ini?" tanya Musa.
"Terjatuh dari sakunya Adam, sepertinya dia kekasihnya"
Musa mulai berfikir, apakah Adam masih mencintai Laksmi, apakah dia sekarang berada di antara cinta Laksmi dan Adam?
"Kenapa Mas?" Mayra kembali bertanya.
"Tidak" Musa pergi dengan membawa foto itu.
Selesai bicara, terlihat Adam sedang mencari sesuatu, Musa yang melihat hal itu segera mendekatinya.
"Kamu mencari apa Dam?"
"Ini?" Musa memberikan foto Laksmi.
"Eh.. ini.."
"Laksmi itu kekasihmu ya? Kenapa kau tidak cerita kepadaku?" Musa yang berpura-pura masih hilang ingatan mencoba menyelidik tentang perasaan Adam.
"Tidak Mas, dia hanya teman, oh iya aku ada urusan penting di kantor, aku pergi dulu ya mas" Adam menerima foto itu.
"Ya baiklah, hati-hati ya"
"Iya mas, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Adam masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang, Musa kembali bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Adam masih mencintai Laksmi?
Kali ini Musa memutuskan untuk tidak mengungkapkan kepada siapa pun kalau ingatannya sudah kembali, kecuali kepada kedua orang tuanya serta bi Tuti dan pak Min.
Kejutan yang akan dia berikan kepada Laksmi terpaksa dia tunda, dia masih harus tetap hilang ingatan hingga waktunya tiba.
__ADS_1
Esoknya Laksmi berpamitan kepada paman dan bibinya untuk pergi menemui Ilyas, sebenarnya bi Mirna tidak setuju jika Laksmi kembali lagi kepada keluarga itu.
Setelah beberapa menit, Laksmi sampai di rumah Musa, dia mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
Tokk.. tokk..
"Assalamualaikum"
Pintu terbuka, dan nampaklah Mayra dengan pakaian yang serba minim itu berada di depannya.
"Cari siapa?" tanya Mayra.
"Mama....!!" Ilyas berlari menghampiri Laksmi dan langsung memeluknya.
"Apa? Mama? Memangnya kamu sudah menikah dengan mas Musa?" tanya Mayra ketus.
Mendengar kata-kata Mayra, Laksmi hanya diam dan tetap berada di pelukan Ilyas.
"Laksmi, ayo masuk" ibu Musa menyambutnya.
Laksmi masuk ke dalam rumah dengan bergandengan dengan tangan mungil Ilyas meninggalkan Mayra yang masih berdiri di depan pintu.
"Laksmi? Oh iya aku ingat, dia perempuan yang di foto kemarin kan? bukannya dia kekasih Adam, kenapa dia menjadi ibunya Ilyas?" gumam Mayra.
Mayra masuk dan menutup pintu, dan duduk bersama mereka.
"Oh iya Laksmi, dia Mayra, adiknya Musa, dia baru pulang dari Amerika" ucap ibu Musa memperkenalkan mereka.
Laksmi mengadahkan tangan hendak berjabat tangan, tapi Mayra tidak menyambut jabatan tangan Laksmi.
Melihat putrinya yang bersikap buruk seperti itu, membuat hati ibunya sangat kesal.
"Lihat Mayra, Laksmi berpakaian rapi, dan terlihat baik, cobalah kamu ubah gaya berpakaianmu itu"
"Ibu-ibu, aku harus memakai pakaian seperti itu, aku ini masih muda bu, masih cantik, rugi donk kalau harus berpakaian begitu, kuno" jawab Mayra.
"Sopan santunlah Mayra, dia calon kakak iparmu"
"Calon kakak ipar? Oh aku kira dia sudah menikah dengan mas Musa, untung belum, jadi mas Musa masih bisa mencari perempuan yang lebih cantik darinya"
Mendengar perkataan Mayra, Laksmi hanya diam dan tetap bermain dengan Ilyas, dia tidak ingin ambil pusing dengan ucapan Mayra.
Musa melihat kejadian itu dari balik pintu ruang kerjanya, dia kembali geram dan ingin rasanya kembali membuat wajah Mayra merah seperti kemarin, tapi Musa tidak melakukan itu, dia ingin mencoba lebih bersabar dengan kelakuan adiknya itu.
Musa menghampiri Laksmi dan Ilyas yang sedang bermain di halaman.
"Laksmi, maafkan ucapan dari adikku ya, dia masih sangat muda"
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas, aku bisa mengerti, kami masih belum saling mengenal, kalau kami sudah akrab mungkin dia tidak akan begitu"
Musa tersenyum mendengar perkataan Laksmi yang begitu lembut.