
Dalam perjalanan menuju bandara, Musa memulai pembicaraan dengan Adam yang duduk di samping kursi kemudinya.
"Dam, apakah benar keputusanmu ini?"
"Tentu saja, memang kenapa mas?"
"Aku merasa yang kau lakukan ini adalah untuk menghindari aku dan Laksmi"
"Buka begitu mas, lihat ini, ini adalah surat panggilan untukku" Adam menunjukkan sepucuk surat dari Universitas ternama d Kairo.
"Baiklah, tapi aku harap kau bisa datang nanti"
"Insya Allah mas, aku akan berusaha".
Setelah empat puluh lima menit berkendara, Adam dan Musa tiba di Bandara, Adam memeluk Musa dan berpamitan. Musa terus menatap kepergian Adam hingga pesawat tinggal landas.
Setelah mengantar Adam, Musa kembali ke rumah, dalam perjalanan Musa melewati sebuah pemakaman dimana Farida di makamkan. Musa masuk kedalam area pemakaman dan berdoa untuk Farida seraya berdoa meminta restu untuk pernikahannya dan Laksmi.
Sesampainya dirumah, Musa melihat Laksmi yang sudah berada di rumahnya, Laksmi sedang menggendong Ilyas dan berbincang dengan ibunya.
"Assalamualaikum" ucap Musa.
"Waalaikumsalam" jawab Laksmi berbarengan dengan ibunya.
"Kau sudah pulang, apakah pesawat Adam sudah berangkat?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Sudah bu," jawab Musa.
"Baiklah, ibu masuk kedalam dulu, Berikan Ilyas pada ibu Laksmi"
Laksmi menyerahkan Ilyas yang sudah tertidur dan ibu Musa membawanya masuk kedalam.
Kini Musa dan Laksmi hanya berdua diteras rumah Musa, mereka duduk dan terdiam tanpa sepatah kata.
Tapi kali ini, Musa memulai pembicaraan.
"Apakah kau benar-benar mau menikah denganku Laksmi?"
Laksmi menoleh kearah Musa, Laksmi heran mendengar pertanyaan Musa.
"Aku hanya tidak ingin kau menyesal dikemudian hari"
"Ini sudah keputusanku Mas, Insya Allah aku tidak akan menyesalinya"
"Baiklah kalau begitu, setelah kau wisuda nanti kita akan memulai segala persiapannya"
Laksmi mengangguk menyetujui keputusan Musa.
Adam yang sudah berada di Kairo, segera pergi menuju kampusnya, disana sudah tersedia asrama untuk santriwan.
Adam yang masih baru di kota itu langsung mendapat banyak teman, karena Adam memang orang yang sangat mudah bergaul, sehingga tidak sulit baginya mendapat teman.
__ADS_1
Beberapa bulan sudah berlalu, Ilyas sudah semakin besar dan mulai belajar bicara. Kata pertama yang terucap dari bibir Ilyas adalah IBU. Ibu yang di tujukan kepada Laksmi, karena Ilyas yang masih sangat kecil hanya tahu bahwa Laksmi lah ibunya.
Setiap hari Laksmi merawat Ilyas, Laksmi datang kerumah Musa bersama kedua sepupunya Alif dan Balqis.
"Laksmi, berapa lama lagi kamu akan wisuda?" tanya ibu Musa.
"Mungkin tiga bulan lagi bi, kenapa?"
"Cepatlah kau dan Musa bertunangan, bila perlu langsung ke pernikahan saja"
"Kenapa haru buru-buru bi? Apa yang terjadi?"
"Bibi kasian kepada Ilyas, setiap hari setelah kau pulang, dia bangun dari tidurnya dan menangis mencarimu"
Laksmi menatap wajah polos Ilyas yang sedang duduk dengan bermacam-macam mainan di hadapannya.
"Semua keputusan aku serahkan kepada Mas Musa bi, aku ikut saja semua yang dia katakan".
"Baiklah, bibi harap kalian dapat segera menikah"
Laksmi tersenyum dan kembali bermain bersama Ilyas, Ilyas merasa nyaman berada dipelukan Laksmi, begitu juga Laksmi sudah menganggap Ilyas sebagai anaknya sendiri.
"Aku menyayangimu sayang" ucap Laksmi memeluk Ilyas.
Musa yang baru kembali mengajar dari sekolah melihat hal itu, Musa sangat bahagia dapat menemukan sosok ibu untuk putra semata wayangnya.
__ADS_1