Cinta Anak Santri

Cinta Anak Santri
episode 25


__ADS_3

Persiapan sudah selesai, tahlilan akan segera dimulai ba'da sholat isya nanti.


Semua orang melaksanakan sholat isya berjamaah di rumah Musa termasuk Laksmi dan Adam.


Beberapa menit setelah sholat isya, tahlilan segera dilakukan untuk mengenang almarhumah Farida.


Laksmi yang sedang menggendong Ilyas tidak bisa ikut membacakan doa untuk mendiang Farida. Karena Ilyas selalu menangis jika lepas dari gendongan Laksmi.


Setelah selesai, semua tamu menyantap makanan yang disajikan. Melihat Laksmi yang masih menimang Ilyas, Musa menghampirinya.


"Laksmi, makanlah dulu, aku lihat dari tadi kamu sudah lama menggendong Ilyas"


"Tidak apa-apa mas, aku senang bisa semakin dekat dengan Ilyas, bukankah nanti dia akan menjadi anakku juga?" ucap Laksmi dengan menatap Musa.


Dari sudut ruangan, Adam yang sedang duduk disofa ruang tamu melihat keakraban Musa dan Laksmi. Adam berfikir inilah saatnya dia harus berpamitan.


Adam menghampiri ustadz Fadlan dan istrinya yang tidak lain adalah paman dan bibinya yang sedang duduk bersama orang tuanya juga.


"Paman, bibi" ucap Adam.


"Ehh Adam, mari duduk bersama kami" ucap bibinya.


Adam duduk diantara kedua orang tuanya dan paman juga bibinya.

__ADS_1


Adam melirik kepada kedua orang tuanya, kedua orang tua Adam mengedipkan mata tanda setuju dengan apa yang akan dikatakan Adam.


"Aku ingin pamit, insya allah besok aku akan pergi ke Kairo" ucap Adam pelan.


"Lho.. kenapa? untuk apa kau pergi ke Kairo?" tanya ustadz Fadlan.


"Aku ingin melanjutkan kuliah S2 ku disana paman" jawab Adam.


"Kenapa mendadak Dam?" tanya Musa yang tiba-tiba datang bersama Laksmi.


"Tidak mendadak mas, aku sudah merencanakan ini sejak lama" jawab Adam tersenyum.


"Apakah harus besok kau berangkat? kenapa tidak setelah pernikahan Laksmi dan Musa?" tanya bibinya.


Mendengar pembicaraan mereka, Laksmi hanya terdiam, mencoba mencerna maksud Adam, mungkin Adam tidak ingin menghadiri pernikahannya, begitu fikir Laksmi.


"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati, tapi paman dan bibi minta maaf, karena tidak bisa mengantarmu besok"


"Tidak apa-apa paman, asal doa kalian menyertaiku, itu sudah cukup bagiku"


"Biar Musa yang mengantarmu besok, kamu jangan menolak ya?" ucap bibinya.


Adam tersenyum tanda setuju.

__ADS_1


Setelah acara usai, semua orang kembali kerumah masing-masing, termasuk Adam dan Laksmi.


Sesampainya dirumah, Laksmi membersihkan diri dan beristirahat. Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya, dan mulai menggeser layar ponselnya mencari nama Adam.


"mas Adam, kenapa mas pergi begitu mendadak, apakah mas Adam mencoba menghindariku?" Laksmi mengirim pesan kepada Adam.


Ting... ting...


Ponsel Adam berdering. Adam yang sedang duduk bersandar diranjangnya membuka pesan yang ada di ponselnya.


"tidak Laksmi, aku memang sudah mendapat surat panggilan, aku mohon maaf karena mungkin tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian" Adam membalas pesan Laksmi.


Melihat pesan dari Adam, Laksmi mencoba mengerti dengan keputusan Adam.


Mungkin Adam masih menyimpan rasa sedih didalam hatinya.


Esoknya.


Pagi ini Musa menjemput Adam kerumahnya, Musa akan mengantar Adam sampai ke bandara, mereka hanya pergi berdua, karena ayah dan ibu Adam tidak bisa ikut karena ada urusan mendadak di kantornya.


Adam berpamitan kepada kedua orang tuanya, sementara Musa memasukkan koper Adam kedalam bagasi mobil.


Orang tua Adam merasa sedih, karena harus berpisah dengan anaknya yang pergi jauh dengan waktu yang cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2