
Resepsi pernikahan Rama dan Intan pun di gelar. Tampak seluruh keluarga serta para undangan telah hadir.
Rama dan Intan berdiri di pelaminan untuk kedua kalinya, karena seluruh tamu yang hadir adalah keluarga besarnya Rama, rekan kerja beserta keluarganya dan keluarga besarnya Harsya.
Biom menggenggam tangan Rissa dan berbisik, "Tersenyumlah, kamu dan aku kelak juga akan duduk di sana."
Rissa mencoba tersenyum.
"Sayang, ini hari bahagianya Rama dan Intan jangan cemberut begitu. Kami akan selalu bersamamu," ucap Biom memberi semangat.
"Iya," Rissa memasang wajah ceria.
"Kalau begitu kamu semakin cantik," puji Biom.
"Terima kasih, calon suamiku."
"Sekarang, kamu bergabung dengan mereka," Biom mengarahkan pandangannya kepada keluarganya Harsya.
"Iya."
Biom menarik lembut tangan kekasihnya ke arah Tuan Muda bersama keluarga besarnya.
"Aku dan Alpha mau menyapa tamu yang lain, kamu ku tinggal bersama mereka, ya!" ucap Biom pelan.
Rissa mengiyakan.
Biom lalu menghampiri Alpha.
Sementara itu, Elia yang juga hadir di acara tersebut sedang menikmati makanan seorang diri.
Ia memperhatikan menu yang cukup lezat tersaji di meja makan. Memegang gelas di tangan kirinya. Ia mengambil kue dengan tangan kanannya.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, tiba-tiba seorang pria memakai topi dan masker menabrak tubuh Elia sehingga wanita itu terhuyung dan membuat minuman di gelas yang dipegangnya tumpah di pakaiannya.
Elia memperhatikan pakaian yang basah karena tumpahan minuman.
"Maaf, Nona!" ucap pria yang ada dihadapannya seperti pakaian pelayan katering.
Elia menarik napas, ia berusaha tak marah karena ini adalah acara Rama yang juga telah dianggapnya sebagai kakak sendiri.
Elia tidak ingin pria yang ada dihadapannya ini menjadi sasaran amarah Harsya.
"Nona, maafkan saya!"
"Ya, pergilah!" Elia berkata seraya memperhatikan pakaian yang digunakannya.
Pelayan pria itu pun berlalu.
Elia tampak kebingungan, ia akhirnya pergi ke toilet untuk membersihkan noda di pakaiannya.
"Bagaimana ini nodanya tidak bisa hilang pula?" gumamnya.
Elia akhirnya menelepon kakak iparnya, ia meminta izin untuk pulang lebih awal karena pakaiannya kotor.
Elia pun pulang bersama dengan seorang sopir, namun ia heran jalan dilaluinya bukan jalanan yang sama tadi pagi dilewatinya.
__ADS_1
"Kenapa kita lewat sini?"
Sopir hanya diam.
"Pak, kenapa kita lewat sini?" tanya Elia mulai ketakutan.
Mobil berhenti di sebuah perkebunan jauh dari pemukiman.
Elia menelan salivanya.
Pria itu turun lalu berjalan ke arah pintu penumpang, membuka pintu dan menarik paksa Elia keluar.
"Ka.. kamu mau apa?" tanya Elia terbata.
Pria mencengkeram rahang Elia dengan kuat. "Ini belum seberapa dibandingkan apa yang ku rasakan, bersiaplah menunggu waktu!" ucapnya.
Air mata Elia akhirnya lolos
Pria itu melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Elia hingga terjatuh.
Sebuah motor mendekati keduanya.
Pria itu mengambil ponsel tas Elia, lalu melemparnya ke semak-semak.
Setelah melempar ponsel, pria itu lantas naik ke motor lalu pergi.
Elia bangkit dan berteriak, "Jangan tinggalkan aku!"
"Tolong!" teriaknya.
Beberapa menit kemudian Elia menemukan ponselnya dengan tangan gemetar dan wajah ketakutan ia mencari nomor kontak seseorang.
Elia memilih Alpha karena pria itu selalu sigap mengangkat dan menjawab telepon darinya selain Biom.
"Halo, Nona!" ucap pria dari ujung telepon.
"Kakak, tolong aku!" Elia berkata dengan menangis.
"Nona, di mana?" Alpha tampak begitu khawatir.
"Aku tidak tahu, Kak."
"Kami akan melacak keberadaan, Nona."
Alpha mematikan ponselnya lalu mendekati Biom dan berbisik, ia mengatakan jika
Elia dalam bahaya.
"Kamu tetap di sini, jangan sampai Tuan Muda mengetahui kejadian ini," ujar Alpha.
"Ya, pergilah!" ucap Biom.
Alpha lalu menghampiri anak buahnya, "Nona El pulang dengan siapa tadi?"
"Kami tidak tahu, Tuan." Jawab salah satunya.
__ADS_1
Seorang anak buahnya Alpha berlari menghampirinya, "Tuan, ada satu rekan kami di tahan di gudang gedung ini."
"Nona Elia dalam bahaya," ucap Alpha. "Sebagian di sini menjaga temani Biom dan lainnya ikut aku," titahnya.
"Baik, Tuan!" ucap mereka serempak.
Astrid melihat Alpha hendak menaiki mobil, bergegas mendekatinya, "Kamu mau ke mana?"
Alpha lalu menjawab, "Elia lagi dalam bahaya!"
"Apa!" pekiknya.
Alpha memberi isyarat dengan jari telunjuknya di bibirnya.
Astrid menutup mulutnya.
"Ayo ikut aku!" ajak Alpha.
Astrid pun mengiyakan.
Mereka pun pergi mencari keberadaan Elia.
Alpha melacak mobil yang ditumpangi Elia dan ponsel milik gadis itu.
Hampir 1 jam penelusuran akhirnya Elia di temukan dengan posisi berada di dalam mobil.
Elia menyadari kedatangan Alpha dan anak buahnya. Bergegas keluar dari mobil.
Astrid berlari kecil menghampiri Elia dan memeluknya.
"Kakak, aku sangat takut sekali!" tangisannya mengeras.
"Sekarang kamu sudah aman bersama kami!" ucap Astrid.
"Nona, tidak disakiti mereka?" tanya Alpha.
Elia menggelengkan kepalanya.
"Apa Nona mengenal wajah pelakunya?"
"Tidak, Kak," jawab Elia.
Alpha tampak berpikir, apa motif pelaku sebenarnya karena mobil tidak dibawa kabur dan Elia hanya di tinggalkan begitu saja.
"Kakak, aku mohon jangan beri tahu Kak Harsya," pinta Elia.
"Kenapa, Nona?" tanya Alpha.
"Aku tidak mau dia mengekangku, Kak."
"Harsya melakukannya untuk melindungi kamu, El," ucap Astrid.
"Jangan beritahu kakak ataupun ibu, mereka nanti akan memarahi kalian," ujar Elia.
"Baiklah, kami tidak akan memberitahu Tuan Muda dan Nyonya Besar," kata Alpha.
__ADS_1