Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 47 - S2- Elia Melahirkan


__ADS_3

Tujuh bulan berlalu.....


Randy tak pernah berhenti untuk mengejar istri. Meskipun, penolakan selalu ia dapatkan ketika ingin bertemu.


Elia selalu saja menghindari dirinya walaupun mereka sempat saling berpandangan.


Elia masih sakit hati atas apa yang dilakukan suaminya itu.


Berbagai cara telah Randy lakukan agar Elia mau kembali padanya, namun istrinya itu tetap pernah luluh.


"Ma, perhitungan dari dokter hari ini Elia akan melahirkan," ujar Randy ketika menikmati sarapan bersama ibunya.


"Apa kamu ingin ke rumah mertuamu?"


"Ya, semoga aku bisa bertemu dengan Elia hari ini."


"Semoga saja, dia ingin mendengarkan penjelasan kamu."


"Iya, Ma. Mohon doakan aku," pintanya.


"Iya, Nak."


Randy pun berangkat ke rumah mertuanya, sesampainya di sana penjaga keamanan mengatakan jika Nona Elia sedang di rumah sakit 3 jam yang lalu hendak melahirkan.


"Rumah sakit mana?"


"Kami tidak dapat memberitahunya, Tuan."


"Istri saya lagi melahirkan tapi kalian tidak mau memberitahunya!" kesal Randy.


"Maaf, Tuan. Kami hanya mengikuti perintah atasan!" ucap salah satu penjaga keamanan.


Randy sejenak berpikir, ia mengingat rumah sakit yang menjadi langganan keluarga besar Madya.


Tanpa berlama-lama dengan cepat Randy bergegas menuju rumah sakit tersebut.


Begitu sampai, diparkiran tampak mobil Madya berjejer dengan kendaraan lainnya. Gegas ia melangkah cepat memasuki rumah sakit dan bertanya kepada bagian informasi.


"Nona Elia Abraham memang ada di rumah sakit ini, tapi mohon maaf Tuan kami tidak dapat memberitahu ruangannya. Karena keluarga pasien melarangnya," jelas petugas wanita.


"Saya ingin bertemu dengan istri. Dia akan melahirkan, kalian tidak mau memberitahunya!"


"Nona Elia Abraham telah melahirkan setengah jam lalu dengan persalinan normal."


"Benarkah? Bagaimana dengan kondisinya? Apa jenis kelamin anak kami?" cecar Randy.


"Sekali lagi kami mohon maaf, Tuan."


Randy yang kesal lalu pergi dari tempat bagian informasi tersebut dan mencarinya sendiri ruangan.


Menaiki lift, Randy menyusuri lorong ruangan satu persatu tiap lantai.


Di lantai keempat, Randy melihat dari kejauhan jika ada beberapa pria menjaga salah satu ruangan. Ia yakin jika itu adalah kamar rawat inap istrinya. Ditambah lagi beberapa perawat mondar-mandir.


Randy melangkah cepat mendekati ruangan, namun derap langkahnya terdengar para pengawal.


Para pria itu sigap mencegat langkah kaki Randy.


"Anda dilarang memasuki lorong ini, Tuan!" ucap salah satu pengawal.


"Kenapa? Ini 'kan tempat umum kalian tidak boleh melarangnya!" Randy berkata tegas.


"Karena tempat ini telah di sewa Tuan Muda, jadi tidak ada pengunjung atau pasien lainnya di sini."


"Siapa Tuan Muda kalian?"


Para pengawal tahu jika pria yang ada dihadapan mereka adalah salah satu menantu Nyonya Madya. Dengan cepat, mereka memegang tangan Randy dan memaksanya turun dari lantai tersebut.


"Hei, lepaskan aku!" teriak Randy.


"Jangan membuat keributan di rumah sakit, Tuan!" mohon salah satu pengawal.


"Kenapa kalian menyeretku?" sentak Randy.

__ADS_1


"Karena kami di tugaskan untuk mengusir anda dari sini," jawab yang lainnya.


"Elia!" memanggil nama sang istri.


Elia yang baru saja selesai melahirkan dan masih merasakan sakit mendengar suara suaminya memanggil namanya. Ada perasaan rindu, benci dan kecewa menjadi satu.


"Kenapa dia bisa di sini, Bu?


"Hampir tiap hari suamimu mencari keberadaan kamu."


"Usirlah dia, aku ingin melihat wajahnya dan suaranya lagi!"


"Iya, Nak. Ibu juga takkan mau memberitahu jenis kelamin anakmu padanya," ucap Madya.


"Iya, Bu. Aku ingin segera berpisah dengannya dan tak ingin dia menggangguku!"


Randy kini berada di mobil, para pengawal menyeretnya hingga ke parkiran. Karena tak mau menambah keributan di rumah sakit, ia lantas pergi.


Tujuan Randy kali ini ada rumah tahanan, tempat Cindy menjalankan hukumannya.


"Kamu ke mana saja? Sudah lama tidak mengunjungi Tante di sini," ujar Cindy.


"Aku sengaja melakukannya, mungkin selanjutnya ku takkan pernah kemari lagi ke sini," ucap Randy.


"Kenapa?" Cindy tampak heran.


"Karena aku sudah mengetahui semuanya."


"Tante tidak mengerti dengan ucapan kamu," ucap Cindy.


"Apa benar jika selama ini yang membiayai hidup kami itu adalah Tuan Abraham?"


Cindy terdiam.


"Jawab, Tante!" bentaknya.


"Randy, kamu kenapa membentak Tante? Selama ini yang membiayai hidup kalian siapa? Lalu modal usaha itu semua dari Tante."


"Tante, tidak bohong. Papa kamu itu meninggal karena keegoisan Madya," ujar Cindy.


"Jangan mengelak lagi, Tante."


"Randy, mana mungkin Tante mengorbankan keluarga kakak kandung sendiri dan memfitnah orang lain," Cindy berkelit.


"Karena Tante, aku harus kehilangan istri dan anakku."


"Itu karena kebodohan kamu sendiri, kenapa dia bisa pergi!"


"Jika dia tidak kabur dan tak ada yang memberitahu kami. Mungkin aku akan menjadi orang yang paling menyesal seumur hidup!" Randy menahan amarahnya.


Cindy tertawa sinis.


"Tante yang selama ini aku anggap baik ternyata jahat. Hanya ingin menutupi perselingkuhan, Tante tega mengadu domba mama dengan keluarganya Tuan Abraham!"


Cindy malah tertawa keras seraya memukul meja.


Randy yang sangat kesal karena ditertawai, lantas berdiri.


"Kamu mau ke mana?"


"Mencari istriku dan meminta maaf padanya. Hari ini terakhir aku berkunjung kesini, jangan harap kami menuruti apapun keinginan Tante. Permisi!" Randy gegas melangkah pergi.


"Randy, asal kamu tahu saja. Tante melakukan ini juga demi kalian!" teriak Cindy.


Randy tak mempedulikan teriakan wanita itu.


"Randy!" panggilnya dengan suara lantang.


****


Seminggu berlalu....


Akhir-akhir ini Randy sangat sibuk, pekerjaan di kantor menumpuk karena dia harus membagi waktu mencari istrinya.

__ADS_1


Di tengah kesibukannya, Randy tak berhenti mengirimkan bunga, buah, cokelat batang dan pakaian bayi ke rumah mertuanya.


Dia berharap jika istrinya itu akan luluh dan memaafkannya.


"Tuan, sepertinya kita harus ke luar negeri untuk beberapa minggu karena klien kita meminta membicarakannya di sana." Jelas Edo ketika berada di ruang kerjanya.


"Kapan kita akan berangkat?"


"Besok, Tuan."


"Baiklah kalau begitu."


Sementara itu di kediaman Madya....


Elia sudah berada di rumah sang ibu 2 hari ini, ia sedang menikmati perannya sebagai orang tua tunggal.


Dia harus terbiasa karena 7 bulan lalu ia melewati masa ngidam seorang diri.


"Nona ini bunga diletakkan di mana?" tanya seorang pelayan wanita.


"Letakkan di vas bunga yang ada di meja makan!"


"Baiklah, Nona." Pelayan wanita itu pun berlalu.


"Setiap hari mengirimkan bunga, dia ingin rumahku seperti kebun," Elia menggerutu.


"Bunga lagi?" tanya Madya.


"Iya, Bu."


"Sehari dua kali dia mengirimkan bunga untukmu," tukas Madya.


"Entahlah, Bu. Dia pikir aku akan luluh dengan semua yang diberikan ini padaku!"


"Apa kamu sudah yakin berpisah dengannya?" tanya Madya.


"Iya, Bu. Aku akan mengajukan surat perceraian."


"Mama dukung apa yang menjadi keputusanmu."


****


Esok harinya....


Alpha dan Biom mengantarkan Harsya menuju kantor. Di perjalanan Alpha memutar radio di mobilnya.


Dalam siaran tersebut diberitakan bahwa pesawat terbang tujuan ke negara B menghilang dan penyiar juga membacakan nama-nama penumpang.


Disebutkan jika salah satu penumpang bernama Randy Niel Sudirja. Membuat ketiganya terkejut dan tak menyangka.


"Bukankah itu nama suaminya Nona Elia, Tuan?" tanya Biom.


"Iya," jawab Harsya


"Kira-kira apa Nona Elia tahu?" tanya Alpha.


"Entahlah," jawab Harsya. "Sekarang kita putar balik menuju rumah ibuku!" titahnya.


"Baik, Tuan!" Alpha memutar balik kemudinya ketika berada di simpang jalan.


Begitu sampai rumah, Madya melangkah cepat menghampiri putranya.


"Di mana Elia, Bu?" tanya Harsya.


"Dia berada di kamar."


"Apa dia tahu berita itu?" tanya Harsya lagi.


"Tidak, Nak. Ibu berharap dia tak mengetahuinya."


"Iya, Bu. Aku takut jika Elia bersedih dan itu akan mempengaruhi kondisinya pasca melahirkan," ujar Harsya.


"Makanya Ibu berusaha agar Elia tak melihat seluruh media."

__ADS_1


__ADS_2