Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 50 - S2 - Menemui Elia


__ADS_3

Sehari kemudian....


Randy telah sadar namun ia hanya mampu berbaring dan mendengar. Jikapun berkata hanya sepatah dua kata.


Sejak dinyatakan dokter bahwa Randy telah siuman, Elia memilih untuk tidak mengunjungi sang mantan suami.


Elra, putranya yang mewakilinya. Balita itu pergi bersama dengan Biom dan 2 pengawal pria.


Sesampainya di rumah sakit, Randy tersenyum ketika melihat kehadiran putranya.


Biom meletakkan Elra di ranjang pria itu.


"Di mana Elia, Kak?" tanya Randy dengan nada suara pelan.


"Dia lagi di hotel."


"Pa-pa!" celoteh Elra sambil tersenyum.


Randy tak lagi bertanya tentang mantan istrinya, kini fokus dengan tingkah putranya dan Biom memilih keluar dari ruangan itu karena ada Lanny yang mengawasi bocah tersebut.


Elra memukul wajah Randy seraya menunjukkan giginya yang baru tumbuh.


Randy tak hentinya mencium pipi putranya.


Lanny tersenyum melihat keponakannya begitu bahagia.


"Kenapa mama tidak ikut?" tanyanya.


Elra hanya mampu tersenyum.


"Tante, aku ingin bertemu dengan Elia," ucapnya lirih.


Lanny hanya diam, karena Elia pernah berkata tidak akan datang menemui Randy jika telah sadar.


"Tante, apa Elia masih marah padaku?"


"Tidak, Randy. Elia malah yang menghubungi Tante jika kamu di rawat di sini."


"Lalu kenapa dia tak mau bertemu denganku?"


"Mungkin Elia ada pekerjaan," jawab Lanny berbohong.


"Mungkin saja, ya."


Sejam berlalu, Biom kembali memasuki kamar dan mengambil Elra. "Maaf, Randy. Saya harus membawanya karena Elia sudah menyuruh kami pulang."


"Iya, Kak. Terima kasih sudah mempertemukan kami," ucap Randy dengan suara pelan.


"Kalau begitu kami permisi!" Biom menggendong Elra dan mereka pun berlalu.


***


Keesokan harinya...


Elia dan Elra meninggalkan kota E karena mereka telah lebih dari sepekan berada di sana.


Sebelum kepulangannya, Biom bertanya kepada Elia, "Nona, tidak ingin berpamitan dengan Randy?"


"Tidak!" jawab Elia tegas.


"Baiklah, Nona. Kita berangkat sekarang!"


Biom lalu memerintahkan sopir agar bergerak.


Jalan yang dilalui menuju kediamannya keluarga Madya melewati rumah sakit tempat Randy di rawat.


Dari balik kaca jendela, Elra berdiri dan berceloteh, "Pa-pa!"


"Kita harus pulang, Nak. Lain waktu kamu pasti bertemu dengannya!"


Elra terus memandangi bangunan bertingkat tersebut dari kendaraan yang ditumpanginya.


"Pa-pa. Ma-ma!"


"Lambaikan tanganmu!" perintah Elia lembut.


"Pa-pa!" Elra tiba-tiba menjerit karena gedung tersebut menghilang dari pandangannya.


"Sayang, kita harus pulang. Papa kamu belum terlalu pulih, jadi dengan Mama saja!"

__ADS_1


Elra semakin mengencangkan tangisannya.


Biom yang duduk di sebelah Elia lalu bertanya, "Apa kita balik ke rumah sakit?


"Tidak, Kak. Lanjut saja!"


"Baiklah!"


Mobil pun melesat.


Elra yang hampir 20 menit menangis akhirnya tertidur di pangkuan ibunya.


-


Di rumah sakit tempat Randy di rawat..


"Tante, kenapa Elra belum datang juga?"


"Randy, Elra telah pulang."


"Kenapa dia tidak berpamitan padaku?"


"Elia tak sempat untuk mampir kemari."


Randy tersenyum getir. "Pasti dia ingin menjauhkan aku dengan Elra."


"Tidak, Nak. Elia harus kembali karena dia sudah sangat lelah, setiap hari dia selalu kesini untuk menjagamu."


"Dia ke sini tiap hari ketika aku belum sadar, tapi sekarang?"


"Kamu mencintai Elia, kan?"


Randy mengangguk.


"Kamu harus sehat agar bisa mengejar dia lagi. Jika masih di sini bagaimana mampu menaklukkannya?"


"Aku ragu, Tante."


"Elia belum memiliki kekasih, jadi ini kesempatan baik untukmu," Lanny memberikan semangat.


"Bagaimana jika keluarganya tidak mengizinkannya?" tanya Randy.


"Luluhkan hati Elia terlebih dahulu lalu dekati kakak dan ibunya," ujar Lanny.


"Kamu harus semangat, ada Elra yang membutuhkanmu!"


Randy mengangguk pelan.


-


-


Tujuh jam perjalanan dengan kendaraan roda empat akhirnya Elia dan Elra tiba di kediaman Madya.


Wanita paruh baya itu yang sedang menikmati secangkir teh di taman belakang rumahnya bergegas menghampiri anak dan cucunya.


"Oma, Elra pulang!" ucap Elia.


Madya lalu menggendong cucunya tak ketinggalan mencium seluruh wajah balita itu.


Elra yang risih tampak menolaknya dengan menjerit.


"Oma rindu denganmu," kata Madya lembut.


Elra memandangi wajah Madya lalu tersenyum.


"Baru ingat?" tanya Madya.


Elra menjawabnya dengan senyuman.


"Baru beberapa hari sudah lupa dengan Oma," Madya memberikan kecupan lagi.


Elia lalu melangkah menuju kamarnya.


Madya segera memberikan Elra kepada pengasuhnya dan menyusul putrinya.


"Bagaimana dengan kondisinya?"


"Masih di rumah sakit, butuh perawatan untuk beberapa hari ke depan," jelas Elia.

__ADS_1


"Kamu tidak bertemu dengannya lagi 'kan setelah siuman?" tanya Madya.


"Tidak, Bu."


"Syukurlah kalau begitu, Ibu takut kamu akan luluh dan kembali padanya," ujar Madya.


"Tapi, Elra sangat senang bertemu dengan papanya."


"Hal itu wajar karena mereka tidak pernah bertemu," ucap Madya.


"Aku berharap Randy tak pernah muncul dihadapan kami lagi, Bu."


"Ibu pun juga."


"Tapi, Elra selalu menangis tiap malam."


"Jika dia ingin bertemu dengan putranya, Ibu dan kakakmu akan mengizinkannya. Tetapi, kalau kamu kembali lagi padanya kami takkan merestuinya."


Elia tertawa kecil, "Aku juga tidak mau kembali padanya, Bu."


"Bagus."


****


Dua bulan berlalu....


Setelah dirinya sembuh dan sehat Randy kembali menjalani usaha toko pakaian miliknya.


Semakin hari semakin ramai pengunjung yang mendatangi tokonya sehingga ia harus memperkerjakan 3 orang karyawan sekaligus.


Dan hari ini Randy berniat mengunjungi putranya. Menggunakan bus, Randy menuju kediaman mantan atasan papanya sekaligus mantan mertuanya.


Sesampainya di sana, ia berdiri memperhatikan bangunan dibalik pagar yang menjulang tinggi.


Seorang pria yang bertugas sebagai penjaga keamanan menghampirinya dan bertanya keperluannya.


"Apa saya bisa bertemu dengan Nona Elia?" tanya Randy dengan sopan.


"Tunggu sebentar, Tuan." Jawab salah satu penjaga keamanan.


Randy mengiyakan.


Tak lama kemudian penjaga keamanan menghampiri Randy, "Silahkan masuk, Tuan!" membuka pintu pagar.


Randy memasuki istana Abraham Syahbana, seorang wanita menunjukkan jalan menuju taman.


Elia sedang mengawasi Elra berlari-lari kecil di rumput taman dan tertawa bersama.


Randy menghampiri keduanya dengan mata berkaca-kaca.


"Pa-pa!" celoteh Elra.


Elia lalu menoleh.


Randy mendekati Elra lalu menggendongnya dan mengecup pipi putranya, "Papa rindu, Nak!"


Elra tertawa geli.


Elia memperhatikan keduanya begitu sangat akrab meneteskan air matanya.


Randy menatap mantan istrinya, gegas Elia membuang wajahnya dan menyeka sudut matanya.


"Kamu apa kabar?" tanya Randy.


"Sangat baik," Elia tersenyum tipis.


"Aku senang jika kamu baik," Randy juga menampilkan senyumnya yang kaku.


"Ya," ucap Elia singkat. "Bagaimana dengan toko milikmu?" lanjutnya bertanya.


"Semakin hari semakin ramai," jawab Randy.


"Bagus deh," Elia tersenyum singkat.


"El..ada yang ingin aku aku bicarakan padamu," ucap Randy.


"Ya, silahkan. Mau bicara apa?" tanya Elia.


"Aku....."

__ADS_1


"Mau apa lagi kamu ke sini?"


Suara bariton membuat Elia dan Randy lantas segera menoleh secara bersamaan.


__ADS_2