
Esok paginya, Darrell menepati janjinya. Ia mendatangi kediaman Nayna. Ia turun untuk memanggil wanita itu dan menyapa ibu Nayna.
"Selamat pagi, Bibi!"
"Selamat pagi, Tuan."
"Mulai hari ini jangan panggil Tuan, Bi."
"Loh, kenapa?"
"Sebentar lagi saya akan menjadi anak Bibi," Darrell berkata dengan senyuman.
"Baiklah, Nak Darrell."
"Nah, begitu enak mendengarnya," ucap Darrell tersenyum.
"Bu, aku berangkat kerja, ya!" Nayna berpamitan.
"Darrell tidak diajak sarapan," ujar ibunya Nayna.
"Tidak, Bu. Tuan Darrell sudah sarapan," Nayna beralasan. "Ayo, Tuan!" ajaknya.
"Kalau begitu saya permisi, Bi!" Darrell berpamitan.
"Iya, Nak. Hati-hati," ucap Ibunya Nayna.
Keduanya menaiki mobil dan melaju menuju rumah Madya.
Nayna memilih memalingkan wajahnya.
Darrell yang menyetir sesekali menoleh, ia mengulum senyum.
Nayna menggerakkan tubuhnya karena jalan yang biasa dilaluinya tak seperti biasanya. "Kenapa lewat sini?" tanyanya.
"Aku ingin membeli sesuatu buat seseorang."
Nayna akhirnya diam dan tak bertanya lagi.
Darrell berhenti di sebuah toko kue. Melepaskan safety belt, ia lalu berkata, "Ayo keluar!"
"Saya di sini saja, Tuan."
"Kamu harus membantu saya memilih kue," ujar Darrell.
Terpaksa Nayna pun keluar dari mobil.
"Kata Rissa, kue di toko ini sangat lezat. Aku juga pernah merasakannya sekali sih," tutur Darrell.
"Nyonya dan Nona Muda juga sering kemari," ucap Nayna.
"Tepat sekali aku membawamu kesini," kata Darrell.
Memasuki toko, Darrell tampak kebingungan memilih kue. "Kira-kira mana menurutmu yang enak?"
"Tergantung selera Tuan," jawab Nayna.
"Bukan untukku, tapi orang lain," ucap Darrell.
"Kalau begitu, Tuan telepon saja dia dan tanyakan apa yang disukainya," Nayna memberikan usulan.
"Itu takkan menjadi kejutan lagi," ucap Darrell.
"Tuan tebak saja kesukaannya apa," ujar Nayna.
"Kalau kamu suka yang mana?"
"Tuan bertanya pada saya, tapi kue ini bukan buat saya," jawab Nayna.
"Siapa tahu selera kalian sama," ucap Darrell.
Nayna lalu berkata, "Baiklah, saya akan pilihkan semoga saja dia menyukainya."
"Ya."
Nayna memilih kue coklat yang diatasnya di taburi strawberry segar.
"Baiklah, aku akan membeli yang ini," ucap Darrell, ia lalu meminta karyawan toko untuk membungkuskannya.
Keduanya meninggalkan toko kue dan roti, Darrell menyerahkan bungkusan plastik itu kepada Nayna untuk memegangnya takut jatuh jika diletakkan di bangku penumpang belakang.
Keduanya melesat ke kediaman Madya.
Begitu sampai, Nayna menyerahkan bungkusan kepada Darrell.
"Kenapa diserahkan padaku?"
"Bukankah ini punya Tuan Darrell?" tanya Nayna.
"Memang iya, tapi buat kamu!"
"Buat saya?"
"Iya."
"Bukankah untuk seseorang?" tanya Nayna.
"Aku tidak jadi memberinya, makanya itu buat kamu!"
__ADS_1
"Kenapa tidak jadi?" tanya Nayna lagi.
"Aku berubah pikiran," jawab Darrell.
"Sungguh aneh," gumamnya.
Darrell tertawa kecil.
"Tuan ini benar buat saya?"
"Iya, Nayna Manisa."
"Dari mana Tuan tahu nama lengkap saya?"
"Pasport kamu."
"Oh."
"Cepat turun, nanti aku terlambat ke kantor."
"Iya, Tuan. Terima kasih," ujar Nayna.
"Nanti malam, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Darrell.
"Kemana, Tuan?"
"Ada deh. Jam tujuh malam, aku akan menjemputmu di rumah!"
"Baiklah, Tuan."
Darrell mengangguk mengiyakan.
-
-
Malam harinya....
Darrell menjemput Nayna, gadis itu tampak lain dari hari biasanya.
Nayna menggunakan dress berwarna coklat muda dan rambut panjang di terurai sampai bahu dengan jepitan berbentuk bunga di kepala.
Darrell tampak terkesima dengan penampilan Nayna malam ini yang menurutnya lebih anggun dan cantik.
Setelah berpamitan, keduanya pun pergi menuju ke sebuah kafe.
Nayna diam dan menatap lurus ke depan, sementara itu Darrell tak hentinya melirik wanita yang ada disampingnya.
Tak ada percakapan hingga sampai keduanya di tempat tujuan.
Darrell dan Nayna lalu keluar dari mobil, berjalan beriringan memasuki kafe.
"Hanya ada kita berdua saja, Tuan?" tanya Nayna.
"Iya, aku sengaja menyewa tempat ini khusus buat kita," jawab Darrell
Nayna masih bingung dengan jawaban pria yang ada didekatnya itu.
"Silahkan duduk!" Darrell menarik kursi.
Nayna pun duduk.
"Sebentar lagi pesanan kita akan datang," ucap Darrell.
"Kita baru saja datang, Tuan."
"Aku lebih dahulu memesannya semoga kamu suka dengan makanannya," ujar Darrell lagi.
Tak lama kemudian makanan dan minuman tersaji di meja.
Setelah pelayan kafe pergi, Nayna lantas berceletuk, "Tuan, membuat makan malam begini seperti kita sepasang kekasih saja."
"Aku memang ingin menjadikanmu kekasih!" Darrell berkata tanpa basa-basi.
"Hah!"
"Iya, aku serius Nayna. Aku mencintaimu!"
Nayna tampak tak percaya, ia segera menyedot jus jeruk di hadapannya.
Darrell tertawa kecil melihat wanita di depannya gugup.
"Tuan, salah orang," ucap Nayna.
"Sepertinya tidak, aku memang menyukaimu. Apa aku salah dan tidak boleh jatuh cinta padamu?" Darrell menatapnya.
"Bukankah Tuan dan temannya Nona Astrid memiliki hubungan?"
Darrell tertawa mendengarnya.
"Tuan sangat begitu akrab dengannya, apalagi ketika pesta pernikahan Nona Rissa dan Tuan Biom," ungkap Nayna.
"Oh, jadi kamu pikir aku dan Kayla menjalin hubungan?"
"Iya, Tuan."
"Kami hanya teman kantor," ucap Darrell.
__ADS_1
"Sepertinya dia menyukai Tuan."
"Itu tidak benar, kamu sama saja dengan teman prianya Kayla menuduh kami seperti itu," ujar Darrell.
"Maafkan saya Tuan, jika salah."
"Iya, tidak apa-apa. Tapi, aku senang jika kamu cemburu," Darrell tersenyum.
Nayna yang malu hanya dapat menunduk.
"Dari tadi kita mengobrol saja, ayo dimakan!"
"Iya, Tuan.
"Jangan memanggilku Tuan."
Nayna mengangkat wajah dan menatap Darrell.
"Kita ini sepasang kekasih."
"Saya belum menyetujuinya," ucap Nayna.
"Kamu menolakku?" tanya Darrell.
Nayna tersenyum lalu menggeleng.
Darrell pun tersenyum.
"Apa Nona Rissa setuju dengan hubungan ini?"
"Jangan memanggilnya Nona!
"Saya rasa tidak sopan, Tuan."
"Kenapa masih memanggil dengan sebutan itu?"
"Belum terbiasa," Nayna tersenyum.
"Kamu harus terbiasa."
Nayna mengiyakan.
Selesai makan malam, Darrell mengulurkan tangannya. Nayna tampak kebingungan.
"Mari berdansa!"
"Saya tidak bisa berdansa," ucap Nayna.
"Biar ku ajari!"
Nayna bangkit dan mencoba berdansa.
Keduanya kini saling berpelukan dan bertatapan.
"Di mana musiknya?"
"Tidak ada."
"Bagaimana berdansa tanpa menggunakan musik?" tanya Nayna.
"Aku hanya ingin memelukmu saja," jawab Darrell.
Nayna memanyunkan bibirnya.
Darrell tersenyum lalu berkata, "Terima kasih."
"Buat apa?"
"Karena menyukai dan mencintaiku."
Nayna membalasnya dengan senyuman.
"Jika aku melamarmu dalam waktu dekat ini, apakah kamu mau?"
"Apa itu tidak terlalu cepat?"
"Terlalu cepat, ya? Padahal usiaku sudah tidak lagi muda dan pantas segera menikah," ungkap Darrell.
"Kita baru saja jadian, tidak mungkin segera menikah."
"Memangnya kenapa kalau kita menikah dalam waktu cepat? Aku tidak mau kamu pergi dan meninggalkanku."
"Memangnya saya mau pergi ke mana?"
"Bisa saja direbut pria lain yang lebih muda, tampan dan kaya."
Nayna tertawa mendengarnya.
"Nay, aku serius denganmu. Mau 'ya menikah denganku?" Darrell menatap serius.
Nayna mengangguk mengiyakan.
"Boleh aku mengecup bibirmu?" tanya Darrell.
Nayna menyipitkan matanya.
"Iya, aku takkan mencium kamu sebelum kita menikah," janji Darrell.
__ADS_1
"Sepulangnya dari sini, aku akan memberitahu ibu," ucap Nayna.