
Anaya begitu mendengar kabar Rissa mengalami kecelakaan tak hentinya menangis, ditemani Harsya ia pergi ke rumah sakit.
Begitu sampai, Madya dan Elia berada di sana termasuk Intan beserta suaminya.
Sementara Biom yang sedang berada di luar kota masih dalam perjalanan balik.
Sesampainya di sana, Anaya memeluk Madya yang juga menangis. "Apa yang terjadi, Bu?"
Madya melonggarkan pelukannya, "Ibu juga tidak tahu, hanya saja Alpha yang mengabarkan jika Rissa berada di rumah sakit."
Alpha mendekati Harsya, ia baru selesai mengurus masalah Rissa.
"Apa yang terjadi?" tanya Harsya.
"Nona Rissa sepertinya sedang kelelahan sehingga ia tidak fokus mengendarai mobil hingga menabrak pembatas jembatan," tutur Alpha.
"Apa dia sedang sakit?" tanya Harsya.
"Biom mengatakan jika Nona Rissa memang lagi kurang sehat," jawab Alpha.
"Pasti dia kepikiran tentang restu itu," tebak Harsya.
"Mungkin, Tuan. Karena kata Biom, Nona Rissa sering melamun," jelas Alpha.
Harsya mengepalkan tangannya, "Jika hal buruk menimpa Rissa, aku akan menghancurkanmu Darrell!" gumamnya.
"Tuan, tenanglah. Semoga Nona Rissa dapat melewati masa kritisnya, Nayna juga mengabarkan saya jika Tuan Darrell akan pulang," ucap Alpha.
"Dia akan pulang?"
"Iya, Tuan."
-
Sudah sejam lebih mereka menunggu di depan ruang ICU. Perasaan cemas menjadi campur aduk.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat keluar dari ruangan.
"Perwakilan keluarga Dokter Rissa, mari saya antar. Dokter akan menjelaskan kondisi pasien," ucap perawat.
Harsya dan Madya menjadi perwakilan keluarga Rissa.
Hampir 15 menit berada di ruang sang dokter, keduanya pun keluar.
Madya masih terus mengeluarkan air mata sampai Harsya memapah wanita paruh baya itu.
"Bu, jangan menangis lagi. Aku yakin Rissa kuat, rekan kerjanya juga akan melakukan yang terbaik untuknya," ucap Harsya.
"Harusnya Ibu juga memperhatikannya, kenapa dia tidak memberitahu kita sedang sakit?"
"Mungkin Rissa tak ingin Ibu khawatir, dia 'kan memang begitu," jawab Harsya.
"Kita sama-sama berdoa, semoga Rissa cepat sembuh dan pulih," lanjut Harsya berucap.
Biom datang berlari dengan wajah cemas mendekati ruangan Rissa.
Gegas Alpha menahan tubuh Biom agar tak masuk ke ruangan itu.
"Bagaimana kondisi Rissa? Apa dia baik-baik saja, kan?" cecarnya dengan wajah khawatir.
"Tenanglah, Biom. Dokter sedang berusaha," memeluk tubuh sahabatnya itu.
Air mata Biom pun tumpah. "Aku tidak mau kehilangan dia!"
__ADS_1
"Semua orang di sini pun juga sama, Nona Rissa akan baik-baik saja. Tenanglah!" ucap Alpha.
Rama mendekati Biom dan memeluknya, "Kamu harus sabar dan kuat, ya. Kami semua menyayangi Nona Rissa."
"Aku sudah melarangnya mengemudi!" ucap Biom. "Tapi, kenapa dia tak mendengarkan aku?" lanjutnya bertanya.
"Semua telah terjadi, tak ada yang perlu di sesali. Kita sama-sama berdoa semoga Nona Rissa segera sadar," ucap Alpha.
"Dan semoga dengan kehadiran Tuan Darrell menjadi penyemangat hidupnya," sahut Rama.
"Kakaknya Rissa akan kemari?" tanya Biom.
"Ya, Nayna yang memberitahunya." Jawab Alpha.
-
-
Beberapa jam berlalu, tepat berada di dalam pesawat menuju tanah air. Darrell mengarahkan wajahnya di jendela. Ia teringat pesan Rissa yang terakhir, tidak akan menghubunginya lagi.
Ulang tahun Darrell kali ini juga ia mendapatkan kejutan luar biasa, adiknya yang dibencinya itu harus terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.
Biasanya Rissa akan mengirimkan pesan selamat ulang tahun kepadanya meskipun ia tak pernah membalasnya.
"Maafkan Kakak, Rissa!" batinnya.
Tanpa terasa air matanya jatuh.
Nayna mengelus punggung Darrell, "Tuan, semoga Nona baik-baik saja."
Darrell tak membalas ucapan gadis disampingnya itu.
Darrel teringat sebuah kata dari Rissa, 'Apa aku harus mati, biar bisa di maafkan?'
***
Keesokan harinya tepat jam 3 sore, begitu sampai dari bandara keduanya di jemput oleh anak buahnya Harsya menuju rumah sakit.
Darrell memasuki ruang perawatan adiknya bersama dengan Madya, keduanya sempat berpelukan dan menangis.
Rissa masih terbaring belum sadarkan diri.
Darrell duduk di kursi dekat ranjang, memegang tangan adiknya, "Maafin Kakak, Rissa!" tangisnya.
"Kakak tidak mau kehilangan kamu, cukup kedua orang tua kita saja. Ayo bangun, Rissa. Kakak akan merestui hubungan kamu, Kakak janji akan menjadi wali nikahmu. Tolong, sadarlah!" Darrell meluapkan isi hatinya.
"Darrell, Bibi senang kamu mau pulang. Tapi, kamu harus kuat!"
"Aku sudah menyakiti perasaan Rissa, Bi. Aku sungguh menyesal!" ucapnya.
Kondisi yang dialami Rissa juga pernah dirasakan papanya. Mereka harus kehilangan pria itu di malam hari.
"Kamu sudah bertemu dengan Rissa, sekarang beristirahatlah. Biar Biom yang menjaganya," ujar Madya.
"Iya, Bi."
Keduanya keluar dan berpapasan dengan Biom.
Darrell segera memeluk calon suami adiknya, "Maafkan aku, harusnya sekarang kalian sudah bahagia. Karena keegoisan ku, Rissa harus menderita."
Biom tak mampu berkata hanya sanggup mengangguk.
Keduanya pun menjauh dari perawatan, di tengah jalan Harsya muncul dihadapannya Darrel.
__ADS_1
"Kedatanganmu ke sini untuk memberikan semangat pada Rissa atau mengharapkan kematiannya?" Harsya menatap dengan tatapan dingin.
"Harsya, kamu bicara apa?" Madya menegurnya.
"Kenapa dia baru datang ketika Rissa sedang berjuang melawan maut, Bu?" tanya Harsya.
"Harsya, aku minta maaf!" lirihnya.
"Maaf, Kak Darrel bilang? Lihatlah Rissa yang selalu memohon padamu untuk pulang tapi sama sekali tidak pernah di dengar. Apa salah dia, Kak? Dia sendirian, dia berjuang, dia berusaha bahagia padahal hatinya kesepian. Di saat ada pria yang memberikan senyuman, tapi Kak Darrell menghalangi kebahagiannya!" ungkap Harsya yang kecewa.
"Aku minta maaf, Harsya!" Darrell menundukkan kepalanya dan hampir menangis.
"Harsya, biarkan Darrell beristirahat dulu!" ucap Madya.
Harsya menarik napas lalu mengangguk pelan mengiyakan.
"Sekarang kamu pulang dan beristirahat, biar sopir dan Nayna yang mengantarkanmu ke rumah Rissa." Ujar Madya.
"Iya, Bi."
-
Darrell pun diantar ke rumah Rissa. Tampak Intan, Rama dan Alpha telah berada di sana.
Keduanya membungkuk memberikan hormat kepada pria yang baru saja keluar dari mobil.
"Tuan, saya cukup mengantarkan anda sampai di sini. Selanjutnya mereka bertiga yang akan menemani Tuan Darrell," ucap Nayna.
Darrell hanya tersenyum singkat.
Nayna dan sopir kemudian berlalu.
"Kalian siapa?" tanya Darrell.
"Perkenalkan nama saya Rama, saya bertugas sebagai kepala pelayan di kediaman utama Tuan Muda Harsya," ucapnya. "Dan ini istri saya yang merupakan temannya Nona Rissa," lanjutnya memperkenalkan Intan.
"Saya Alpha, kepala pengawal Tuan Muda," Alpha menundukkan sedikit kepalanya.
"Kami di sini untuk menemani Tuan sementara, karena sebentar lagi dua asisten akan datang. Selama ini Nona Rissa hanya tinggal sendirian," ujar Alpha.
"Dia tinggal di rumah ini sendiri?" Darrell tak percaya.
"ART hanya datang pagi dan pulang sore, Nona Rissa sesekali menginap di kediaman Tuan Muda Harsya atau Nyonya Besar," jelas Rama.
"Kenapa dia ingin tinggal sendiri?" batin Darrell.
"Mari saya antar ke kamar anda, Tuan!" ucap Alpha.
Darrell masuk ke dalam rumah adiknya dan diarahkan ke sebuah kamar.
"Ini kamar memang sengaja telah dipersiapkan untuk Tuan Darrell," ujar Intan.
"Aku 'kan tidak pernah pulang," ucapnya.
"Tapi, Kak Rissa berharap jika sewaktu saat kakaknya akan pulang," jelas Intan lagi.
"Silahkan masuk!" Alpha membuka pintu kamar.
"Kami tinggal, Tuan." Ucap Rama.
"Makanan telah kami sediakan di meja makan," ujar Intan.
"Terima kasih," Darrell berkata pelan dengan senyuman singkat.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami permisi!" ucap Alpha.