Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 15 - Masih Membujuknya


__ADS_3

Pagi harinya, Nayna bangun membuatkan sarapan untuk dirinya dan Darrell.


Pria itu terbangun karena mencium aroma makanan dari arah dapur, bergegas ia turun dari ranjang.


"Apa kamu lakukan?" tanya Darrell.


"Saya hanya membuat sarapan untuk kita, pergilah mandi. Kita akan menikmatinya bersama," jawab Nayna santai.


"Kenapa kamu begitu lancang mengobrak-abrik dapurku?"


"Hei, Tuan. Saya hanya memasak tidak melakukan apapun, lagian tak ada barang yang rusak."


"Tapi, aku tidak suka."


"Kalau begitu, maaf!"


Darrel kembali ke kamar dan membersihkan diri, bersiap-siap berangkat ke kantornya.


Menarik kursi lalu duduk di hadapan Nayna. "Ke mana tujuan hari pertamamu di sini?" tanya Darrell.


"Saya tidak akan ke mana-mana tetap di sini!"


Darrell mengernyitkan keningnya.


"Saya di sini sebenarnya liburan sekaligus menjalankan misi," ucap Nayna.


"Aku tidak benar-benar paham apa yang kamu katakan," ujar Darrell.


"Tak perlu dipikirkan, Tuan jalankan saja pekerjaan hari ini. Rumah saya pastikan akan aman," ucap Nayna.


"Kamu tidak berniat mencuri, kan?"


"Jika memang ingin mencuri, buat apa saya jauh-jauh ke negara ini," jawab Nayna.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat kerja!"


"Iya, Tuan. Hati-hati di jalan!" Nayna melambaikan tangannya layaknya istri yang melepaskan suaminya pergi.


Setelah Darrell berangkat, Nayna lantas menghubungi Madya dan memberikan laporan.


-


Sementara itu di lain negara, Rissa masih dirundung kegundahan. Meskipun Biom mengatakan jika Nayna sedang berusaha membujuk Darrell agar segera pulang.


"Minumlah!" memberikan sebotol air mineral pada Rissa.


Wanita itu pun menengguknya.


"Nayna baru sehari tiba di sana, jika memiliki waktu ia akan menghubungi kamu. Berdoalah semoga kakakmu terbuka hatinya," ucap Biom.


Rissa mengangguk.


"Ayo kembali ke rumah sakit!" ajak Biom.


Rissa lantas berdiri.


"Jangan cemberut begini, aku tidak suka!" Biom menangkup wajah Rissa lalu mengecup keningnya.


Rissa pun tersenyum.


"Kita akan melewati cobaan ini," ujar Biom.


"Iya," ucapnya lirih.


-


Kota Berlin....


Nayna telah memasak menu hidangan makan malam buat mereka berdua, ia juga membersihkan apartemen milik Darrell.


Pria itu pun pulang, menarik sudut bibirnya memperhatikan sekeliling ruang tempat tinggalnya, "Aku pikir kamu hanya bisa menjadi pengawal saja, ternyata mampu juga jadi asisten rumah tangga."


"Ya, saya harus bisa melakukan apapun," ujar Nayna. "Saya sudah siap memasak, ayo kita makan!" lanjutnya.


"Aku mau mandi!"


"Baiklah, saya akan menunggu Tuan."


Tak lama kemudian, Darrell selesai mandi dan keduanya menikmati makan malam bersama.


"Apa Tuan Darrell memiliki kekasih?"


"Apa perlu aku memberitahumu?" balik bertanya.


"Terserah, Tuan mau menjawabnya atau tidak."


"Tuan, Nona Rissa ingin sekali menikah."


"Jangan membahas dia ketika lagi makan," Darrell tak suka.


"Oh, baiklah."


Selesai makan malam, Darrell menghabiskan waktunya di ruang santainya. Ia membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaan kantornya.


Nayna yang memegang ponsel mengarahkannya kepada Darrell. "Dia sedang bekerja, Nona!"


Darrell segera menoleh, tanpa sengaja ia melihat wajah adiknya di layar ponsel Nayna.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Darrell dengan nada dingin.


Nayna menurunkan ponselnya, "Saya hanya menelepon Nona Rissa, Tuan."


"Berapa kali aku bilang, jangan sebut nama itu di sini!" Darrell merampas ponsel Nayna.


"Kakak!" panggil Rissa dalam panggilan video telepon.


"Aku bukan kakakmu, jangan pernah mengganggu hidupku!" Darrell mematikan ponselnya.


"Kenapa Tuan mematikannya?"


"Jika kamu ingin bertelepon dengan dia, di kamar. Jangan di sini!"


"Bukankah ruang tidur saya di sini?" menunjuk sofa yang didudukkan Darrell.


"Ini peringatan bagimu, jangan pernah menyebut atau menghubungi dia di sini!"


"Terbuat dari apa hati anda, Tuan?"


Darrell menutup laptopnya.


"Tahu apa kamu tentang hatiku, hah!" sentaknya.


"Apa salahnya anda datang sebentar dan memberikan restu pada Nona Rissa dan kekasihnya?"


"Jangan mencampuri urusan ku!"


"Tuan, jangan egois. Nona Rissa adalah adik kandung anda sendiri, kalian keluar dari perut yang sama!"


"Tidak!" bentaknya. "Karena dia aku harus kehilangan kedua orang tuaku!" lanjutnya dengan nada marah.


"Apa Tuan saja yang merasa kehilangan? Tidak, kan? Nona Rissa juga merasakan yang sama!"


"Jika kamu tidak suka dengan peraturan yang aku buat, pergi!" usirnya.


"Baiklah!" Nayna pun keluar tanpa membawa apapun.


Darrell meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


Tak lama kemudian, ia keluar menyusul langkah Nayna.


"Tunggu!" panggilnya.


Nayna menoleh ke belakang.


"Mau ke mana?"


"Bukankah Tuan mengusir saya?"


"Kembalilah, ini bukan negaramu."


"Selama di sini, kamu adalah tanggung jawab aku!" Darrell mendekati Nayna dan menarik tangannya.


"Ternyata, Tuan masih punya hati yang lembut dan baik," puji Nayna.


"Jangan banyak bicara!"


"Saya akan berhenti bicara jika Tuan mau menuruti permintaan saya!"


"Memangnya kamu siapa aku?"


Nayna menjawabnya dengan tertawa.


"Aneh!"


"Saya memang aneh termasuk misi yang saya jalankan saat ini!"


Darrell berhenti, melepaskan tangan Raisa dan menoleh, "Misi apa yang kamu lakukan?"


"Saya diperintahkan untuk membawa Tuan Darrell pulang."


"Aku tidak mau pulang!"


"Jika Tuan tidak mau, saya akan tetap di rumah Tuan dan mengatakan kalau kita adalah suami istri!"


"Apa kamu sudah gila?" sentak Darrell.


"Ya, saya gila karena misi yang menurutku memang aneh. Menyuruh pria keras kepala dan egois untuk pulang hanya untuk merestui kebahagiaan adiknya sendiri."


Darrell terdiam, ia mempercepat langkahnya.


Nayna menyusulnya.


Sesampainya di apartemen, Darrell berkata, "Aku mau tidur, ku harap kamu tidak mengganggu ku!"


"Baik, Tuan."


****


Dua hari kemudian, masih di Kota Berlin...


Darrell bangun pagi seperti biasa, karena selama Nayna tinggal bersamanya ia tak perlu menyiapkan sarapan lagi.


Namun, pagi ini kelihatan berbeda. Darrel tak mendengar suara berisik dari arah dapur atau kran air berbunyi.


Darrell melangkah ke dapur dan melihat semua hening seperti hari-hari biasanya.

__ADS_1


Tak ada makanan tersaji di meja. Koper milik Nayna masih tergeletak di dekat sofa.


"Di mana dia?" gumamnya.


Darrell melangkah mencari sosok wanita yang menemaninya selama 4 hari ini.


Suara bel berbunyi membuat Darrell segera menoleh dan melangkah ke arah pintu masuk.


Darrell membuka pintunya.


"Selamat ulang tahun, Tuan!"


Darrell melihat Nayna memegang kue berukuran kecil dengan sebuah lilin.


Nayna lalu masuk dan memberikan kue kepada pria yang ada dihadapannya.


Darrell duduk, meletakkan kue di atas meja lalu mengipas api lilin dengan tangan kanannya dan kemudian padam.


"Dari mana kamu tahu aku berulang ulang tahun hari ini?"


"Nona Rissa," jawab Nayna.


"Oh."


"Beberapa hari yang lalu dia selalu mengingatkan saya agar tak lupa memberikan kejutan kepada Tuan. Dia juga titip salam pada anda dan selalu mendoakan kebaikan buat Tuan."


"Dia ingin merayuku, agar aku mau pulang," singgung Darrell.


"Saya rasa tidak, mungkin kebetulan saya berada di sini makanya dia titip karena kesibukannya di rumah sakit tak sempat membawanya ke kota ini," jelas Nayna.


"Aku tetap tidak akan pulang," Darrell beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah ke kamar.


Darrell mengambil ponselnya dan melihat akun sosial media miliknya. Tak ada sama sekali pesan dari Rissa yang selalu dikirim wanita itu ketika dirinya berulang tahun.


Ya, sejak beberapa hari terakhir ini Rissa tak pernah mengirimkan pesan mengiba Darrell beranggapan jika Nayna adalah cara adiknya itu membujuknya.


Darrell menggunakan topi melangkah keluar kamar.


"Tuan, mau ke mana?"


Darrell tak menjawab.


Nayna pun mengikutinya.


Beberapa menit perjalanan menggunakan bus, mereka tiba di sebuah taman kecil tak jauh dari kediaman Darrell.


"Kenapa kita di sini?"


"Ketika kedua orang tuaku hidup kami selalu ke sini dua tahun sekali, karena ibuku memiliki keluarga di kota ini. Namun, mereka kini telah pindah," jelas Darrell.


"Apa ini menjadi alasan Nona Rissa tak mau ke sini?"


"Jadi, kamu tahu alasan sebenarnya?" Darrell menoleh ke arah Nayna disampingnya.


"Nona Rissa selalu menolak jika diajak ke kota ini, alasannya karena rumah sakit tak mengizinkan libur atau terkadang sibuk ," ungkap Nayna.


"Sekarang kamu sudah tahu 'kan siapa yang keras kepala," ucap Darrell.


"Trauma, menjadi alasan Nona Rissa tak mendatangi tempat ini. Apalagi Tuan Darrell sangat membencinya, itu menambah rasa malas dan takut berkunjung di sini."


"Kamu terus membelanya!" Darrell memutar tubuhnya lalu melangkah.


"Saya tidak membelanya, Tuan. Saya hanya kasihan dengannya, hidup seorang diri tanpa kedua orang dan kakak kandungnya. Nona Rissa mengurungkan cita-citanya menjadi model karena mama kalian menginginkannya menjadi dokter." Nayna mempercepat langkahnya dan mensejajarkan posisinya.


Darrell tak membantahnya, ia terus berjalan.


Ponsel Nayna berdering membuat ia menghentikan langkahnya dan menjawabnya.


"Halo, Nyonya!" Nayna berkata sambil berjalan.


"Apa? Nona Rissa kecelakaan!" Langkah Nayna terhenti.


Darrell mendengar Rissa mengalami kecelakaan menghentikan langkahnya.


"Saya akan segera kembali, Nyonya." Nayna memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya setelah Madya lebih dahulu menutupnya.


Darrell melanjutkan langkah kakinya.


"Tuan, siang ini saya harus ke bandara dan pulang," ucap Nayna.


"Ya sudah, pulang sana!"


"Nona Rissa kecelakaan, mobil yang dikendarainya mengalami kerusakan delapan puluh persen. Dan Nona Rissa kini belum sadar karena luka dialaminya sangat parah."


Darrell benar-benar tidak peduli.


Ponsel Nayna kembali berbunyi, sebuah notifikasi pesan masuk. Ia bergegas membukanya.


"Astaga!" Nayna tampak terkejut membuat Darrell menghentikan langkah kakinya.


"Tuan, lihatlah!" Nayna mendekat dan menunjukkan 2 buah foto di ponselnya.


Seketika tubuh Darrell kaku, menatap foto Rissa yang pucat penuh darah dan mobilnya hancur.


"Tuan!" panggil Nayna lirih.


"Aku ikut kamu pulang!"

__ADS_1


Nayna pun tersenyum, akhirnya Darrell mau pulang ke tanah air. "Semoga Nona Rissa baik-baik saja. Tuhan, selamatkan dia!" batinnya.


__ADS_2