
Begitu suaminya tiba Astrid lantas memeluknya dan menangis.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa bertemu dengan Randy?" Alpha mengelus rambut istrinya.
"Aku tadi hampir di rampok dan dia datang menolong, tapi para pria itu menusuknya!" jawab Astrid terisak. "Aku takut, sayang. Bagaimana jika...."
"Sayang, tenanglah. Jangan berpikir begitu, kita berharap semoga Randy baik-baik saja!" Alpha menangkup wajah sang istri.
Astrid menghapus air matanya meskipun bahunya masih bergetar.
"Duduklah dan minumlah!" Alpha membuka tutup botol air mineral lalu ia berikan pada istrinya.
Astrid meminum air mineral dengan tangan gemetaran.
Alpha merangkul tubuh istrinya dan mengecup ujung kepalanya agar tenang.
"Sayang, kita harus memberitahu Elia," ucap Astrid.
"Tidak, sayang."
"Kenapa?" tanya Astrid menatap suaminya masih dengan mata berair.
"Nyonya Besar tidak mau Elia bertemu dengan Randy lagi," jawab Alpha.
Sementara itu, di kediaman Harsya...
Elia datang berkunjung ke rumah kakak kandungnya bersama dengan putranya.
Begitu sampai dirinya disambut kakak iparnya.
Anaya memeluk keponakannya.
"Di mana Kak Harsya?"
"Ada di atas, tempat favoritnya," jawab Anaya menyebut balkon rumah.
"Oh."
"Kebetulan kamu datang kita makan siang bersama, ya!" ajak Anaya.
"Iya, Kak."
"Aku mau panggil Kakakmu!"
"Biar aku saja, Kak!" Elia menawarkan diri.
"Ya sudah," Anaya mengizinkannya.
Elia menaiki tangga menemui kakaknya, ia berhenti tak menegur karena Harsya sedang bertelepon dengan seseorang.
"Kamu bersama Randy dan dia di rumah sakit?"
Elia mendengar Harsya menyebut nama mantan suaminya degup jantungnya berdetak kencang, perasaan khawatir tiba-tiba muncul.
Harsya menutup ponselnya lalu membalikkan tubuhnya. Ia berjengit kaget karena melihat adiknya kini berada dihadapannya.
"Kakak baru menelepon siapa? Siapa yang di rumah sakit? Apa benar Randy papanya Elra?" cecar Elia.
"Bukan siapa-siapa, El."
"Kakak jangan bohong!"
"Elia, kenapa kamu datang tidak memberitahu Kakak?" Harsya mengalihkan pembicaraan.
"Kakak, jawab pertanyaan aku tadi!"
"Pertanyaan yang mana?"
"Apa benar Randy masuk rumah sakit?" tanya Elia lagi.
Harsya menghela lalu mengangguk.
"Kenapa dia berada di sana?"
"Randy menolong Astrid yang hendak di rampok, lalu salah satu perampok menusuknya," jelas Harsya.
__ADS_1
Elia menutup mulutnya tak percaya.
"Luka di perutnya sudah diobati kamu tidak perlu khawatir," ucap Harsya.
"Dia di rumah sakit mana, Kak?"
"Kamu ingin ke sana?"
"Ya."
"Kakak tidak mengizinkanmu ke sana!" ucap Harsya tegas.
"Kak, aku benar-benar khawatir dengannya apalagi dia ingin bertemu Elra kalian menghalanginya!"
Harsya terdiam.
"Kalian menyuruh Kak Alpha dan Kak Biom. Bukankah Kakak dan ibu yang menyatakan jika Randy ingin bertemu dengan Elra melalui mereka?"
Harsya masih bergeming.
"Aku harus menemuinya, Kak!"
"Elia, kamu tidak boleh bertemu dengannya!"
Elia tak menghiraukan perkataan sang kakak, ia membalikkan badannya dan melangkah.
Harsya mengejar langkah adiknya dan menarik tangannya. "Kakak dan ibu tidak mengizinkanmu berhubungan lagi dengan dia!"
"Bukankah Kakak seorang ayah? Begitu juga dengan Randy. Elra membutuhkan papanya. Kenapa dia tak boleh bersamanya?" tanya Elia menatap wajah Harsya.
"Apa kamu tidak ingat perlakuan mereka kepada keluarga kita?"
"Semua salah ayah, Kak. Dia menduakan ibu dan imbasnya kepada kita. Randy dan mamanya adalah korban keserakahan wanita yang telah dijanjikan kebahagiaan oleh Tuan Abraham Syahbana!"
Harsya melepaskan tangan adiknya.
"Aku tidak mau Elra kehilangan sosok ayah," Elia berkata dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Harsya dengan suara rendah.
Elia terdiam.
"Iya, Kak." Lirihnya.
Harsya menghela napas.
"Kak, apa salah aku masih mencintainya? Perusahaan miliknya telah ia berikan atas namaku. Randy telah berubah, Elra membutuhkannya," ungkap Elia.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan tidak ingin kembali bersamanya?"
"Ya, Kak. Tapi, setelah Randy tahu semuanya dia mulai berubah apalagi aku pergi ketika sedang hamil."
"Lalu bagaimana dengan ibu?" tanya Harsya.
Elia terdiam.
-
Dua jam perjalanan dengan jalur udara, akhirnya Elia tiba di kota E. Begitu sampai, ia dan putranya bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya Elia tak menemukan mantan suaminya di kamar inap. Hal itu membuat Alpha dan istrinya juga tak percaya karena sejam lalu mereka masih mengobrol.
Alpha dan Astrid lalu meminta izin pada Randy untuk menjemput Elia di bandara.
Alpha segera bertanya kepada perawat yang berjaga di dekat kamar inapnya Randy. Setelah mendapatkan informasi gegas menghampiri Elia.
"Dia sudah pergi setengah jam lalu," ucap Alpha.
Elia tampak kecewa.
"Di mana kamu pertama kali bertemu Randy, sayang?" tanya Alpha pada istrinya.
Astrid menyebut nama jalan yang hampir membuatnya kehilangan tas miliknya.
"Kita akan ke sana, siapa tahu usaha toko pakaian Randy di sekitarnya," ujar Alpha.
__ADS_1
Kedua wanita itu pun setuju.
Mereka pun berangkat ke jalan yang disebutkan Astrid.
Sesampainya di sana Alpha keluar dari mobil dan bertanya pada warga sekitarnya.
Mereka pun mendatangi toko pakaian Randy yang hanya berjarak 150 meter dari tempat kejadian.
Begitu memasuki toko, Alpha lalu bertanya kepada karyawan tentang keberadaan Randy.
"Kak Randy tidak ada kemari, mungkin dia berada di rumah kontrakannya," jelas laki-laki muda yang ditaksir berusia 21 tahun.
"Apa kamu tahu alamat rumahnya?" tanya Alpha.
"Iya, Tuan." Jawabnya, ia lalu menyebutkan alamat rumah.
Mereka pun pergi mencari keberadaan Randy Hampir 20 menit menyusuri jalanan akhirnya tiba di sebuah rumah kecil tanpa halaman.
"Apa benar ini rumahnya, Kak?" tanya Elia belum yakin.
"Sesuai alamat yang diberi dan bertanya pada warga memang benar," jawab Alpha.
Elia keluar dari mobil bersama dengan putranya. Alpha, istrinya, beserta para pengawal dan sopir menunggu di kendaraan masing-masing.
Elia mengetuk pintu yang tidak tertutup.
"Siapa?" teriak seorang pria dari arah dalam rumah.
Elia mengucapkan salam dan memasuki rumah tersebut.
Randy lantas menoleh dan berdiri, "Elia!"
Wanita itu melemparkan senyumnya dengan mata berkaca-kaca.
"Dari mana kalian tahu alamatku?" tanya Randy gugup.
"Kami tadi ke tokomu," jawab Elia, ia menurunkan putranya dari gendongan.
Balita lucu itu berjalan pelan menghampiri Randy.
Dengan cepat, Randy memeluk putranya dan mencium wajahnya. "Papa pikir kita tidak pernah bertemu lagi!" ia meneteskan air matanya.
Elia mendekat.
"Kenapa pergi dari rumah sakit?" tanya Elia.
"Aku tidak ingin....."
"Bertemu dengan kami?" tebak Elia.
Randy mengangguk.
"Kenapa menghindari kami? Apa kamu tidak menyayangi kami lagi?" cecar Elia.
"Bukan begitu maksudnya, El."
"Lalu apa?" tanya Elia.
"Keluargamu ingin aku menjauhi kalian."
"Terus kamu menyerah begitu saja?" Elia bertanya lagi.
Randy terdiam.
"Kamu tahu kenapa sampai sekarang aku masih sendirian?"
Randy menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku berharap kamu berubah dan mengejarku lagi. Tapi, kamu malah menghindariku. Apa hanya segitu rasa cintamu pada kami?" Elia tak dapat menahan air matanya.
Randy yang tak ingin melihat Elia bersedih lantas menarik tubuh wanita itu dan memeluknya, "Aku sangat merindukanmu, El. Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Aku janji akan menjadi seorang suami dan ayah yang baik!"
Tangis Elia pun pecah.
"Sudahlah, jangan menangis. Diluar ada Kak Alpha dia bisa menghajarku," celetuk Randy.
__ADS_1
Elia melepas pelukannya dan menyeka air matanya, "Biarin di hajar Kak Alpha!"
Randy tertawa kecil.