
Madya kembali menyuruh Nayna mengantarkan nasi dan lauk pauk serta sayur mayur buat Darrell.
Permintaan itu memang sengaja diminta keponakannya dengan alasan malas keluar rumah.
Nayna pun terpaksa membawa makanan buat makan malam untuk Darrell. Padahal ia ingin menghindari pria itu.
Seperti biasa, Nayna akan menekan bel terlebih dahulu. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka.
Darrell tersenyum dan menyapa wanita yang ada dihadapannya.
Nayna membalas senyuman Darrell dengan singkat, ia lalu menyodorkan kantong kertas berisi makanan. "Buat, Tuan. Kalau begitu saya permisi!"
Mengambil kantong pemberian Nayna, dengan cepat Darrell menarik tangan wanita itu dan membawanya masuk. Gegas menutup pintu.
"Tuan..." Tubuh Nayna terbentur dinding.
"Aku tidak mau kamu menghindar lagi, sekarang temaniku!" Darrell menatapnya.
"Saya tidak bisa, Tuan. Kita hanya berdua di sini!" Nayna menolak dan mendorong tubuh Darrell agar menjaga jarak.
"Bukankah di Berlin kita tinggal serumah?"
"Kita memang serumah tapi tidak seranjang," jawab Nayna.
"Jadi, kamu mau kita seranjang?" tantang Darrell.
Nayna terdiam.
"Jadwal kerja kamu telah selesai, kan? Jadi, temani aku makan."
"Saya memang telah selesai bekerja, makanya ingin segera pulang," ujar Nayna.
"Kenapa buru-buru?"
Nayna tak menjawab.
"Tolong, kamu sajikan makanan itu di meja," titahnya.
"Maaf, Tuan." Nayna melangkah ke arah pintu.
Lagi-lagi Darrell menarik tangan Nayna hingga wanita itu jatuh dipelukannya.
"Kenapa sekarang kamu menjauhiku?" tanya Darrell menatap wajah Nayna yang berada di dadanya.
Nayna mendongakkan kepalanya sehingga kedua mata keduanya saling bertemu.
"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Darrell.
Nayna melepaskan pelukannya, dengan cepat kakinya mundur selangkah dan menundukkan pandangannya. Ia lalu menjawab, "Tidak, Tuan!"
"Apa alasan kamu menjauhiku?"
"Tugas saya membujuk anda kembali sudah selesai dan Tuan Darrell juga telah memiliki pekerjaan."
"Lalu kamu ingin pergi menjauh dariku begitu?"
Nayna menaikkan wajahnya lalu menatap Darrell. "Saya harus kembali bekerja seperti biasa, menjadi pengawal pribadi Nyonya Madya."
"Setelah itu, apakah kamu tidak memiliki waktu untukku?"
"Maaf, Tuan. Hubungan kita hanya sebagai atasan dan bawahan. Anda adalah keluarga Tuan Muda jadi tak pantas saya dekat dengan anda," jelas Nayna. "Kalau begitu saya permisi!" pamitnya sedikit menundukkan kepalanya.
Nayna lalu membalikkan tubuhnya.
Darrell yang tak puas dengan jawaban Nayna kembali menarik lengan wanita itu dan mendorongnya ke dinding.
Darrell secara cepat membenamkan ciuman di bibir Nayna.
Mendapatkan ciuman mendadak membuat Nayna mendelikkan matanya dan terkejut, ia mendorong tubuh Darrell dengan kasar.
Nayna mengelap bibirnya dengan lengan pakaiannya, wajahnya memerah menahan amarahnya.
"Brengsek!" Nayna mendesis.
Tanpa berlama-lama, ia melayangkan tamparan keras di pipi Darrell dan mendaratkan satu pukulan di perut pria itu.
Darrell terhuyung karena mendapatkan pukulan keras di perutnya.
"Saya memang menyukai Tuan, tapi saya tidak bisa direndahkan seperti ini!" Nayna menekan kata-katanya.
Bergegas Nayna pergi meninggalkan kediaman Darrell dengan mata berkaca-kaca.
Darrell masih memegang perutnya terpaku mendengar pernyataan Nayna.
"Dia menyukai ku?" gumamnya.
-
Darrell berdiri di depan cermin, melihat ujung bibirnya yang berdarah karena tamparan keras dari Nayna.
"Seram juga dia kalau marah," gumam Darrell menyentuh bibirnya seraya mengobatinya.
__ADS_1
Selesai mengobati lukanya, ia masih kepikiran tentang ucapan Nayna yang menyukainya.
Darrell meraih ponselnya lalu menghubungi Madya. "Halo, Bibi!"
"Halo, Darrell. Apakah makanan yang Bibi kirim sudah sampai?"
"Sudah, Bi."
"Ya sudah, kamu makanlah!"
"Sebentar lagi aku akan memakannya. Bibi, apa aku bisa minta tolong?"
"Tolong apa?"
"Apa Bibi tahu alamat rumah Nayna?"
"Kenapa kamu menanyakan alamat rumahnya?" balik bertanya.
Darrell sejenak berpikir mencari alasan, agar Madya tak curiga.
"Darrell!"
"Iya, Bi. Tasnya Nayna ketinggalan," ucap Darrell.
"Kenapa kamu tidak telepon saja dia? Kamu memiliki nomor kontaknya, kan?"
"Apalagi alasannya ini?" Darrell membatin.
"Darrell, jangan bilang kalau kamu sedang memiliki masalah dengan Nayna," tebak Madya.
"Aku tidak memiliki masalah dengannya, Bi."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Madya lega.
"Apa Bibi bisa mengirimkan alamat rumahnya?"
"Bibi akan kirimkan."
"Terima kasih, Bi." Darrell begitu senang.
Madya menutup teleponnya lalu mengirimkan pesan kepada keponakannya itu.
Mendapatkan alamat rumah Nayna membuat Darrell menarik ujung bibirnya.
-
Selesai makan, Darrell bersiap-siap pergi ke rumah Nayna. Karena dia sudah lama tidak tinggal di kota ini, ia berusaha mencari alamat dengan perlahan.
Sejam menyusuri jalanan dengan bertanya kepada orang-orang yang melintas akhirnya rumah Nayna ia temukan.
Darrell memberanikan diri untuk bertamu.
Darrell mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian Nayna membukanya.
Wanita itu tampak terkejut dengan kedatangan Darrell. "Tuan, kenapa malam-malam begini ke sini?"
"Siapa, Nay?" teriak seorang wanita paruh baya dari kejauhan.
"Tuan Darrell, Bu."
"Apa aku boleh masuk?" tanya Darrell.
"Mau apa Tuan ke sini?"
"Kita bicara di dalam saja, ya."
Ibunya Nayna menghampiri keduanya. Wanita itu tersenyum pada Darrell.
"Nay, suruh masuk!" perintahnya kepada putrinya.
Darrell tersenyum.
"Iya, Bu. Silahkan masuk, Tuan!"
Darrell masuk kemudian duduk.
"Nay, buatkan minuman untuknya. Ibu mau tidur," perintahnya lagi.
"Iya, Bu." Ucap Nayna, lalu melangkah ke dapur menyiapkan minuman.
"Tuan, saya izin ke kamar. Maaf saya tinggal," pamitnya.
"Iya, Bi. Selamat malam dan selamat tidur," ucap Darrell dengan sopan.
Wanita itu tersenyum tipis kemudian berlalu.
Nayna membawa secangkir teh hangat lalu ia letakkan di meja berhadapan dengan Darrell.
Nayna duduk beberapa langkah dari tamunya. "Kenapa Tuan datang kemari?"
"Aku ingin minta maaf!"
__ADS_1
Nayna tersenyum sinis.
"Aku benar-benar khilaf, Nay!"
"Khilaf? Apa kebiasaan Tuan di luar negeri tak bisa dihilangkan di sini?" sindirnya.
"Nay, aku benar-benar minta maaf."
"Baiklah, saya memaafkan Tuan. Semoga sikap seperti tadi tidak dilakukan kepada wanita lain," ujar Nayna.
"Kenapa tidak boleh melakukannya jika saling mencintai?" tanya Darrell.
Nayna lalu menjawab, "Jika sudah menikah tidak masalah."
"Aku pikir kamu cemburu, karena aku mencium wanita lain," singgung Darrell.
Jleb....
"Nay, ada yang ingin aku tanyakan padamu?"
"Ya, silahkan."
"Apa kamu benar-benar menyukaiku?" tanya Darrell.
Nayna terdiam.
"Sejak kapan?" tanya Darrell lagi.
"Saya tidak menyukai Tuan," jawab Nayna.
"Tadi sore yang kamu ucapkan?"
"Saya hanya salah bicara," jawab Nayna lagi.
Darrell tertawa kecil, "Salah bicara tapi begitu jelas kata-katanya."
"Tuan, saya ingin beristirahat. Bisakah pulang lebih awal?"
"Aku belum minum tehnya."
"Kalau begitu, silahkan diminum!" Nayna berkata tanpa menatap.
Darrell mengambil cangkir teh lalu menyeruputnya, seraya pandangannya mengarah pada Nayna yang tampak malu dan salah tingkah.
Darrell meletakkan cangkir lalu berkata, "Sekarang aku sudah tahu, siapa pria yang kamu sukai."
Nayna mengangkat wajahnya dan menatap Darrell.
"Baru kali ini aku menemukan wanita yang secara terang-terangan mengakui suka padaku."
Nayna menarik napasnya dan membuang wajahnya.
"Sepertinya hari larut malam, aku harus segera pulang," Darrell beranjak berdiri.
"Kamu tidak mengantarkan aku sampai depan pintu pagar?" tanya Darrell lagi.
Nayna pun terpaksa berdiri.
"Senyumlah!" Darrell menggoda.
Nayna memaksa tersenyum.
"Sangat manis!" pujinya.
"Jadi pergi atau tidak?"
"Kalau aku menginap di sini, boleh?"
Nayna menyipitkan matanya.
"Maaf!" ucap Darrell sembari tertawa.
Nayna yang tak sabar mendekati Darrell dan mendorong tubuh pria itu keluar dari rumah.
"Apa begini caramu memperlakukan tamu?"
"Ini hanya berlaku pada Tuan yang bertamu malam-malam," jawab Nayna.
Darrell menahan dorongan Nayna sehingga wanita itu menubruknya.
Nayna hampir saja jatuh, beruntung dengan cepat Darrell menahannya dan membuatnya memeluk pria itu.
"Kenapa kamu senang sekali memelukku?"
Nayna yang segera sadar melepaskan pelukannya dan menjawab, "Maaf!"
"Aku sudah memaafkanmu, kalau begitu aku pamit pulang. Selamat malam dan mimpi yang indah!"
Nayna hanya memasang wajah ketus.
"Apa aku boleh mengecup keningmu?"
__ADS_1
Nayna menatap tajam.
"Aku hanya bercanda!" Darrell menyengir.