
Tiga bulan pasca pernikahan, Rissa menjadi seorang ibu rumah tangga sungguhan. Pagi-pagi sekali dia bangun menyiapkan sarapan buat suaminya.
Mencuci wajah dan menyikat gigi, Rissa melangkah ke dapur. Pagi ini ia akan memasak nasi goreng dengan telur ceplok.
Biom terbangun karena tak mendapatkan istrinya di sampingnya. Menyibak selimut, ia lalu turun kemudian melangkah menyusul ke dapur.
Melihat sang istri sedang memasak, Biom memeluk wanita itu dari belakang.
"Aku lagi memasak, bisakah kamu tidak menggangguku?"
"Kenapa cepat sekali kamu bangun?" tanya Biom dengan dagu di topangnya di bahu istrinya.
"Aku sudah terbiasa," jawabnya.
"Hari ini kita libur berdua, aku ingin berlama-lama dengan kamu di kamar," ucap Biom, matanya masih terpejam.
Rissa mematikan kompor, lalu membalikkan badannya menatap sang suami. "Nanti kita lanjutkan, sekarang cuci wajahmu dan sarapan."
"Kamu harus janji kita seharian di rumah saja, tak ada keluar," ujar Biom.
"Aku tidak bisa janji, karena nanti sore mau ke rumah Kak Darrell."
"Baiklah, aku akan temanimu ke sana."
"Terima kasih, sayang."
-
-
Sore harinya, Biom dan istrinya pergi ke rumah Darrell.
Begitu sampai, pria itu pun bersamaan tiba di rumah. Rissa dan Biom keluar dari mobil.
"Rissa, kenapa tidak memberitahu aku kalau mau main ke sini?" Membuka pintu rumahnya.
"Aku lupa memberitahu, ini aku membawa makanan untuk Kak Darrell. Nanti kita makan bersama-sama," jawab Rissa, kemudian melangkah ke dalam.
"Oh, baiklah."
"Bagaimana hubungan Kak Darrell dengan Nayna?" tanya Biom.
"Kak Darrell sudah jadian dengan dia?" tanya Rissa.
"Iya, sudah."
"Kenapa dia bisa menerima Kak Darrell, sih?" tanya Rissa heran.
"Karena aku sangat tampan dan mempesona," jawab Darrell bangga.
Biom yang mendengarnya hanya mengulum senyum.
"Pasti Nayna, Kak Darrell ancam 'kan?" tuding Rissa.
"Mana mungkin aku mengancamnya, yang ada dia akan menghajarku," jawab Darrell.
"Jadi, kapan Kakak akan melamarnya?" tanya Biom.
"Aku harus tanya Rissa," jawab Darrell.
"Kenapa tanya aku, Kak?"
"Kamu adikku satu-satunya, jadi harus minta restu padamu terlebih dahulu," jawab Darrell.
"Aku setuju saja, kalau Kak Darrell ingin menikahi Nayna."
Darrell tersenyum lalu memeluk adiknya.
"Kakak, jangan kuat-kuat memelukku kasihan calon keponakanmu!" Rissa mendorong tubuh kakak kandungnya itu.
"Kamu lagi hamil?" Darrell menatap adiknya.
__ADS_1
Rissa mengangguk mengiyakan.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Darrell.
"Baru dua bulan, Kak."
Darrell kembali tersenyum senang. "Sebentar lagi aku akan menjadi paman."
"Iya, Kak. Do'akan calon bayi kami sehat hingga dia lahir ke dunia begitu juga dengan ibunya," ucap Biom.
"Aku selalu mendoakan kebahagiaan kalian berdua," ujar Darrell.
-
Malam hari pun tiba...
Ketiga orang itu pun menikmati makan malam bersama.
"Seandainya Kak Darrell menikah apa Nayna akan menjadi pengawal pribadi Bibi Madya?" tanya Rissa.
"Sepertinya tidak, aku tidak mau dia kembali bekerja. Lagian juga Kakak akan tinggal bersama dengan ibunya dan di rumahnya."
"Lalu rumah ini, bagaimana?" tanya Rissa.
"Bagaimana kalau kita sewakan saja?" tanya Darrell balik lagi. "Tapi terserah kamu, mau di jual pin juga tidak apa-apa karena ini memang milik kamu," lanjutnya.
"Kalau dijual kenapa aku tidak rela, Kak."
"Memang lebih baik disewakan saja," Biom menyahut.
"Iya, Rissa. Memang lebih baik begitu. Setelah menikah juga aku akan membeli rumah karena masih ada uang warisan dari orang tua kita." Jelas Darrell.
"Ya sudah mana baiknya saja," ucap Rissa.
"Ngomong-ngomong ini masakan siapa?" tanya Darrell.
"Rissa, Kak." Jawab Biom.
"Sangat enak, setelah menikah kamu pintar juga memasak," ucap Darrell.
"Terima kasih, istriku!" Biom menampilkan senyum manisnya.
"Huh, kalian buat aku ingin buru-buru menikah," celetuk Darrell.
****
Rama dan istrinya pergi mengunjungi kediaman orang tuanya. Kunjungan tersebut bukan kali pertama tapi sudah beberapa kali sejak mereka menikah.
Kedatangan mereka disambut beberapa keluarga yang hadir karena kebetulan ibunya Rama sedang merayakan hari lahir.
Meskipun hanya sekedar makan-makan tapi itu dilakukan untuk mempererat silaturahmi.
"Rama, apa istrimu sudah hamil?" tanya adik ibunya.
"Belum, Bi. Mohon doanya agar segera diberikan momongan," jawab Rama.
"Kenapa lama sekali? Sudah di periksa belum ke rumah sakit?" tanya wanita itu lagi.
"Sudah, Bi. Tak ada penyakit yang serius, hanya memang belum di izinkan saja," jelas Rama.
"Syukurlah, kalau tak ada penyakit serius." Wanita itu pun kemudian berlalu.
"Ini alasan kenapa aku tidak mau hadir," sahut Intan.
"Sayang..."
"Aku sedih tahu, padahal ku ingin segera memiliki anak. Tapi, memang belum diizinkan." Intan menunduk bersalah.
"Hei, jangan seperti itu. Jika kamu stress, itu bisa mempengaruhi kesehatanmu," Rama memegang kedua bahu istrinya.
"Kalau begitu, ajak aku jalan-jalan," ucap Intan.
__ADS_1
"Biom lagi cuti, tidak mungkin ku mengambil dalam waktu dekat. Bagaimana kalau bulan depan?"
"Baiklah, tapi bolehkah aku pergi mengunjungi Kak Anaya?"
"Tentunya boleh."
"Sudah lama ku tidak bermain dengan Hana."
"Besok pagi kamu ikut ke rumah utama," ucap Harsya.
"Baiklah, suamiku." Intan tersenyum senang.
Sebagian keluarga dan saudara telah berpamitan pulang. Intan membantu suami dan adik iparnya membereskan beberapa piring kotor lalu mencucinya.
Sepupunya Rama yang perempuan juga sebelumnya telah mencuci piring dan giliran mereka untuk membersihkan sisanya.
Di tengah aktivitas Rama yang sedang membersihkan meja prasmanan. Dia kedatangan tamu yang tak diundang.
Ibunya Rama menyambut dengan ramah tamunya. "Apa kabar Sisil?" memeluk wanita itu.
"Aku baik, Tante. Maaf, datang terlambat," ucapnya seraya menyerahkan sebuah kado.
Mendengar suara Sisil dan ibunya bicara, Rama gegas menghampiri keduanya.
"Nah, itu Rama!"
"Iya, Tante."
"Tante, tinggal 'ya. Kalian bicara saja," ucap wanita paruh baya itu.
"Iya, Tante!" Sisil tersenyum manis.
"Siapa yang mengundangmu?" tanya Rama ketus.
"Ibumu."
"Silahkan masuk, aku mau lanjut berberes."
"Kenapa kamu yang berberes? Di mana istrimu harusnya dia yang membantu mengurusi rumah mertuanya?" tanya Sisil mempengaruhi pikiran pria di hadapannya itu.
"Istriku bukan pembantu, walaupun dia membantu itu hanya sekedarnya. Lagian juga kamu tidak ada hak ikut campur urusanku!"
Sisil terdiam.
Rama pun berlalu.
Sisil tampak kesal, ia menyentak kakinya.
Intan telah mengetahui kedatangan mantan kekasih suaminya dari ibu mertuanya, makanya ia menghentikan kegiatannya mencuci piring.
"Kenapa tidak ditemani mengobrol?" sindir Intan ketika suaminya menghampirinya.
"Bukan aku yang mengundangnya, biarkan saja!"
"Tapi,..."
"Kamu sudah selesai mencuci piringnya?"
"Sudah."
"Ayo sekarang kita pulang!" ajak Rama.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Intan.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sore keliling kota," Rama memberikan alasan.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Intan membuka apron.
Keduanya pun berpamitan kepada kedua orang tuanya Rama dan adik-adiknya serta beberapa saudara yang masih tinggal.
"Tante, kenapa Rama pulang?" tanya Sisil ketika melihat mobil mantan kekasihnya itu pergi.
__ADS_1
"Mereka ingin membuat cucu untukku," jawab wanita itu asal.
Sisil yang mendengarnya semakin kesal.