
Beberapa bulan kemudian...
Darrell telah mendapatkan izin dari Madya dan Harsya akan meminang Nayna menjadi istrinya.
Pagi ini Darrell beserta beberapa keluarganya datang untuk melamar Nayna. Keduanya duduk saling berhadapan.
Harsya dan istrinya berhalangan hadir karena sedang menjalani liburan ke luar negeri bersama Alpha dan Rama.
Panitia membuka acara, para tamu tampak begitu khidmat mendengarnya.
Sejam berlalu acara pun selesai, keluarga dan saudara memberikan ucapan selamat kepada kedua calon pengantin.
Acara pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi, karena butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya.
Rissa yang usianya kandungannya menginjak 6 bulan tak hentinya mengunyah. Bobot tubuhnya naik 10 kg.
"Sayang, ingat tubuhmu nanti tidak kuat berjalan," ucap Biom.
"Makanannya sungguh enak, sayang. Kamu tidak ingin coba?" Rissa menyodorkan sate ayam di mulut suaminya.
"Sayang, jika kamu tidak habis makannya. Aku juga yang akan memakannya," celetuk Biom.
Rissa hanya tersenyum nyengir.
"Cepat makannya, sebentar lagi kita akan pulang," ucap Biom.
"Aku mau membungkus ini," pinta Rissa.
"Nanti kita beli saja," ujar Biom.
"Aku mau yang ini, suamiku!" rengeknya manja.
"Sayang, malu. Ini rumah orang, apa kata orang istri dari asisten pribadi Harsya Brahmana suka meminta makanan orang lain," celetuk Biom.
"Nayna bakalan jadi kakak ipar aku, tidak apa-apa kalau kita minta," ujar Rissa.
"Kamu mau apa, Rissa?" tanya Ibunya Nayna dengan senyuman, wanita itu sempat mendengar percakapan pasangan suami istri tersebut.
"Tidak ada, Bibi!" Biom dengan cepat berucap.
"Bibi tadi mendengarnya, jika Rissa mau bawa saja. Lagian acara juga telah selesai."
"Tidak perlu, Bi!" tolak Biom dengan sopan.
"Suamiku, rejeki tidak boleh di tolak," Rissa berkata pelan.
"Sebentar Bibi akan bungkuskan!"
"Iya, Bi." Ucap Rissa senang.
Tak lama kemudian wanita paruh baya itu datang membawa wadah makanan dari bahan plastik. Ia lalu memasukkan sate beserta bumbu ke dalam tempat itu.
Ibu Nayna menyerahkannya kepada Rissa.
"Bibi, terima kasih," Rissa begitu senang.
"Kalian sudah Bibi anggap seperti anak sendiri, apalagi kamu akan menjadi adik iparnya Nayna."
Rissa tersenyum mendengarnya.
"Jika kamu ingin sesuatu, Bibi akan masakan untukmu," ucap wanita paruh baya itu.
"Iya, Bi. Aku senang Bibi telah menganggap sebagai anak sendiri," ujar Rissa.
"Bibi, terima kasih. Kalau begitu kami pamit," ucap Biom.
Ibu Nayna mengangguk mengiyakan.
Rissa kini berada di dalam mobil bersama suaminya dan Darrell. Ketiganya meninggalkan tempat bersamaan dengan kendaraan keluarga dan saudara lainnya.
Di dalam mobil, Rissa duduk di kursi penumpang belakang menikmati kembali sate ayam yang dibawakan untuknya.
"Lihatlah kelakuan adikmu itu, Kak. Tak tahu malu dia di rumah calon mertuamu," ujar Biom melirik istrinya dari kaca spion.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Darrell.
"Ini diberikan ibunya Nayna, bukan aku yang minta. Lagian aku juga sedang hamil, entah kenapa sate ayam ini lebih enak dari pada di tempat lain," Rissa menjawab padahal bukan di tanya.
"Kamu jangan buat malu Kakak, Rissa. Belum jadi menantunya, nanti dicoret dari calon suaminya Nayna. Bagaimana?" tanya Darrell.
__ADS_1
Biom hanya tersenyum mendengarnya.
"Tidak mungkin, Kak. Ibunya Nayna itu orangnya baik," jawab Rissa.
"Lain kali jangan seperti itu," ucap Darrell.
"Iya, Kak. Tapi jika ditawari, aku tidak akan menolaknya," Rissa berkata penuh yakin.
****
Seminggu kemudian...
Begitu bangun pagi, Intan menghampiri suaminya dengan wajah sumringah. "Sayang, aku ada kejutan buat kamu!"
"Kejutan apa?" Rama sedang mengaduk masakannya.
Intan menyerahkan kotak kecil kepada suaminya, "Bukalah!"
"Apa ini?"
"Buka saja!" Intan tersenyum.
Rama membuka kotak, ia tampak bingung dengan benda tersebut. "Ini maksudnya apa?"
"Aku hamil," Intan menjawabnya dengan malu-malu.
"Benarkah?" Rama belum percaya.
Intan mengiyakan.
Rama tersenyum lalu memeluk istrinya. "Aku sangat bahagia!"
Intan melepaskan pelukan suaminya, "Nanti kita pergi ke dokter untuk memastikannya lagi. Tapi, jangan bilang dulu pada orang tua kita."
"Kenapa?"
"Aku belum siap," jawab Intan.
"Baiklah."
"Kapan kita pergi ke dokter?"
"Baiklah!"
"Sekarang kamu mandi, kita sarapan!"
"Baiklah, suamiku!"
Intan berjalan menuju kamarnya, membersihkan diri.
Setengah jam kemudian, ia muncul dihadapan suaminya dengan tubuh yang telah segar.
Keduanya duduk saling berhadapan.
"Selama aku pergi kerja, kamu jangan pernah melakukan apapun."
"Kenapa?" tanya Intan.
"Aku tidak mau kamu kelelahan dan mempengaruhi calon bayi kita."
"Aku akan bosan jika tidak melakukan pekerjaan rumah."
"Kamu kerjakan pekerjaan yang ringan-ringan saja seperti menyapu dan menyiram tanaman."
"Jadi mencuci piring, pakaian, mengepel terus bersih-bersih barang-barang dan kamar mandi, siapa?"
"Aku."
"Sayang, tidak bisa begitu. Kamu 'kan bekerja diluar, aku juga belum memiliki bayi. Tak apalah mengerjakan itu," ungkap Intan.
"Baiklah, pekerjaan kamu selain dua yang ku sebutkan tadi. Kamu harus melayani ku di kamar." Rama menggoda.
"Kalau itu, hampir tiap malam," celetuknya.
Rama tertawa.
"Jadi, aku harus melakukan apa?"
"Tiap malam kamu pijat aku."
__ADS_1
"Ya, ampun sayang. Itu tiap hari," ujar Intan.
"Ya sudah, aku tambahin menjadi cuci piring. Setelah itu kamu boleh nonton drama sepuasnya," ucap Rama.
Intan tersenyum, "Terima kasih, suamiku."
-
Rama berangkat ke rumah utamanya Harsya. Sesampainya di sana 2 rekannya terlibat obrolan di teras.
"Tuan Muda tidak ke kantor?" tanya Rama.
"Tidak, Nona Hana sakit. Rissa sedang memeriksa kondisinya," jawab Biom.
"Pasti Tuan Muda sangat khawatir," ucap Rama.
"Tuan Muda memang kelihatan panik," ujar Alpha.
"Apa aku juga akan seperti Tuan Muda jika anak sedang sakit," lirihnya.
"Apa Intan lagi hamil?" tanya Biom.
"Iya."
"Selamat!" Biom memeluk rekan sekaligus sahabatnya.
"Terima kasih!"
"Selamat, Rama!" Alpha juga memeluknya.
"Semoga Astrid juga segera hamil!" ucap Rama.
"Iya, semoga!" Alpha tersenyum.
"Aku ke dapur dulu, ya. Nanti sore mau ke dokter," ujar Rama.
"Iya," ucap Biom.
Rama pun masuk ke rumah utama Harsya dari pintu belakang.
Beberapa menit kemudian, Rissa keluar menghampiri suaminya dan Alpha.
"Bagaimana kondisi Nona Muda, Nona Rissa?" tanya Alpha.
"Hana hanya demam biasa, panasnya juga telah turun tadi dia juga tertawa," jelas Rissa.
"Syukurlah," ucap Alpha.
"Al, aku antar Rissa ke rumah sakit, ya." Pamit Biom.
"Iya, hati-hati." Kata Alpha.
Di dalam mobil menuju rumah sakit, keduanya pun berbicara.
"Dia tidak membuatmu kesakitan, kan?" Biom menyentuh perut buncit istrinya.
"Tidak, suamiku. Dekat dengan Hana, dia berhenti," jawab Rissa.
"Berarti dia mulai mengenali sepupunya," ucap Biom.
"Iya, suamiku."
"Ada kabar baik dari Rama," ujar Biom.
"Kabar apa?"
"Intan hamil."
"Wah, syukurlah. Aku senang mendengarnya," ucap Rissa.
"Jika anak kita laki-laki aku akan menjodohkannya dengan anaknya Rama atau Alpha."
"Kamu ini, belum saja anaknya lahir sudah mau menjodohkannya!"
"Hanya rencana, sayang," Biom tersenyum.
"Anak Rama belum tentu perempuan, lagian Astrid juga belum hamil."
"Doakan saja agar Alpha merasakan kebahagiaan seperti kita, sayang."
__ADS_1
"Iya, sayang. Semoga!"