
Seminggu kemudian...
Astrid berangkat ke kantor menggunakan mobil seperti biasanya, acara lamaran mereka akan dilaksanakan seminggu sebelum acara pernikahan Rama dan Intan.
Tentunya telah mendapatkan izin dari Biom dan Rissa yang mempersilakan keduanya lebih dahulu melangkah ke jenjang serius.
Di tengah perjalanan, mobilnya terpaksa berhenti karena sebuah mobil hitam menghalangi jalannya.
Seorang pria turun dan menghampiri Astrid yang masih berada di dalam mobil.
Pria itu mengetuk pintu.
Astrid menurunkan jendela dan menatap malas pria yang ada didekatnya itu, "Ada apa lagi?" ketusnya.
"Apa kabar?"
"Lumayan baik cuma ketemu kamu pagi ini membuatku tidak baik-baik saja."
"Kenapa kamu menolak bertemu dan menjawab telepon ku?"
"Aku tidak memiliki waktu untuk bertemu denganmu."
"Bisakah kita mengobrol di luar?"
"Maaf, aku tak bisa. Aku harus buru-buru ke kantor, ada rapat mendadak pagi ini," jawab Astrid mencoba tersenyum.
"Astrid, kenapa kamu berubah?"
Astrid tak menjawab, ia menutup kembali kaca jendelanya dan menyalakan mesin mobil kemudian berlalu.
Pria itu berdecak kesal.
"Aku harus mendapatkanmu lagi, Astrid!" gumamnya.
Di dalam mobil, Astrid berdumel, "Kenapa dia tak pernah berhenti menggangguku? Dia yang meninggalkan aku, lalu kenapa dia merasa paling tersakiti?"
Sesampainya di kantor wajah Astrid tampak tak seceria seperti biasanya.
Sahabatnya sekaligus rekan kerjanya, menghampirinya, "Kenapa pagi-pagi begini wajahmu cemberut?"
"Aku lagi kesal dengan seseorang!"
"Siapa? Si Asisten Dingin itu?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Rino."
"Mau apa lagi dia?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Sepertinya aku harus memberi pelajaran untuknya," ucap Kayla.
"Lebih baik jangan, Kay."
"Kenapa?"
"Rino itu orangnya kasar, bagaimana kalau kamu terluka?"
Kayla tertawa.
"Aku takut saja, karena Rino itu pemaksa."
"Kamu tenang saja, aku bisa jaga diri. Lagian aku akan memberikan sedikit pelajaran jika berjumpa dengannya."
"Tapi, aku harap semoga kamu bisa menahan diri," ucap Astrid. Ia tahu kalau sahabatnya itu mudah tersulut emosi, namun aslinya sangat ramah dan sopan.
"Iya, aku akan menahan diri jika bertemu dengannya."
"Begitu dong, sekarang kembali ke ruanganmu atau aku akan memecatmu!"
"Siap, Bu!" Kayla kemudian berlalu.
Astrid lalu masuk ke ruangannya.
Meraih ponsel dan menghubungi kekasihnya. "Halo!"
"Halo, selamat pagi sayang!"
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Maaf, akhir-akhir ini kita tidak bertemu," ujar Alpha.
"Tidak apa-apa."
"Astrid, aku ingin bilang sesuatu padamu."
"Katakanlah."
"Acara lamaran kita apa bisa diundur?"
"Kenapa diundur? Bukankah kamu telah berjanji akan melamar dua minggu lagi?"
"Aku benar-benar minta maaf, Astrid. Aku harus menemani Rama ke kampungnya Intan."
"Jadi, kita gagal lamaran?"
"Bukan gagal tapi di tunda."
"Aku sudah memberitahu keluargaku, mereka juga telah mengatur jadwal. Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?"
"Sayang, aku minta maaf sekali."
Astrid menarik napas, lalu berkata, "Baiklah, kalau begitu. Aku akan katakan pada keluarga ku kita batal lamaran!"
Astrid menutup teleponnya dengan kesal.
-
-
__ADS_1
Sebelum makan siang, Alpha mendatangi kantor Astrid.
Tampak Astrid baru keluar dari ruang rapat, ia berjalan ke arah ruangannya.
"Nona, Tuan Alpha telah menunggu anda di ruangan!" ucap sekertaris.
Astrid segera memasuki ruangannya.
Alpha gegas berdiri ketika melihat kehadiran kekasihnya.
"Mau apa ke sini?" ketusnya.
"Aku mau minta maaf."
Astrid menarik napas.
"Sebulan ini aku sangat sibuk, jadi ku takut tak punya waktu mengurus acara ini," jelas Alpha.
"Ya, tidak apa-apa." Nadine memaksa tersenyum.
Alpha mendekati kekasihnya dan menggenggam tangannya, "Sayang, tolong jangan marah begini. Aku serius denganmu dan ingin kita segera menikah."
"Orang tuaku sudah memberitahu keluarga yang lainnya, apa kamu tidak memikirkan itu? Dua minggu lagi acaranya, kamu baru ngomong sekarang!"
"Iya, sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak berniat membuatmu kecewa. Aku janji setelah pernikahan Rama, kita akan lamaran."
"Jika mengadakan acara setelah pernikahan Rama maka hubungan kita selesai," ucap Astrid.
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Kamu tuh tidak serius!" Astrid menunjuk dada Alpha dengan jari telunjuknya.
"Aku sangat serius, aku mencintaimu, Astrid."
"Bohong!" bentaknya.
"Astrid, apa salahnya kita undur dua minggu lagi?"
"Kemarin kamu bilang akan melamarku seminggu sebelum pernikahan Rama. Sekarang malah diundur. Padahal aku minta kita lebih dahulu menikah, kamu menolaknya."
Alpha mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Jika kamu serius, kita lamaran dua minggu lagi."
"Baiklah, tapi aku tidak memiliki waktu untuk menemani kamu belanja perlengkapan lamaran kita," ucap Alpha.
"Tidak masalah."
-
-
Malam harinya sebelum tidur 3 orang pria mengobrol seperti biasanya dan kebetulan mereka menginap di rumah utama.
"Astrid menolak acara lamarannya ditunda," ujar Alpha.
"Jelas dia menolak, karena kau telah berjanji padanya," ucap Biom.
"Kalian tahu 'kan sebulan ini aku sangat sibuk," tutur Alpha.
"Iya, tapi aku tidak sempat menemaninya belanja."
"Jika dia merasa tak keberatan, kenapa kamu harus risau?" tanya Biom.
"Ya, benar juga."
"Tapi, jika memang acaramu diadakan dua minggu lagi. Maaf, ku tak bisa hadir karena mengurus pernikahan dan harus pulang ke rumah orang tuaku," ujar Rama.
"Aku juga, karena harus menemani Tuan Muda perjalanan ke luar negeri," Biom menimpali.
"Dan aku harus menjaga Nona Anaya dan Tuan Putri," ucap Alpha.
"Semoga saja, Tuan Muda memberikanmu izin meninggalkan Nona Muda sebentar," ujar Rama.
"Ya, setidaknya aku harus pergi selama tiga sampai empat jam begitu," ucap Alpha.
"Coba saja bicara pada Tuan Muda," saran Rama.
"Nanti aku akan bicara padanya," ujarnya.
***
Keesokan paginya...
Ketika di dalam mobil, Alpha yang kebetulan menyetir berkata, "Tuan, apa saya boleh meminta izin?"
"Izin apa?"
"Dua minggu saya akan lamaran, saya izin untuk meninggalkan Nona Muda sebentar saja sekitar empat jam. Apa Tuan mengizinkannya?"
"Kenapa kamu tidak undur?"
"Astrid menolaknya, karena sebelumnya saya sudah berjanji pada orang tuanya akan datang melamar dua minggu lagi," jelas Alpha.
"Rama lagi cuti dan Biom ikut bersamaku lalu kamu ingin izin," jawab Harsya.
"Jika Tuan mengizinkannya saya sangat berterima kasih," ucap Alpha.
"Baiklah, kamu boleh izin selama lima jam saja setelah itu balik ke rumah utama. Biar Anaya dan putriku di jaga Nayna."
"Terima kasih, Tuan."
"Ya."
-
-
Astrid telah berada di restoran tempat biasa ia dan rekan serta kekasihnya makan siang. Astrid menghubungi Alpha bertemu sekaligus membicarakan tentang acara lamaran mereka.
"Kamu di mana?"
"Aku masih di kantor Tuan Muda."
__ADS_1
"Aku sudah di sini, cepatlah kemari!"
"Maaf, Astrid. Tuan Muda belum selesai rapat, aku tidak mungkin meninggalkannya," ucap Alpha dari ujung telepon.
"Kamu ini bagaimana, sih?" protesnya.
"Sekali lagi aku minta maaf," jawab Alpha.
Astrid menutup teleponnya dengan hati dongkol, ia menyesap jus alpukat pesanannya.
Di tengah rasa kesalnya, Rino tiba-tiba muncul dihadapannya dengan senyumannya.
"Sendirian saja!"
Astrid lalu menekan tombol di ponselnya, kemudian berkata, "Kemarilah, aku akan mentraktirmu makan. Ada pekerjaan untukmu, aku di tempat biasa." Menutup teleponnya dan lanjut menikmati jus alpukat.
"Kamu sedang menunggu seseorang?"
"Bukan urusanmu."
"Astrid, kamu kenapa 'sih? Aku hanya ingin berteman saja denganmu."
"Aku tidak mau berteman denganmu."
Tak lama kemudian seorang wanita yang sebaya dengan Astrid hadir ditengah-tengah mereka.
"Pekerjaan apa yang mau kamu berikan untukku?" tanya Kayla.
"Lihat di depanku!"
Kayla mengikuti perintah Astrid, ia tampak terkejut dengan pria yang ada dilihatnya.
"Singkirkan dia!" perintah Astrid.
"Apa kamu bisa menyingkir dari meja ini, Tuan?" mohon Kayla lembut.
"Memangnya kenapa kalau aku di sini?" Rino menantang.
"Tapi temanku tidak suka kamu berada di sini, Tuan. " Jawab Kayla.
"Aku sangat suka di sini dan ingin mengobrol dengannya, memangnya siapa yang akan marah?" tanya Rino lagi.
"Calon suaminya dan aku, Tuan." Kayla menyipitkan matanya.
"Jadi, dia akan menikah?" tanya Rino.
"Ya," jawab Kayla.
"Pasti calon suaminya tidak lebih hebat dariku," ujar Rino.
"Mungkin Tuan Alpha Arsana, kepala pengawal Tuan Muda Harsya Abraham tak sehebat dirimu," ucap Kayla.
Astrid mendengar calon suaminya di sebut mendekati temannya lalu berbisik, "Kenapa kamu memberitahu dia calon suamiku?"
"Biar pria yang ada di depan kita paham," ucap Kayla menyeringai.
Rino yang mendengar nama Alpha saja sudah ketakutan apalagi jika berhubungan dengan Harsya.
"Masih mau di sini, Tuan?" tanya Kayla menatap Rino.
"Kay, tolong antarkan makanan ke ruangan ku saja. Aku malas mau makan di sini dan kamu urus dia," ucap Astrid. "Satu hal lagi, kamu harus hati-hati," lanjutnya.
"Kamu tenang saja, biar dia menjadi urusan ku!" ucap Kayla.
Astrid pun bangkit dari kursinya dan pergi.
Rino ingin menyusul Astrid namun lengannya di pegang Kayla, "Mau kemana?"
"Bukan urusanmu!"
"Jelas ini menjadi urusan aku, Tuan!"
"Kamu tuh itu tidak usah ikut campur urusan aku!" Rino tampak marah.
"Makanya Tuan jangan ganggu urusan temanku juga!"
"Apa kamu pengawal pribadinya?"
"Anggap saja begitu."
Rino melipat tangannya, "Apa kamu belum tahu siapa saya, Nona?"
"Aku tahu kamu, pria yang tak tahu malu mengejar cinta seorang wanita yang sudah ia campakkan," jawab Kayla.
Rino menurunkan tangannya, ia begitu kesal dengan wanita yang ada dihadapannya.
"Jangan pernah mengganggu temanku lagi!" Kayla memberikan peringatan.
"Kamu sudah mengajakku perang, maka kamu akan tahu akibatnya nanti, Nona!" Rino memasangkan wajah marah.
Kayla hanya tersenyum padahal dirinya sebenarnya takut.
Selepas Rino pergi, Kayla memesan makanan untuknya dan Astrid.
Kayla menenteng 2 kotak makanan ke ruangan Astrid.
"Apa dia sudah pergi?"
"Sudah."
"Dia tidak mengancammu, kan?"
"Sedikit," jawab Kayla.
"Sedikit bagaimana?" Astrid mengernyitkan keningnya.
"Ya, dia bilang kalau aku sudah berani mengajak perangnya."
"Dia berkata begitu?" tanya Astrid.
"Iya."
"Kamu harus hati-hati, dia itu bisa berbuat nekad," ucap Astrid.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, dia pasti hanya menggertak," ujar Kayla.
"Semoga saja dia hanya menggertak," harapan Astrid.