Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 45 - S2 - Elia Menghilang


__ADS_3

Dua minggu berlalu....


Lanny datang bersama temannya ke rumah orang tuanya Randy.


"Kak, aku membawa temanku. Dia adalah mantan sekretarisnya Madya," jelas Lanny.


"Perkenalkan nama saya Esty!" ucap wanita berusia 40 tahun itu.


"Untuk apa kamu membawa dia ke sini?" tanya Mama-nya Randy.


"Biar Kakak tahu bagaimana sifat asli Cindy," jawab Lanny.


"Cindy itu sekretaris Tuan Abraham yang sangat licik, Nyonya."


"Jangan mengatakan hal buruk tentang iparku!" marah Mama-nya Randy.


"Saya tidak ada niatan memburukkan Cindy, Nyonya!" ujar Esty. "Saya hanya ingin meluruskan masalah dan fitnah yang menimpa mantan atasan," lanjutnya.


"Kamu jelas membelanya," tuding Mama-nya Randy.


"Tidak, Nyonya!"


"Cepat katakan apa yang ingin kamu jelaskan!" titah Mama-nya Randy.


"Ketika kejadian lima belas tahun lalu, Nyonya Madya meminta Tuan Abraham menemaninya ke kota B namun suaminya itu menolaknya dengan alasan masih banyak pekerjaan. Lalu Cindy menawarkan Daniel sopir pribadi Tuan Abraham untuk mengantarkan Nyonya Besar."


"Nyonya Madya menolaknya karena Daniel saat itu baru saja pulang dari rumah sakit. Jadi, tak ada pemaksaan di sini. Tuan Abraham akhirnya ingin mengantarkan istrinya namun Cindy mengatakan jika rapat perusahaan tidak dapat diundur."


"Padahal Nyonya Madya juga ingin mengundurkan kepergiannya, tapi Cindy terus membujuknya agar jadi berangkat. Dan itu ia lakukan supaya dekat dengan Tuan Abraham."


"Kedekatan keduanya juga telah diketahui Nyonya, namun ia memilih diam. Makanya ketika kematian Tuan Abraham dia tak ingin melanjutkannya karena terlalu sakit hati. Tetapi, Tuan Muda Harsya menginginkan pelaku sebenarnya dihukum."


Mendengar penuturan Esty, membuat Mama-nya Randy tanpa syok.


"Sangat busuk 'kan dia," cetus Lanny.


"Aku tidak percaya Cindy mengorbankan kakak kandungnya sendiri!" ujar Mama-nya Randy.


"Kecelakaan itu memang tidak ada yang menginginkannya, mobil dikendarai Daniel hilang kendali ketika selesai mengantarkan kami ke kota B. Itu artinya di dalam kendaraan itu tanpa ada saya dan Nyonya Madya," jelas Esty.


"Jadi, bukan Madya yang memaksa Daniel. Tetapi, Cindy yang memutar balikkan fakta," Lanny menimpalinya.


"Daniel juga telah mengingatkan adiknya itu untuk tidak bermain hati dengan atasannya. Tetapi, Cindy tak menghiraukannya. Perusahaan properti yang kini dimiliki Randy berdiri pun dengan bantuan modal Tuan Abraham," ungkap Esty.


"Kenapa dia seolah-olah yang memberikan perusahaan itu secara sukarela?" gumam Mama-nya Randy.


"Tuan Abraham terlalu percaya dengan Cindy sehingga ia pun sempat bermain api," jelas Esty lagi.


Sementara dilain tempat, Elia yang memiliki kesempatan kabur dari apartemen suaminya. Pria itu telah memberikan kepercayaannya kepadanya.


Elia meraih tasnya dan kunci mobil suaminya. Bergegas ia turun ke lantai bawah saat Randy pergi ke kantor 30 menit lalu.


Elia tiba di parkiran apartemen, ia memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan agar orang-orang tidak curiga.


"Elia!"


Wanita itu tersentak kaget ketika mendengar namanya dipanggil, sekilas menoleh ke belakang. Elia gegas membuka pintu mobil dan masuk. Tanpa berpikir panjang, ia pun menyalakan mesinnya.


Randy mendekati kendaraan miliknya dan mengetuk jendela mobil, "Elia!"


Elia segera meninggalkan parkiran apartemen.

__ADS_1


Randy berlari menuju mobilnya, dengan cepat ia masuk dan mengejar istrinya.


Di dalam kendaraannya, Randy terus memaki dirinya karena telah ceroboh dan mudah percaya dengan istrinya itu.


Elia yang gugup dan ketakutan melajukan kendaraannya, ia harus berkali-kali melihat kaca spion. "Sial, dia mengikutiku!"


Karena sangat panik dan tidak berkonsentrasi, Elia membanting setirnya ke kanan untuk menghindari pejalan kaki yang menyeberang.


Mobil hitam milik Randy menabrak pohon besar, Elia seketika pingsan.


Randy menghentikan kendaraannya, bergegas keluar dan menghampiri mobil Elia.


Matanya membulat, jantungnya seketika berhenti ketika melihat Elia pingsan dengan keningnya berdarah.


"Elia!" teriaknya.


Setengah jam kemudian, Randy telah berada di rumah sakit. Elia sedang dalam penanganan medis.


Sejam berlalu, Elia telah sadar dan dirawat di sebuah kamar.


Randy menghampiri istrinya dengan wajah tersenyum.


"Sandiwara apa lagi yang sedang ia mainkan," Elia membatin.


"Kenapa kamu ingin kabur?" tanya Randy menahan rasa marahnya ketika menatap wajah istrinya.


Elia tak menjawab.


"Bagaimana jika sesuatu yang buruk dengan calon anak kita?"


"Anak?"


"Iya, kata dokter kamu sedang hamil."


"Kamu tidak suka mengandung anakku?" Randy balik bertanya.


"Sangat suka," Elia pura-pura memasang wajah bahagia.


"Jangan pernah mencoba kabur, jika tidak ingin aku menghukummu!"


Elia mengiyakan.


Ponsel Randy berdering, ia pun segera menjawabnya. "Halo, Ma!"


"Halo, Randy. Kamu di mana?"


"Aku di rumah sakit, Ma."


"Siapa yang sakit?"


"Elia, dia mencoba kabur dan akhirnya menabrak pohon," jawab Randy.


"Astaga!"


"Ada apa Mama meneleponku?" tanya Randy.


"Ada sesuatu yang ingin Mama katakan ini sangat penting."


"Bagaimana dengan Elia di sini, Ma?"


"Dia sedang sakit dan tak mungkin kabur," jawab Mama-nya Randy.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan ke sana!"


Randy lalu menghampiri istrinya dan mengatakan jika dirinya ingin menemui ibunya. "Aku berharap kamu tidak melakukan hal nekat seperti tadi."


"Iya, aku akan tetap di sini. Pergilah!" ujar Elia.


Randy mengecup kening istrinya dan berlalu.


-


Randy tiba di kediaman orang tuanya 1 jam kemudian.


Mama-nya Randy memeluk putranya dan menangis.


"Ada apa, Ma?"


"Kita selama ini telah dibohongi Cindy."


"Dibohongi, bagaimana?"


"Dia sebenarnya tidak tulus membantu kita," jelas Mama-nya Randy.


"Aku tidak mengerti dengan ucapan Mama," ucapnya.


"Cindy memfitnah keluarga Elia, dia mengatakan pada ibu jika Madya yang memaksa papamu," jelas Mama-nya Randy lagi.


"Jadi, bantuan yang diberikan Tante Cindy semuanya dari papanya Elia?"


"Iya, tapi dia mengaku jika selama ini dirinya telah bekerja keras," jawab Mama-nya Randy.


Randy terduduk, ia meremas wajahnya. Selama ini dirinya telah salah menuduh keluarga istrinya.


"Aku harus ke rumah sakit dan meminta maaf pada Elia," ujar Randy.


"Pergilah, Nak. Sampaikan maaf Mama padanya."


"Iya, Ma. Aku pergi, ya!" Randy bergegas menuju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Randy melangkah cepat ke kamar rawat inap istrinya.


Ranjang tampak kosong dan telah bersih tanpa pasien.


Randy pun bertanya kepada perawat di mana keberadaan istrinya.


"Nona Elia telah pulang setengah jam lalu, Tuan."


"Dengan siapa? Dia lagi sakit, Suster."


"Tadi ada beberapa orang pria yang menjemput Nona Elia, Tuan."


Randy yang benar-benar kebingungan, lantas menelepon mamanya sambil menangis, "Mama, Elia menghilang!"


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu siapa yang membawa Elia pergi," jawab Randy. "Aku ingin mencari Elia, Ma." Lanjutnya.


"Mau ke mana kamu mencarinya?"


"Aku tidak tahu yang penting Elia dan calon anakku kembali."


"Elia hamil?" tanya Mama-nya Randy dari ujung telepon.

__ADS_1


"Iya, Ma."


__ADS_2