Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 28 - Cerita Pasca Pernikahan (2)


__ADS_3

Astrid dan Alpha menikmati makan siang berdua di sebuah restoran. Ya, suaminya itu meluangkan waktunya di tengah kesibukannya menjadi pengawal Harsya.


"Sayang, aku dengar Rissa telah hamil. Kapan kita diberikan kesempatan, ya?"


"Kamu yang sabar, ya. Semua butuh proses," jawab Alpha menguatkan istrinya.


"Iya, sayang. Tapi..."


"Jangan sedih, kamu harus bahagia. Intan dan Rama juga lagi berjuang memiliki keturunan," ucap Alpha.


"Kamu libur dong, biar kita bisa berbulan madu," ujar Astrid.


"Sepertinya itu tidak mungkin terjadi," ucap Alpha lagi.


"Kenapa?"


"Kamu tahu 'kan libur hanya diberikan empat hari saja," jawab Alpha.


"Minta lagi dong," ucap Astrid.


"Tidak semudah itu, rencananya Tuan Muda akan pergi berlibur ke luar negeri bersama keluarganya. Mungkin kita akan ikut," ungkap Alpha.


"Kalau kita ikut kamu pasti akan fokus mengawasi mereka," ujar Astrid.


"Ya, harusnya begitu."


"Aku jadi yang terakhir dong," Astrid memanyunkan bibirnya.


"Tapi, tidak apa-apa sekaligus kita liburan bersama kemungkinan Rama dan Intan ikut juga. Nah, kalau Biom tak mungkin ikut," jelas Alpha.


Lagi asyik mengobrol seorang wanita lebih muda dari Astrid menghampiri meja makan mereka.


"Mas Alpha!" sapa wanita itu ramah dan lembut.


Keduanya mendongakkan kepalanya.


Astrid lalu menatap suaminya.


"Hai!" Alpha tersenyum singkat.


"Apa aku boleh bergabung dengan kalian?" menawarkan diri.

__ADS_1


"Oh, silahkan!" ucap Astrid.


Alpha menatap heran istrinya.


"Kenali aku Tissa, mantan kekasih Mas Alpha dari sekolah!" wanita mengulurkan tangannya.


Astrid pun menyambut uluran tangan wanita itu, "Aku Astrid, istri paling cantik yang disayangi oleh suamiku!"


Wanita itu memasang wajah tak suka namun tetap tersenyum.


"Apa urusan masa lalu kalian belum selesai?" tanya Astrid menyindir.


"Belum, dia pergi tanpa memberikan aku kabar," jawab Tissa.


"Oh, ya. Apa suamiku pernah menjanjikan sesuatu kepadamu?" tanya Astrid mencoba menahan rasa cemburunya.


"Katanya dia akan menungguku sampai lulus sekolah tinggi," jawab Tissa.


"Oh, begitu!" Astrid melirik suaminya.


"Kenapa Kakak merebut Mas Alpha dariku?"


"Siapa yang merebut?" tanya Astrid.


"Dia yang melamarku dan aku menerimanya," ucap Astrid.


"Kenapa tidak ditanya-tanya terlebih dahulu?"


"Karena aku yakin suamiku itu takkan membohongiku dan pria jujur," jawab Astrid.


"Aku mau jadi istri keduanya Alpha," Tissa berkata tanpa berpikir.


"Oh, kamu mau jadi istri keduanya, ya?" tanya Astrid yang mulai emosi.


"Iya, Kak."


"Sayang, ayo kita pergi!" ajak Alpha agar istrinya itu tak mengeluarkan tanduk kemarahannya di kepala.


"Aku belum selesai bicara, sayang." Astrid menatap wajah suaminya.


"Lebih baik kita pergi dari sini," ajak Alpha lagi.

__ADS_1


"Mas Alpha, jangan buru-buru istrimu belum selesai bicara," ucap Tissa.


"Aku sudah lama tidak membuat orang lain masuk rumah sakit," kata Astrid.


"Mas Alpha, ternyata istrimu seorang pegulat," singgung Tissa.


"Pergi dari sini atau aku akan membuat rambutmu itu berubah warna!" geramnya.


Tissa memegang rambutnya, ia lalu menyengir.


"Cepat pergi!" desisnya.


"Iya, aku akan pergi," ucap Tissa. Ia lalu menoleh ke arah Alpha, " Jika bosan dengan dia, hubungi aku!" tersenyum menggoda.


"Kau!" Astrid semakin geram.


Tissa pun buru-buru berlalu.


"Sayang, tenanglah!" Alpha memegang telapak tangan istrinya.


Astrid meraih gelas berisi air putih dan menenggaknya hingga kandas.


"Untuk apa kamu melayani ucapannya?" tanya Alpha.


"Aku ingin memberi pelajaran padanya," jawab Astrid.


"Lihatlah dirimu sekarang, jadi tak stabil begini."


"Aku tuh kesal dengannya!"


Alpha menghela napas.


"Jika dia berani mengusikku rumah tanggaku, aku takkan segan mencabik-cabik wajahnya!"


"Sayang, jangan kejam begitu."


"Memangnya kenapa? Percuma saja suaminya seorang pengawal dari Tuan Muda yang kejam," singgungnya.


"Aku 'kan kejam hanya pada musuh-musuhku, sayang."


"Wanita itu musuhku, jadi aku harus kejam!"

__ADS_1


"Iya, ya, sayang. Sekarang kita pulang, malu dilihat orang-orang," Alpha mengedarkan pandangannya.


__ADS_2