
Elia kini tiba di kediaman sang suami, ia melangkah ke kamar pria yang telah menikahinya beberapa jam lalu.
Mulai hari ini, Elia akan tinggal bersama Randy dan mamanya.
Elia melihat sekeliling kamarnya, seminggu yang lalu ia dan Randy pernah seranjang dan membuatnya sangat membenci lelaki tersebut.
Randy memeluk tubuh Elia dari belakang.
Elia segera membalikkan badannya dan mendorong suaminya, "Jangan menyentuhku!" sentaknya.
"Kita sudah menikah dan aku berhak atas dirimu!"
"Ingat, ya. Kita menikah karena keterpaksaan!"
"Iya, aku tahu."
"Aku sedang datang bulan, jangan harap akan ada janin di dalam perutku. Karena kutahu kamu lagi berbohong!" Elia mempertegas perkataannya.
Randy tertawa sinis lalu berkata, "Kita baru melakukannya sekali tentunya belum ada janin di dalam rahimmu. Tapi, aku yakin suatu saat kamu akan mengandung darah dagingku."
"Jangan pernah berharap apapun dari pernikahan ini!" desisnya.
"Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Elia Abraham."
"Cara licikmu persis seperti wanita itu. Pantaslah jika kamu adalah keponakannya!" singgung Elia.
"Jangan bandingkan aku dengan Tante Cindy!"
"Kalian berdua sama-sama licik!" Elia menekankan kata-katanya.
Randy tertawa, "Terserah kamu mau bilang apa!"
"Keluarlah, aku ingin berganti pakaian!" usir Elia.
"Kenapa tidak menggantinya di depanku? Bukankah aku juga sudah mengetahui isinya?"
Elia tak senang dengan pertanyaan suaminya, lalu mendorong pria itu keluar dari kamarnya.
Randy hanya tertawa dari balik pintu.
"Kenapa dia tinggal bersamaku?" tanya Mama-nya Randy.
Pria itu membalikkan badannya, mendorong kursi roda menjauh dari kamarnya.
"Randy, kenapa membawanya ke rumah kita?"
"Ma, ini kesempatan bagus untuk kita membalas perlakuan buruk keluarganya kepada Tante Cindy."
"Tapi, Mama sangat membencinya!"
"Seminggu ini kita harus berbuat baik dan lembut padanya. Setelah resepsi, terserah Mama mau melakukan apapun padanya," ujar Randy.
"Mama tidak ingin kamu jatuh cinta padanya," harapnya.
Randy tertawa kecil, "Aku sama sekali tidak tertarik padanya."
Elia telah selesai berganti pakaian, Randy mengetuk pintu dan ia pun membukanya.
"Aku membawa makanan untukmu!"
Elia memperhatikan nampan yang dipegang suaminya dengan tatapan curiga.
"Aku tidak memberi apapun di makananmu," Randy mengetahui kecurigaan suaminya.
Elia menerima nampan tersebut lalu meletakkannya di nakas.
"Aku mau keluar dan tak lama, jika kamu butuh sesuatu silahkan pergi ke dapur atau menghubungiku."
"Mau ke mana?" tanya Elia.
__ADS_1
"Menemui teman."
"Wanita?"
"Ya."
"Sekretarismu itu?"
"Dia bukan sekretarisku."
"Oh, pergilah!" ketusnya.
Randy menghela napas lalu keluar dari kamarnya.
-
Pukul 10 malam, Randy pun pulang ke rumah. Asisten yang merawat mamanya juga telah habis waktu kerjanya.
Randy membuka pintu kamar miliknya, tampak Elia tertidur pulas dengan selimut terjatuh di bawa ranjang
Randy memungut lalu ia selimutkan kembali ke tubuh sang istri. Sejenak memandangi wajah polos Elia yang begitu cantik.
Randy segera menggelengkan kepalanya, ia tak boleh menyukai apalagi jatuh cinta pada wanita itu.
Randy lantas ke kamar mandi membersihkan diri lalu lanjut tidur di samping istrinya.
Pukul 1 dinihari, Randy terbangun karena mendengar suara rintihan. Ia menoleh ke sampingnya, tampak Elia berkeringat dengan air mata keluar dari bola matanya yang terpejam.
"El!" Randy menepuk lembut pipi istrinya. "Elia, kamu kenapa?" tanyanya dengan pelan.
Sang istri pun membuka matanya, ia kelihatan bingung namun pipinya basah dengan air mata. Gegas, ia mengelapnya.
"Kamu bermimpi?"
Elia menggelengkan kepalanya pelan.
Randy tersenyum, "Kembalilah tidur!"
Randy pun melanjutkan tidurnya.
****
Elia terbangun namun sang suami sudah tak ada disampingnya. Menyibak selimut, turun dan melangkah ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian ia keluar kamar menuju dapur, Elia melemparkan senyumnya kepada sang ibu mertuanya dan dibalas dengan hal yang sama.
"Ayo sarapan!" ajak Randy menarik kursi buat sang istri.
Elia pun duduk di meja bersama suaminya dan mertuanya.
"Hari ini kamu boleh pergi bermain ke rumah orang tuamu atau kakakmu. Tapi, aku tidak mengizinkanmu kembali bekerja," ujar Randy.
Elia mengiyakan.
"Apa kamu mau aku mengantarkanmu?"
"Boleh juga."
"Baiklah, selesai sarapan aku akan mengantarmu," janji Randy.
Selesai sarapan, Randy mengantarkan istrinya ke rumah mertuanya.
Sesampainya Elia meminta tangan suaminya dan mengecupnya. "Aku akan minta sopir mengantarkan pulang, jadi kamu tak perlu menjemputku lagi."
"Baiklah," ujar Randy.
Elia memasuki rumahnya, Madya lalu memeluknya.
"Bagaimana kamu di sana? Apa mereka memperlakukan kamu dengan baik?" cecar Madya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Mereka sangat baik padaku," jawab Elia.
"Syukurlah, ibu senang mendengarnya."
Sementara dilain tempat, tepatnya di kantor Randy....
Pria itu berjalan dengan gagah menggunakan jas, memasuki ruang kerjanya ia terus tersenyum karena telah berhasil menikah dengan Elia.
Misinya untuk membalaskan dendam papanya dan Tante Cindy akan segera terlaksana.
"Elia...Elia....kamu akan bertekuk lutut padaku dan menangis sepanjang hari seperti apa yang dirasakan mamaku!" Randy tersenyum menyeringai.
Pintu ruang kerjanya terbuka, seorang wanita yang sebaya dengan Elia memasuki tempat itu dengan menggunakan pakaian super ketat dan seksi.
Wanita itu tersenyum menggoda dihadapan Randy.
"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Randy kesal.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, Randy."
"Mau apa kamu menemui aku?"
Sinta mendekati Randy dan duduk dipangkuan pria itu. Dengan sengaja Sinta mengalungkan tangannya dileher.
"Menjauhlah!" Randy berkata dengan dingin.
"Randy, aku ingin bercinta denganmu. Aku beri ini gratis untukmu!" Sinta sengaja berbisik dengan suara yang menggoda.
"Aku tidak suka dengan barang bekas!" Randy berdiri sehingga Sinta terjatuh.
"Sayang, kenapa kamu kasar sekali?" Sinta berdiri dan memperbaiki pakaiannya.
"Keluarlah!" titahnya.
"Beri aku uang. Jika tidak aku akan memberitahu semua rencana busukmu itu kepada istrimu yang bodoh!"
"Jangan mengatai dia bodoh!" sentak Randy menunjuk wajah Sinta dengan jari telunjuknya.
"Kenapa? Apa kamu sudah jatuh cinta padanya?" Sinta meledek.
"Bukan urusanmu, aku jatuh cinta dengannya atau tidak!"
Sinta tertawa menyeringai. "Baiklah, aku percaya jika kamu tidak mencintainya. Sekarang berikan aku uang!"
Randy mengambil dompet di saku celananya dan menyerahkan 5 lembar uang berwarna merah.
"Kenapa segini?" protesnya.
"Kamu bukan istriku, jadi tak berhak menerima uang dariku!"
"Baiklah, tidak masalah. Kalau begitu aku pergi, terima kasih!" Sinta keluar ruangan dengan tersenyum.
Menjinjing tasnya ia melangkah ke mobilnya yang didapatkannya dari hasil memeras Randy.
-
Malam harinya dikediaman Randy...
Elia pulang diantar sopir keluarganya pukul 9 malam, sebelumnya ia telah meminta izin kepada suaminya melewati makan malam bersama.
Randy tersenyum ketika Elia membuka pintu.
"Kamu sudah makan, kan?" tanya Randy lembut.
Elia mengangguk.
"Tidurlah duluan, nanti aku akan menyusul."
"Iya," Elia lalu melangkah ke kamarnya.
__ADS_1
Dua jam kemudian, Randy menyusul istrinya. Tidur di samping wanita itu tak lupa mengecup keningnya. "Aku akan membuatmu tergila-gila padaku dan secara sukarela memberikan hatimu lalu ku patahkan!" batinnya.