Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 9 - Aku Tidak Mau Ada Gangguan


__ADS_3

Sore harinya dikediaman Rama dan Intan..


Meskipun rumah yang dibeli Rama setahun lalu tak terlalu besar namun membuat sepasang pengantin baru cukup nyaman berada di sana.


Intan menyajikan secangkir teh di meja berukuran kecil di ruang santai keluarga.


"Aku kasihan dengan Kak Rissa, sayang." Intan membuka percakapan.


"Masalah kakaknya itu?" tebak Rama.


"Iya."


"Aku juga bingung dengan sikap kakaknya Nona Rissa, apa salahnya dia pulang sebentar menghadiri pernikahan adik kandung satu-satunya," ujar Rama.


"Apa sebenci itukah kakaknya Kak Rissa padanya? Padahal semua bukan kesalahannya dan waktu itu dia juga masih kecil belum berpikir mana yang baik," ucap Intan.


"Entahlah, aku juga tidak terlalu paham dengan masalah yang Nona Rissa hadapi. Biom mengatakan jika waktu itu ayahnya Nona Rissa ingin menjemputnya di rumah teman putrinya, pas kebetulan hujan lebat. Dan kecelakaan pun terjadi," tutur Rama.


"Oh, begitu ceritanya."


"Kita doakan saja semoga Nona Rissa dapat membawa kakaknya kemari."


"Iya."


Rama lalu menarik tubuh istrinya dan mendekapnya.


"Ini masih sore."


"Memangnya, kenapa? Kita hanya tinggal berdua dan aku juga lagi libur kerja."


"Bagaimana jika ada tamu yang datang?"


"Tidak ada, tamu yang datang hujan-hujan begini," jawab Rama, mengecup kening istrinya.


"Siapa tahu," ucap Intan.


Rama tersenyum menyeringai.


"Perasaan aku kenapa tidak enak, ya." Singgungnya.


Rama menarik tengkuk istrinya dan membenamkan ciuman di bibirnya.


Intan yang menikmati, membalas setiap sesapan suaminya.


Tautan bibir keduanya semakin panas, kini Intan berada di atas paha suaminya.


Bibir Rama kini menyusuri area leher, membuat Intan menutup matanya menikmati sentuhan yang diberikan suaminya.

__ADS_1


Rama hendak menukar posisi mereka, namun suara bel berbunyi membuat keduanya menghentikan aktivitasnya.


Rama dan istrinya saling pandang, dengan cepat mereka turun dari sofa dan memperbaiki pakaian yang mereka kenakan.


Keduanya melangkah bersama mendekati pintu. Rama membuka sedikit gorden jendela untuk melihat tamu yang datang.


"Alpha!" lirihnya.


Gegas ia membukakan pintu.


"Maaf, aku datang tidak memberitahu sebelumnya," ucap Alpha.


"Tidak apa-apa, silahkan masuk!"mempersilakan tamunya. "Memangnya kau darimana?" lanjutnya bertanya.


"Aku dari rumahnya Astrid tadi lalu mampir ke rumah orang tuaku. Ketika hendak mau balik ke rumah Tuan Muda kebetulan melewati jalan ini hujan turun sangat lebat. Jadi, aku singgah ke sini karena ingat kau sedang libur kerja," jawabnya.


Rama mengangguk paham, ia lalu menyuruh Intan untuk membuatkan teh hangat buat Alpha.


Selang beberapa menit kemudian Intan membawa secangkir teh hangat dan sepiring kecil kue bolu buatan suaminya.


Intan duduk di samping suaminya, mendengar pembicaraan dua pria itu.


Sejam kemudian hujan pun reda, Alpha pamit pulang dan mengucapkan terima kasih.


Setelah menutup pintu, Rama menghampiri istrinya yang sedang meletakkan piring dan gelas kotor di wastafel.


"Nanti malam saja, bagaimana jika ada tamu lagi?"


"Tidak mungkin ada," jawab Rama.


Intan membalikkan tubuhnya, mengalungkan tangannya di leher suaminya.


Rama memeluk pinggang istrinya, keduanya saling menatap.


Perlahan wajah mereka semakin mendekat dan bibir keduanya saling menyatu.


Di tengah aksi ciuman yang dilakukan di dapur, terdengar suara bel berbunyi lagi.


Rama berdecak kesal.


Intan pun terkekeh, sembari menutup mulutnya agar tak terdengar suaminya.


Rama melangkah ke arah pintu dan membukanya.


Adik perempuan Rama melemparkan senyuman kepada sang kakak, "Hai, Kak!"


"Rima, kenapa kamu ke sini?"

__ADS_1


"Memangnya aku tidak boleh ke sini?" tanya Rima, adik pertama Rama yang kini berusia 20 tahun.


"Ya, boleh saja. Tapi, sebelumnya beritahu kami. Bagaimana jika Kakak atau Kak Intan tidak ada di rumah?" balik bertanya.


"Ya, aku akan pulang."


"Kebiasaan kamu begini. Suka mendadak!" protes Rama.


"Maaf, Kak. Apa boleh aku masuk?"


"Ya."


Rima menerobos kakaknya yang masih berdiri di depan pintu.


Intan muncul dari arah dapur, "Rima, kamu sendirian ke sini?"


"Iya, Kak. Tadi dari rumah teman, ya sudah sekalian singgah ke sini," jawabnya.


-


Tepat selesai makan malam, Rima berpamitan pulang.


"Jangan mengebut dan jangan pergi ke mana-mana lagi," Rama mengingatkan adiknya.


"Iya, Kak." Rima lalu masuk ke mobilnya dan perlahan kendaraannya meninggalkan kediaman kakaknya.


Intan membereskan piring kotor lalu mencucinya.


Setelah selesai ia menghampiri suaminya yang sedang menonton televisi.


"Apa kamu tidak mau melanjutkan yang tadinya di dapur?" bisik Intan menggoda.


"Nanti saja ketika mau tidur," jawabnya tanpa menatap.


Intan tergelak mendengar jawaban suaminya.


Rama mengalihkan perhatiannya kini pada istrinya.


"Kenapa tunggu tidur, suamiku?" tanya Intan memasang wajah manis.


"Aku tidak mau ada gangguan," jawabnya.


Intan semakin tertawa.


Rama merangkul leher istrinya dengan tangan kanannya lalu mengecup keningnya bertubi-tubi. "Kamu boleh tertawa, nanti jangan harap bisa begini."


Intan hanya bisa tertawa geli.

__ADS_1


__ADS_2