
Pagi ini Elia dan suaminya hendak berangkat kerja bersama-sama namun Elra berlari menghampiri papanya meminta untuk digendong.
Randy mengangkat tubuh putranya, menggendong dan mengecup pipinya.
"Pa-pa tak boleh pergi!" celotehnya.
"Elra, Papa harus bekerja. Kamu dengan Mba saja, ya!" bujuk Elia.
Elra menggelengkan kepalanya dengan wajah manyun.
"Sayang, Papa dan Mama mau ke kantor. Nanti sore kita main lagi," janji Randy.
Elra malah menangis.
"Kamu kenapa?" tanya Elia lembut. "Biasanya jadi anak yang penurut, ada Mba Wi dan Mba Ra di sini," lanjutnya membujuk.
"Pa-pa, Ma-ma di sini sa-ja!" rengeknya.
"Bagaimana ini, Ran?" Elia bertanya pada suaminya.
"Papa dan Mama janji akan pulang lebih awal hari ini. Sekarang kami harus bekerja, karena ada rapat," jelas Randy pada putranya yang memang belum paham dengan pekerjaan orang tuanya.
"Tuan Muda, ayo kita main air di belakang," ajak Mba Wi.
"Tuan Muda mau makan es krim, kan!" bujuk Mba Ra.
Elra mengangguk mengiyakan.
"Mba, makan siang nanti kami akan pulang. Jika Elra masih rewel dan menangis hubungi saya," ujar Elia.
"Iya, Nyonya." Jawab Mba Wi.
"Kalau begitu kami berangkat, ya!" pamit Elia.
Kedua pengasuh mengangguk mengiyakan.
Elia dan Randy pun berangkat ke kantor.
Randy terlebih dahulu mengantarkan istrinya ke kantornya. Di perjalanan Elia tampak diam.
"Kamu kenapa?" tanya Randy.
"Kenapa aku jadi kepikiran dengan Elra."
Randy tersenyum. "Kamu tidak tega meninggalkannya dengan keadaan menangis seperti tadi?"
"Iya, tidak biasanya Elra menangis. Dia akan tertawa dan melambaikan tangannya."
Randy meraih jemari tangan kanan istrinya, "Semoga Elra baik-baik saja!"
Elia tersenyum tipis dan mengangguk.
"Selesai rapat, aku akan menjemputmu dan kita pulang."
"Iya."
"Senyum dong!"
Elia pun tersenyum.
"Jika sampai di kantor, hubungi Mba Wi atau Mba Ra."
"Iya, Ran."
-
Tepat jam 12 siang, Randy menjemput istrinya di kantor. Dia harus menunggu 10 menit sebelum Elia memasuki ruang kerjanya.
"Sudah lama di sini?" tanya Elia.
"Tidak."
"Ayo kita pulang sekarang!" ajaknya.
Randy lantas berdiri dari tempat duduknya.
Keduanya meninggalkan perusahaan milik Elia.
Sejam kemudian mereka tiba di rumahnya, tampak sepi tak ada suara.
Elia menekan bel namun tak ada satu pun asistennya yang membukanya. Ia pun menjadi panik.
"Kemana mereka?" tanya Randy.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu," jawab Elia.
"Coba hubungi salah satu dari mereka!" perintah Randy.
Elia lalu menghubungi salah satu asistennya, terdengar bunyi ponsel berdering namun tak dijawab.
Rasa khawatir dan cemas di hati Elia semakin bertambah.
"Mungkin mereka lagi keluar dan ponselnya ketinggalan," ujar Randy.
"Tidak mungkin, Ran. Jika mereka keluar membawa Elra pasti minta izin terlebih dahulu padaku dan aku akan menyuruh pengawal menjaganya," jelas Elia dengan wajah panik.
Randy lalu mengitari rumahnya, dia juga memeriksa pintu garasi yang tidak terkunci.
Terdengar suara benda jatuh dari dalam rumah.
Randy lantas memanggil istrinya yang berdiri di depan pintu utama.
Elia menghampiri suaminya.
Randy membuka pintu garasi lalu masuk melewatinya.
Setelah lewat dari pintu garasi yang terhubung dengan bagian samping rumah. Randy mendapati beberapa barang jatuh di lantai.
Terdengar suara hentakan kaki dari arah dapur. Randy dan Elia bergegas berlari mendekati.
Mata keduanya membulat melihat ketiga asisten rumah tangganya duduk di kursi dan tangannya diikat ke belakang.
Mba Wi tubuhnya tergeletak di lantai bersama dengan kursi yang ia duduki.
Randy dan Elia gegas membuka tali pengikat ketiganya.
Ketiganya menangis bersama.
"Di mana Elra?" tanya Elia.
"Mereka menculik Elra, Nyonya." Jawab Mba Wi menangis.
Tubuh Elia seketika ambruk, wajahnya pucat, air matanya menetes.
Randy lantas memeluk istrinya, "Sayang, kita akan mencari Elra. Kamu tetap tenanglah."
Elia tak dapat berkata-kata.
Tak sampai 30 menit, Harsya dan Alpha mendatangi kediaman Elia.
Begitu melihat wajah sang kakak, Elia berlari dan memeluknya. Air matanya kembali tumpah.
"Mereka menculik Elra, Kak!" isaknya.
"Elra akan baik-baik saja dan ku takkan membiarkan mereka selamat karena telah mengganggu keluargaku," Harsya mengeraskan rahangnya.
Ketiga asisten Elia diinterogasi oleh Alpha dan timnya.
"Saya ingat salah satu wajah penculiknya," ucap Bi Mar.
"Sebutkan ciri-cirinya!" pinta Alpha.
"Sepertinya dia mirip dengan asisten pengganti yang kemarin," ujar Bi Mar.
"Pengganti Mba La?" tanya Randy.
Bi Mar mengiyakan.
"Siapa dia?" tanya Alpha pada Randy dan pria itu pun menjelaskan sosok wanita yang pengganti asistennya.
"Aku akan menelepon Bibi Lanny karena dia tahu rumah Mba La."
Randy lantas segera menghubungi bibinya dan wanita paruh baya itu mengirimkan nomor ponsel Mba La.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Mba La, Randy lalu menghubunginya.
"Dia orang baru di sini, Tuan."
"Apa dia telah berkeluarga dan memiliki anak?" tanya Randy.
"Belum, Tuan."
"Berikan alamat kamu dan tolong bantu kami menemukan dia," ujar Randy.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan?"
"Elra di culik."
__ADS_1
"Apa!" Mba La tampak terkejut.
-
Sesampainya di sana, wanita yang disebut menjadi salah satu anggota penculikan tak ada di tempat.
Tetangga yang berada di sekitar tempat itu mengatakan jika wanita yang baru menyewa 2 minggu lalu tidak menampakkan hidungnya sejak 2 hari.
Randy tampak frustasi, beruntung sang istri tidak ikut serta dalam pencarian.
Alpha meminta bantuan pada pihak berwajib dan ketiga orang asisten menjadi saksi.
Sementara Elia yang berada di rumah terus menangis, Astrid dan Anaya berusaha menenangkan wanita itu.
"El, minumlah dahulu!" Anaya menyodorkan gelas berisi air putih.
Elia hanya menyeruputnya sedikit. Tubuhnya semakin lemas.
"Mereka sedang berusaha mencari keberadaan Elra," ucap Astrid.
"Bagaimana jika mereka menyakiti Elra?" isaknya.
"Kita berharap semoga para penculik tidak menyakiti Elra," jawab Astrid.
"Harusnya aku tidak pergi ke kantor, Elra tadi tak ingin kami berangkat kerja," Elia berkata dengan sesenggukan.
Anaya semakin memeluk erat adik iparnya.
Randy pulang dengan raut wajah sendu.
Elia lantas berdiri dan menghampiri suaminya, "Kalian sudah tahu di mana Elra berada?"
Randy menggelengkan kepalanya.
Elia menangis histeris.
Randy gegas memeluk istrinya.
"Elra pasti ketakutan," ucap Elia.
Randy tak mampu berkata, air matanya tampak mengalir.
Selang 12 jam hilangnya Elra, Alpha menghubungi Randy.
"Di mana Elra, Kak?" tanya Randy begitu antusias.
"Kami baru menemukan pakaiannya saja di sebuah warung makan," jawab Alpha.
Randy menghela napas berat.
"Sepertinya mereka tidak jauh dari sini, pihak berwajib dan tim kita juga telah menyebar. Karena menurut warga sekitar kalau lima orang pria dan wanita dengan menggendong anak kecil baru beberapa menit lalu meninggalkan tempat."
"Kak Alpha sekarang di mana? Aku mau menyusul ke sana."
"Kamu tidak perlu ke sini. Jaga Elia dan tenangkan dia!"
"Tapi, Kak...."
"Biom dan Rama juga ikut mencari dan menyebar," ujar Alpha.
"Tolong kabari aku jika telah bertemu dengan Elra, Kak."
"Pastinya."
Randy menutup teleponnya lalu berjalan mendekati istrinya yang duduk di sofa tamu.
"Mereka belum menemukan Elra juga?"
"Kak Alpha mengatakan jika pakaian yang dipakai ditemukan di sebuah warung makan," jawab Randy.
"Elra tidak menangis, kan?"
"Aku tidak tahu, Kak Alpha tak menjelaskannya."
"Pasti Elra lapar dan haus. Maafkan Mama, Nak!" lirihnya.
Rissa datang membawa sepiring nasi beserta lauk pauk. "El, Randy, makanlah sedikit. Kalian jangan sampai sakit. Kakak-kakakmu sedang berusaha mencari Elra."
"Aku tidak mau makan sebelum Elra ditemukan, Kak." Elia menyeka air matanya.
"Randy, kamu makan dan suapin istrimu. Elra tak mau melihat kedua orang tuanya sakit," Rissa berusaha memberikan semangat kepada sepupunya.
Randy mengiyakan, sendok ia arahkan ke mulut istrinya. "Sayang, makanlah sedikit agar kamu kuat menggendongnya!"
__ADS_1
Elia perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya.