
Jarum jam telah menunjukkan pukul 1 dini hari, sepasang suami istri tersebut tak dapat memejamkan matanya karena sang buah hati belum bertemu.
"Ran, coba telepon Kak Alpha atau Kak Biom," ujar Elia.
"Jika sudah bertemu dengan Elra pasti mereka akan menghubungi kita, El."
"Aku sangat merindukan Elra, Ran." Lirihnya.
"Aku juga, El!" Randy menangkup wajah istrinya dan mengecup keningnya.
Mata Elia kembali berair.
"Tidurlah, aku akan berjaga. Jika Elra ditemukan ku pasti membangunkanmu."
"Aku tidak dapat tidur jika Elra masih menangis mencari kita," kata Elia.
"Kemarilah!" Randy menepuk dipahanya. "Tidurlah di sini, kita sama-sama menunggu Elra pulang!" lanjutnya.
Elia menjatuhkan kepalanya di paha suaminya. "Elra sedang apa di sana?"
Randy menghela napas.
Ponsel Randy di nakas berdering tertera nama Biom, gegas ia menjawabnya, "Halo, Kak!"
"Halo, Ran. Kami telah menemukan Elra, di perbatasan kota. Dia sekarang berada di gendongan Rama, kami segera pulang," ucap Biom.
Air mata bahagia mengalir di pipi Randy, "Terima kasih, Kak."
"Kabari pada Elia agar dia bisa tenang," ucap Biom.
"Iya, Kak."
Biom menutup teleponnya.
Randy meletakkan ponselnya di nakas lalu berkata kepada istrinya, "Mereka sudah menemukan Elra!"
"Benarkah?" Elia masih belum percaya.
"Iya."
"Syukurlah!" tangis bahagia menyelimuti hati Elia.
"Kita harus memberitahu Ibu dan Kak Rissa," ujar Randy.
Elia mengangguk mengiyakan.
Keduanya turun dari ranjang, keluar kamar. Melangkah bersama ke kamar Madya dan Rissa.
"Ibu, Kak Rissa!" panggil Elia.
Pintu terbuka, Rissa mengucek matanya.
"Kak, Elra sudah ditemukan!" Elia berkata sebelum mengucapkan sekata pun.
Rissa begitu senang dan memeluk Elia, "Syukurlah!"
Melonggarkan pelukannya, Rissa lalu membangunkan Madya. "Bibi!"
Madya membuka matanya baru sejam lalu ia tertidur.
"Elra telah ditemukan!"
Madya yang mendengarnya lantas bangkit, "Di mana cucuku?"
"Masih di perjalanan, Bi."
_
Dua jam kemudian, Biom dan rombongan datang ke rumah Elia.
Begitu turun dari mobil, Elia berlari mendekati putranya yang di selimuti jaket tebal milik Alpha. Ia menggendong dan mencium pipi Elra.
Tangis haru mewarnai penyambutan Elra dengan kedua orang tuanya.
Kini giliran Randy yang menggendong putranya, pria itu tak hentinya mengecup seluruh wajah.
Elia membawa putranya ke kamar dirinya dan suaminya. Di sana ada Rissa dan Madya, ia mengelap Elra dengan kain basah serta mengganti pakaiannya.
Randy datang membawa biskuit dan buah pisang.
"Kamu makan 'ya, Nak!" bujuk Elia.
Elra malah menguap.
__ADS_1
"Kamu mau tidur?" tanya Elia.
Elra mengiyakan.
"Ayo kita tidur!" Elia merebahkan tubuh putranya di ranjang dan ia berbaring di sampingnya.
Rissa, Madya dan Randy keluar kamar.
Ketiganya duduk bersama Rama, Alpha dan Biom beserta para karyawan Harsya.
"Kalian tahu siapa dalang penculikannya?" tanya Madya.
"Chintya," jawab Biom.
"Dia?" Randy tampak terkejut.
"Iya," jawab Biom lagi.
"Kamu kenal dengannya?" tanya Madya.
"Saya kenal, Bu. Dia adik angkatnya Tante Cindy," jawab Randy.
"Padahal Tuan Harsya telah menyuruhnya jangan menyentuh keluarganya lagi tapi dia masih berulah," ungkap Biom.
Randy mengepalkan tangannya.
"Apa dia sudah tertangkap?" tanya Rissa.
"Belum, dia sedang berada di luar negeri dan lagi di cari keberadaannya di sana!" jelas Alpha.
"Pasti Tante Cindy yang telah menyuruhnya," tuding Randy.
"Tentunya, dia selalu saja mencari masalah dengannya keluargaku," ucap Madya.
"Aku tahu di mana Kak Chintya menyembunyikan dirinya!" ujar Randy.
"Dia di negara mana?" tanya Biom.
Randy menyebutkan sebuah nama negara beserta alamat lengkapnya.
"Kamu yakin dia masih di sana?" tanya Alpha.
"Ya, di sana Tante Cindy memiliki sebuah apartemen kecil," jawab Randy.
***
Paginya, Elia terbangun di samping putranya. Ia terus menatap wajah Elra dengan mata berkaca-kaca. Ia juga mengecup pipi dan keningnya.
Randy masih tertidur karena dia baru dapat tertidur pada pukul 5 pagi.
Elia memang sengaja tak membangunkan suaminya.
Elia turun dari ranjang, berjalan ke dapur. tampak ibunya sedang menikmati sarapan pagi.
"Elra belum bangun?"
"Belum, Bu."
"Biarin saja, pasti dia sangat trauma."
"Tapi Elra tidak ada menangis semalaman, Bu."
"Berarti mereka memperlakukannya dengan baik," tebak Madya.
"Ibu tahu siapa penculiknya?"
"Masih ada hubungannya dengan keluarga suami kamu," jawab Madya.
"Maksudnya siapa, Bu?" Elia mengernyitkan dahinya.
"Siapa lagi kalau bukan Cindy, dia menyuruh adik angkatnya Chintya untuk menculik Elra. Padahal Harsya telah memberi peringatan ketika dia pernah menculik Anaya."
"Alasan dia apa menculik Elra?"
"Ibu belum tahu, karena sedang jadi buronan."
"Kenapa mereka selalu mengganggu hidup kita?"
"Entahlah, aku pun juga tidak tahu."
-
Selepas makan siang, Randy berpamitan kepada istrinya untuk mengunjungi Cindy. Tentunya, itu tanpa sepengetahuan sang ibu mertua.
__ADS_1
Selesai sarapan Madya pulang ke rumahnya.
Randy pergi menjenguk Cindy seorang diri menggunakan mobilnya.
Begitu sampai wanita paruh baya yang mulai tampak kerutan di wajahnya mengukir senyum.
"Apa hukuman yang diberikan keluarga Abraham Syahbana tidak membuat Tante Cindy jera?" sindir Randy.
Cindy tertawa.
"Kenapa kalian harus menyakiti anakku?" tanya Randy.
"Aku tidak ingin kamu bahagia dengan musuhku!" Cindy menekankan kata-katanya.
"Tante telah merebut ayah dari istriku dan menghancurkan kebahagiaan ibunya, sekarang ingin menyakiti cucunya juga?"
"Randy, kamu itu sudah dibutakan oleh cinta. Madya tidak sepenuhnya menerima kamu."
"Aku dan Elia saling mencintai," ucap Randy.
Cindy tertawa lalu berkata, "Masih percaya dengan cinta? Kamu itu tidak mencintainya, tujuanmu hanyalah harta mereka!"
"Aku percaya dengan cinta, hampir setahun ini aku sendirian. Semua karena keserakahan Tante!"
"Aku dan Abraham saling mencintai," Cindy berkata sambil tertawa kecil.
"Benarkah? Bukankah harta juga yang menjadi incaran Tante?" Randy menyindir.
Cindy terdiam.
"Sebentar lagi Kak Chintya akan menemani Tante di sini," Randy tersenyum.
Mimik wajah Cindy berubah.
"Dia akan membuat hukuman Tante semakin berat!"
"Tidak, Chintya tak mungkin tertangkap."
"Jangan pernah bermain dengan keluarga Abraham jika tidak ingin menderita!"
Cindy menjerit histeris, ia mengacak rambutnya.
Randy lalu berdiri, memakai kacamata hitamnya, ia pun beranjak pergi.
Sesampainya di rumah, Elra berlari menghampiri papanya.
Randy dengan sigap mengangkat tubuh kecil itu dan memeluknya.
"Pa-pa da-ri-ma-na?" tanya Elra belum terlalu jelas.
"Papa ada urusan sebentar, Nak."
"Ran..."
"Aku sudah memperingatinya, El. Semoga Tante Cindy segera sadar," ucap Randy.
"Semoga saja, Ran."
"Ayo, Nak. Papa ingin bermain denganmu," ajak Randy.
Elra mengangguk semangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like....
Mampir Juga Ke Karyaku Yang Lainnya...
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Salah Jatuh Cinta
- Calon Istriku Musuhku
- Marsha, Milik Bara
- Marry The Star
- Pesona Ayahku
- Dikejar Cinta Putri Atasan
__ADS_1
- Fall in Love From The Sky