
"Benarkah?" tanya Elia.
"Dia sepupu jauh aku, namanya Randy. Dia memang selalu menanyakan tentang kamu secara langsung melalui aku," tutur Mitha.
"Maksudnya?" Elia mengernyitkan dahinya.
"Misalnya begini ketika aku buat status di sosmed, dia akan komentar di mana aku berada saat ini. Pernah aku bertemu dengannya di minimarket dia akan bertanya apa aku sedang ingin keluar denganmu atau tidak."
"Pantas saja dia mengenalku."
"Berarti dia selama ini pria yang selalu mengirimkan kamu hadiah?" tanya Elia.
"Iya."
"Dia tak menyakitimu, kan?"
"Tidak, dia malah melamarku."
"Hah? Apa!"
"Aku bingung karena baru mengenalnya sedangkan dia selama ini sudah menjadi penggemarku. Menurutmu, dia orangnya seperti apa mulai sifat dan sikap?"
"Aku tidak terlalu mengenal keluarganya terlalu dekat, karena menurut silsilah keturunan sangat jauh. Kalau tak salah, ibunya dia keponakan dari suami bibi papaku. Ribet 'sih menjelaskannya."
"Jadi, kalian tidak pernah bertemu di acara besar keluarga?"
"Hanya sekali saja, aku juga tidak tahu dari mana dia mengenalmu."
"Sejak kapan mamanya Randy terduduk di kursi roda?"
"Aku tidak tahu, El. Karena memang tak mengenal secara dekat."
"Menurutmu, apa aku harus menerimanya?"
"Lebih baik kamu bicarakan hal ini dengan Kak Harsya atau ibumu," saran dari Mitha.
-
Mendengar saran dari Mitha, Elia lantas pergi mengunjungi kediaman kakaknya.
"Mitha, kamu sendirian?" tanya Harsya ketika adiknya baru tiba di rumahnya.
"Iya, Kak."
"Ada apa kemari? Tumben tanpa menelepon terlebih dahulu," kata Harsya.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Elia.
"Ya, kamu mau bicara apa?" tanya Harsya.
Elia menjelaskan bahwa ada pria yang menyukainya dan ingin melamarnya.
"Apa kamu mencintainya?"
"Aku bingung, Kak."
"Kenapa bingung?"
"Aku baru mengenalnya dua bulan terakhir ini," jawab Elia.
__ADS_1
"Apa kamu merasa nyaman dengannya?" tanya Harsya lagi.
Elia mengangguk.
"Pertemukan dia dengan kami di rumah ibu. Jika memang serius," ucap Harsya.
"Baik, Kak."
Elia lalu menghubungi Randy untuk bertemu dan pria itu menyetujuinya.
Keduanya kini berada di sebuah kafe.
"Kakakku ingin kamu datang ke rumah orang tuaku jika memang serius," ucap Elia.
"Kapan aku bisa bertemu dengan mereka?"
"Kamu serius?" Elia tak percaya.
"Iya, aku memang berniat serius denganmu, El."
Elia begitu senang mendengarnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa benar kamu mengenal Mitha?"
Randy terdiam.
"Pantas saja kamu tahu di mana aku berada, rupanya mendapatkan informasi dari Mitha," celetuk Elia.
Randy tersenyum menyengir.
"Aku akan memberitahu kamu waktunya," ucap Elia.
***
Empat hari kemudian...
Randy datang ke rumah orang tuanya Elia. Di depan calon keluarganya itu ia bertemu dengan Harsya dan Madya.
"Saya kakaknya Elia!" Harsya memperkenalkan diri.
"Saya Randy, Kak!"
"Silahkan duduk!" titah Harsya.
Keempatnya duduk bersama di satu meja.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Madya.
"Saya bekerja di perusahaan properti, Tante."
"Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Madya lagi.
"Papa sudah meninggal sepuluh tahun lalu dan mama hanya bisa terduduk di kursi roda," Randy menjelaskan dengan menunduk.
Madya dan Harsya tampak saling pandang.
"Apa kamu benar-benar serius dengan Elia?" tanya Harsya.
Randy mengiyakan.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu menyukai adikku?" tanya Harsya lagi.
"Saya tidak bisa memberikan alasannya," jawab Randy.
Elia yang mendengarnya tersipu malu.
"Aku akan memikirkan lagi, apakah kamu pantas untuk adikku atau tidak," ujar Harsya.
"Kak Harsya menolak Randy?" tanya Elia.
"Tidak, aku hanya ingin mencari tahu siapa sebenarnya kekasihmu ini," jawab Harsya.
"Apa yang dilakukan Kak Harsya sudah benar, dia hanya ingin terbaik untuk adiknya," ucap Randy.
Harsya tampak curiga dengan kekasih adiknya.
Sejam mengobrol seraya makan malam, Harsya pun pamit pulang bersama sopir, Alpha dan Biom.
"Aku ingin kalian mencari tahu siapa Randy sebenarnya? Aku curiga jika dia memiliki tujuan yang lain," perintahnya kepada Biom.
"Baik, Tuan."
Beberapa menit setelah Harsya, Randy pun berpamitan pada Elia dan ibunya.
Elia mengantarkan Randy sampai ke mobil. "Bagaimana jika Kak Harsya menolakmu?"
"Aku akan tetap berusaha meluluhkan hatinya."
"Semoga saja kamu berhasil, karena sangat sulit untuk menaklukkannya."
"Jika itu menyangkut kebahagiaan adiknya pasti dia akan luluh juga," ujar Randy.
"Biasanya begitu, tapi lihat saja nanti."
"Jika dia menolaknya apa kamu juga akan menolak aku?"
Elia terdiam, dia memang benar-benar sangat bimbang.
"Jangan dipikirkan, kita ikuti saja jalannya," ucap Randy.
Elia mengiyakan.
Randy masuk ke mobilnya dan melesat ke rumahnya.
Elia kembali ke dalam.
"Ibu ragu, El."
"Soal Randy?"
"Ya, entah kenapa Ibu tidak yakin dengan anak itu. Sepertinya dia menyimpan sesuatu dari kita," jelas Madya.
"Bu, kita baru saja bertemu. Wajar kalau ragu," ucap Elia.
"Rasa ragu Ibu sangat besar, El. Jadi berpikirlah terlebih dahulu sebelum rencana itu."
"Iya, Bu."
Di dalam kamar Elia, memikirkan perkataan ibunya dan ucapan singkat Harsya ketika makan malam.
__ADS_1
Elia sungguh telah jatuh cinta pada Randy namun hati kecilnya ragu. "Kenapa dengan aku? Kenapa ucapan ibu membuatku semakin ragu?" batinnya bertanya.