
Darrell dan Kayla semakin dekat, tentunya karena sering bertemu. Rino yang selalu mengantar wanita itu tampak begitu cemburu.
Rino lantas turun mendekati Darrel dan Kayla sedang berjalan menuju parkiran.
"Rino!" Kayla tampak terkejut dengan kehadiran Rino yang tiba-tiba.
"Aku ke sini untuk menjemputmu!" jawabnya.
"Bukankah...."
Rino menarik tangan Kayla kasar.
"Tuan, jangan kasar dengan wanita!" ucap Darrell.
"Aku tidak akan kasar, jika kamu tidak mendekatinya!" Rino berkata tegas.
"Maksudmu apa?" Kayla mengernyitkan keningnya.
"Ayo kita pulang!" Rino menarik tangan Kayla menuju mobilnya.
"Kak Darrell!" panggil Astrid.
Pria itu pun menoleh, "Eh, Bu Astrid!" menundukkan kepalanya.
Astrid tersenyum, "Kita sudah berada di luar kantor, tak usah panggil dengan sebutan Ibu."
"Kebiasaan," ucap Darrell tersenyum.
"Kenapa Kakak masih di sini?" tanya Astrid.
"Aku ingin memastikan kalau Kayla baik-baik saja."
"Memangnya kenapa dengan Kayla?"
"Tadi teman prianya menarik paksa tangannya," jawab Darrell.
"Maksudny Kak Darrel itu Rino?"
"Aku tidak tahu namanya."
"Mungkin dia cemburu, Kak."
"Cemburu?"
"Iya, Rino cemburu jika Kak Darrell terlalu akrab dengan Kayla."
"Memang mereka memiliki hubungan?"
"Sepertinya tidak."
"Lalu untuk apa marah?"
"Namanya juga sudah suka pasti ada rasa cemburunya," jawab Astrid.
"Aneh sekali!"
"Coba saja Kakak bayangkan kalau seandainya Nayna ada pria lain yang menyukainya. Apa Kak Darrel tidak cemburu?"
"Kenapa bawa nama Nayna?"
"Ini seandainya saja, Kak. Lagian aku lihat kalian berdua cukup akrab," celetuk Astrid.
Darrell hanya tertawa kecil.
"Buruan, Kak. Sebelum Nayna diambil orang lain," ucap Astrid.
"Aku tidak memiliki perasaan dengan Nayna," ujar Darrell.
"Oh, begitu."
"Ya, bagiku dia hanya teman biasa," ucap Darrell.
-
__ADS_1
Pulang dari kantor, Darrel tak ke rumah. Ia malah menuju ke kediaman Madya.
Sesampainya di sana, ia melihat Nayna tertawa dengan penjaga keamanan. Wajahnya tampak berseri dan cerah.
Entah kenapa hati tak rela jika Nayna bercanda dengan pria lain.
"Tuan Darrell, Nay!" ucap pria itu pelan.
Nayna pun menoleh namun wajahnya tampak ketus.
Darrell tersenyum pada keduanya, ia lalu melangkah ke dalam.
Madya tampak terkejut dengan kedatangan Darrell yang tiba-tiba.
"Bibi, aku mau makan malam di sini saja. Tak perlu mengantarnya lagi," ucap Darrell.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau merepotkan Nayna."
"Oh, ya sudah kalau begitu."
Darrell masih dengan pakaian kantor lantas keluar, ia lalu memanggil Nayna.
Wanita itu menghampirinya, "Apa yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Tolong, pijatkan aku!"
Nayna terkejut mendengar permintaan aneh tersebut.
"Aku bercanda!" Darrell tersenyum.
"Cepat katakan apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Nayna.
"Temani aku ke supermarket!"
"Kenapa harus bawa saya?"
"Cih, percaya diri sekali!" Nayna memandang sinis.
"Masuk ke mobil sekarang!" titah Darrell.
Dengan bersungut-sungut, Nayna melangkah ke mobil bersama Darrell.
Kemudi diambil alih Darrell dan melesat ke supermarket.
Nayna hanya diam dan Darrell mendorong troli.
"Cepat pilihkan bahan-bahan masakan!"
"Kenapa harus saya? Bukankah Tuan yang berbelanja?"
"Kamu 'kan wanita jadi aku minta tolong pilih yang bagus dan masih segar karena mau ku berikan pada Tante Madya."
Nayna pun mengangguk pasrah.
Keduanya berjalan ke arah bagian sayur mayur dan daging.
"Butuh berapa banyak?"
"Terserah!"
"Kenapa terserah?"
"Karena aku juga bingung," jawab Darrell.
Akhirnya Nayna memilih bahan masakan untuk 2 hari ke depan. Karena para karyawan makan siang dan malam di rumah wanita itu jadi Nayna memasukkan bahan-bahan tersebut cukup banyak ke troli.
Sejam berkeliling dan membayar transaksi, keduanya pun pulang.
"Nanti malam kamu makan bareng aku dan Bibi Madya, ya!"
"Tidak bisa, Tuan."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Saya ada janji dengan seseorang."
"Kekasih?"
"Bukan, hanya teman dekat."
"Pria atau wanita?"
"Pria."
"Kamu tidak boleh pergi!"
"Kenapa begitu?"
Darrell menghentikan laju kendaraannya dan meminggirkannya, "Aku bilang tidak boleh pergi!"
"Memangnya Tuan siapa aku?"
"Ya, aku tidak suka!" jawab Darrell.
"Sungguh aneh!" Nayna menggerutu.
"Ya, aku memang aneh!"
"Suami bukan, apalagi kekasih," ketusnya.
"Kamu mau menjadi salah satunya?"
"Tidak."
Darrell kembali melanjutkan kendaraannya.
-
Malam harinya selepas makan bersama dengan Madya. Darrell berniat menawarkan tumpangan kepada Nayna.
"Saya bawa mobil sendiri, Tuan."
"Tinggalkan saja mobilmu di sini!"
"Tidak bisa, Tuan."
"Kenapa?"
"Besok pagi saya pergi dengan menggunakan apa?"
"Aku akan menjemputmu."
"Tidak, Tuan harus berangkat kerja."
"Kamu tenang saja, aku bisa minta izin pada Astrid datang terlambat," ucap Darrell.
"Tidak bisa begitu, Tuan."
"Jangan banyak membantah, ayo ku antar pulang!" menarik tangan Nayna.
"Aku belum izin pada Nyonya Madya kalau mau menitipkan mobil."
"Aku akan meneleponnya!" ucap Darrell membukakan pintu mobil. "Ayo masuk!" lanjutnya memerintah.
"Kenapa Tuan suka sekali memaksa?" Nayna protes.
"Karena aku senang melihat wajahmu jika lagi kesal." Darrell tertawa.
Nayna mengerucutkan bibirnya.
"Kamu ingin memancing aku?"
Nayna gegas menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Darrell lagi-lagi tergelak melihatnya.
__ADS_1