Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 31 - Kabar Baik (3)


__ADS_3

Hari ini tepatnya hari bahagia bagi Darrell dan Nayna. Ya, mereka akan mengucapkan janji pernikahan.


Menggunakan kemeja putih dan jas berwarna biru muda. Darrell tampak gagah duduk di depan pamannya Nayna yang bertugas sebagai wali nikah.


Darrell tersenyum meskipun hatinya berdebar sangat kencang. Bagaimana tidak? Dia akan segera mengakhiri masa lajangnya tepat seminggu lagi usianya menginjak 32 tahun.


Baru 8 bulan lalu ia menikahkan adik kandungnya. Kini dirinya sendirilah yang akan melakukan hal yang sama seperti Biom.


"Nak Darrell, apa kamu sudah siap?" tanya seorang penghulu.


"Siap, Pak."


Pamannya Nayna pun mengucapkan ijab dan Darrell mengatakan menerima pernikahannya dirinya dengan pujaan hatinya


Ucapan syukur dari para tamu yang hadir membuat Darrell lega. Akhirnya ia dapat melalui dengan lancar.


Setelah pengucapan janji, Nayna dihadirkan di tengah-tengah mereka. Ia didampingi oleh kedua sepupu perempuannya.


Nayna tampak cantik dan anggun dengan balutan gaun berwarna senada dengan Darrell.


Nayna tampak tegang, namun ia mencoba tersenyum. Darrell yang memandangnya tak berkedip.


"Hai, Tuan Tampan!" panggil Nayna lirih ketika mereka berhadapan dan sangat dekat.


Darrell segera sadar dan tersenyum, gegas ia meraih tangan istrinya dan membawanya duduk bersama di meja tempatnya mengucapkan janji.


Selesai menandatangani akta sah pernikahan, Darrell dan Nayna melangkah perlahan menuju pelaminan.


Para keluarga dan saudara tampak antusias berfoto dengan pengantin.


Rissa memeluk kakak kandungnya dan menangis haru.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Darrell, menangkup wajah adiknya.


"Aku sangat senang hari ini, Kak. Andai ada mama dan papa pasti mereka sangat bahagia!"


"Mereka telah bahagia di sana, Rissa. Aku sudah menikahkan kamu dengan pria pilihan hatimu."


"Terima kasih, Kak. Sudah menyayangi aku!"


"Kakak juga berterima kasih, karena kamu aku jatuh cinta pada Nayna."


Rissa pun tersenyum.


"Jangan menangis lagi, kasihan calon keponakanku!" Darrell menghapus air mata adiknya.


Rissa mengiyakan.


Biom memeluk kakak iparnya dan mengucapkan selamat.


Nayna yang mendengar percakapan antara suami dan iparnya tampak berkaca-kaca.


Darrell menoleh ke arah istrinya ketika Rissa dan suaminya turun dari pelaminan. "Kenapa bersedih?"


Nayna menggelengkan kepalanya.


"Hai, kenapa tidak menjawab pertanyaan aku?"


"Karena tak ada jawabannya."


"Aku harus tahu, apa yang menjadi alasan kamu menangis nanti malam."


Nayna hanya tertawa kecil.

__ADS_1


Kayla dan Rino tampak datang sebagai tamu undangan. Keduanya saling menggenggam tangan.


Sepasang kekasih itu memberikan kado dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


"Selamat, Rel!" ucap Kayla.


"Terima kasih, Kay!" Darrell tersenyum.


"Maaf, beberapa waktu lalu aku sempat salah paham denganmu," ucap Rino.


"Begitulah kalau orang yang sedang jatuh cinta, terkadang melihat seseorang yang kita cintai dekat dengan yang lain akan cemburu. Persis seperti wanita cantik di sampingku ini!" Darrell melirik istrinya.


Nayna yang malu lantas mencubit lembut pinggang suaminya.


Kayla dan Rino tertawa.


"Aku 'kan benar!" Darrell membela diri.


"Mau mempermalukan istri sendiri?" bisik Nayna.


Darrell menyengir.


"Selamat bahagia buat kalian berdua!" ucap Rino.


"Terima kasih," ucap Darrell dan Nayna.


"Dua bulan lagi aku dan Kayla akan menikah, kalian harus hadir, ya!"


"Kami akan meluangkan waktu untuk hadir di acara pernikahan kalian!" ujar Darrell.


"Kami tunggu kedatangan kalian berdua!" ucap Kayla.


"Siap, Kay!"


Astrid begitu mengajak ketika berbicara dengan Hana yang ucapannya tidak terlalu jelas.


"Tante, lihatlah pakaianku sangat cantik 'kan persis seperti Tante Nay," ucap bocah berusia 27 bulan itu.


"Iya, sangat cantik!" puji Astrid.


"Tante, tidak pernah main ke rumahku. Kenapa?"


"Cantik, maaf. Akhir-akhir ini Tante sering kelelahan jadi inginnya pulang dari kantor langsung tidur."


"Kenapa mirip Ibu aku, Tante? Ibu selalu tidur, meskipun baru bangun. Aku mau ajak main dia jawabnya Ibu ngantuk!" tutur Hana.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Astrid.


"Kata ayah, ibu sedang mengandung adikku," jawabnya polos.


"Apa aku juga begitu? Tidak, aku tak boleh berharap lebih. Nanti akan sakit hati," Astrid membatin.


"Tante..."


"Iya, cantik!"


"Aku haus!"


"Ayo Tante temani ambil minumnya!" Astrid memegang tangan gadis mungil itu.


Sementara yang lainnya, Anaya hanya terduduk dengan wajah pucat. Beruntung, riasan wajah mampu menutupi kekurangannya.


Ya, Anaya kini hamil anak kedua. Dua minggu lalu ia hanya bisa terbaring di ranjang. Hari ini ia memaksa hadir di pernikahan Darrell dan Nayna karena bosan selalu berada di rumah tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


Anaya pun diharuskan menggunakan kursi roda karena Harsya khawatir dengan kondisi istrinya itu.


"Kamu mau makan apa? Dari tadi belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutmu?" tanya Harsya lembut.


"Aku ingin minum es, suamiku."


"Biar pelayan mengambilnya untukmu!"


Anaya mengangguk.


Dua orang pelayan membawa beberapa jenis minuman dan mereka hidangkan di atas meja.


"Cuma ingin ini saja?" tanya Harsya lagi.


"Iya, Suamiku!"


Dua pelayan itu pun berlalu.


Harsya dengan telaten mengurus istrinya meskipun beberapa pasang mata memandangnya. Ada yang memuji ketulusan dan kesabarannya, ada juga yang mencibir Anaya yang terlalu manja dan memaksa kehendak untuk datang.


Elia yang juga hadir tampil di atas pentas, ia menyanyikan sebuah lagu dari seorang penyanyi pria.


Suaranya yang indah membuat para tamu bertepuk tangan. Mereka memuji penampilan dan vokalnya.


Elia hanya menyanyikan 2 buah lagu, setelah itu ia turun dari panggung.


Ia berjalan menghampiri keluarganya, tanpa sengaja matanya tertuju pada seorang pria yang melangkah keluar dari area ballroom.


Elia izin untuk pergi ke toilet, dengan langkah cepat ia mengejar pria itu.


"Tunggu!" Elia memanggil.


Pria itu sejenak berhenti tanpa menoleh, lalu lanjut melangkah.


Elia semakin mempercepat langkahnya, hingga ia sampai memegang bahu pria itu. "Aku mengenalmu!"


Menurunkan tangan Elia dari bahunya, pria berjas hitam itu pun segera berlari kecil.


Elia yang sangat penasaran mengejarnya hingga keluar hotel. Elia mengedarkan pandangannya mencari keberadaannya.


"Di mana dia? Siapa sebenarnya dia? Kenapa setiap pernikahan yang dihadiri keluarga Abraham dia selalu ada? Apa tujuannya?" pertanyaan itu menari-nari di benak kepala Elia.


"Nona, kenapa di sini? Nyonya Besar mencari anda?"


Sapaan pengawal pribadi keluarganya, membuyarkan pikirannya. Elia pun segera menjawabnya walau berbohong, "Aku tadi seperti melihat temanku, ternyata bukan."


"Oh."


"Aku akan kembali masuk!" Elia lalu melangkah ke dalam hotel.


Pria yang sedang diikuti Elia, bersembunyi di balik mobil yang terparkir. Ia memakai topi dan maskernya. "Suatu hari aku akan memberikan kejutan untukmu, Tuan Abraham!" batinnya.


Ia pun bergegas pergi dari tempat itu.


"Elia, kamu dari mana saja?" tanya Madya.


"Aku baru dari toilet, Bu."


"Kenapa lama sekali? Jangan berbohong pada Ibu?"


"Rencananya tadi mau ke toilet, tapi ku melihat ada orang yang mirip temanku ternyata bukan," jawab Elia berbohong.


"Oh," ucap Madya. "Jangan ke mana-mana, ibu tak mau kamu hilang!" lanjutnya berucap.

__ADS_1


Elia tertawa kecil, "Aku bukan anak kecil lagi, Bu."


__ADS_2