
Pagi ini Randy menikmati sarapan bersama dengan sang ibu.
"Kamu tidak melihat istrimu?"
"Tidak, Ma."
"Bagaimana jika dia pingsan?"
"Tidak mungkin, paling semalaman dia menangis."
"Bagaimana jika dia berteriak-teriak?"
"Aku yakin para tetangga tidak akan mendengarnya."
"Randy, Bibi Lanny hari ini jadwalnya mengurus dan merawat Mama. Bagaimana jika dia mendengar teriakannya Elia?"
Randy tampak sejenak berpikir.
"Bagaimana jika kalian pindah saja dari sini?" usul sang mama.
"Bagaimana dengan...."
"Kamu tenang saja, Mama akan menambah ART lagi untuk menjaga dan mengurus di malam hari."
"Baiklah kalau begitu, aku akan membawa Elia ke apartemen."
Selesai sarapan, Randy melangkah ke kamar penyekapan istrinya. Begitu membuka pintu, Elia tampak masih tertidur.
"Elia, bangunlah!" ucapnya dengan nada rendah.
Wanita itu belum juga terbangun.
"Elia, ini sudah pagi. Bangunlah!" panggilnya dengan lantang.
Elia perlahan membuka matanya, lalu bangun dan duduk.
"Pergilah mandi. Pagi ini kita akan pindah!"
"Pindah ke mana?"
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Randy. "Jangan banyak bertanya, cepatlah!" lanjutnya.
Elia mengiyakan, ia turun dari ranjang melangkah ke kamar suaminya.
-
Selesai mandi, membawa pakaian di dalam koper. Keduanya pun pergi ke apartemen milik Randy.
Begitu sampai Elia tampak heran jika bangunan yang baru saja dimasukinya itu harganya sangat mahal dan hanya kalangan tertentu mampu memilikinya.
"Ini apartemen siapa? Kamu tidak berniat menjualku, kan?" cecar Elia.
"Ini punya temanku dan ku tak memiliki niatan menjualmu karena itu sama saja membuatku dalam bahaya."
Elia dapat bernapas lega, suaminya bukan menjualnya.
"Kita akan tinggal di sini," ujar Randy membuka pintu unit apartemennya.
"Aku sendirian di sini selama kamu bekerja?"
"Ya," jawab Randy. "Jangan mencoba kabur dariku!" lanjutnya.
Elia mengiyakan, padahal dirinya sedang merencanakan sesuatu.
Randy lantas keluar dan mengunci istrinya dari luar.
-
Randy tidak pergi ke kantor ia malah menuju ke rumah tahanan tempat Cindy menjalankan hukumannya.
"Aku sudah melaksanakan semua perintah dari Tante Cindy," ujar Randy.
"Apa gadis itu sangat menderita?" tanyanya dengan suara pelan.
__ADS_1
"Kemungkinan dia sangat tersiksa menikah denganku."
"Aku ingin kamu membuatnya mati!"
Randy terdiam.
"Kenapa? Kamu takut?" tanya Cindy.
"Aku tidak bisa!" jawab Randy.
"Kamu kasihan dengannya?"
"Tidak, Tante. Resikonya sangat besar, bagaimana dengan mama jika aku mendapatkan hukuman?"
"Jika kamu membuatnya menderita dan ketahuan, tentunya dirimu juga akan ditahan!"
"Maaf, Tante. Aku tidak mungkin melakukan itu."
"Randy, dengarkan Tante. Papamu itu mati karena sikap kekanakan Madya, seandainya dia tak menyuruh kakakku pergi mengantarkannya ke rumah orang tuanya pasti dia masih bersama dengan kalian hidup tenang dan bahagia."
Randy yang mendengarnya semakin membuatnya membenci keluarga istrinya itu.
"Kamu harus membuat putri kesayangannya lebih menderita kalau perlu Madya terus menangisi nasib istrimu itu!"
Tak sampai 15 menit, Randy pun pergi dari tempat itu.
Di perjalanan menuju kantornya, ia selalu mengingat perkataan Cindy jika Madya penyebab semuanya termasuk wanita itu masuk ke tahanan.
-
Malam harinya, Randy baru saja pulang dari kantornya. Begitu membuka pintu, tampak seluruh ruangan hening tanpa suara.
Randy berteriak memanggil nama istrinya namun tak ada sahutan.
Randy mencarinya di kamar tidur dan kamar mandi tetapi Elia tak juga ia temukan.
Randy lantas ke dapur dan melihat istrinya sedang mengaduk teh masih menggunakan handuk.
"Aku baru selesai mandi, lagian juga tak ada orang lain di sini," jawab Elia santai.
"Tapi, pakaianmu itu bisa mengundang....."
"Mengundang apa?"
"Kejahatan."
"Kita hanya tinggal berdua di sini, siapa yang akan menyakiti aku kalau bukan kamu?" sindirnya.
"Pakailah pakaianmu, jangan memancingku!"
"Cih, siapa pula yang ingin memancingmu?" Elia lantas duduk dan menyesap tehnya.
Randy tak dapat menahan dirinya ketika melihat paha mulus Elia.
"Kamu ingin aku buatkan teh?" Elia menawarkan diri.
Randy mendekat lalu menggendong istrinya, "Tak perlu!"
"Hei, apa yang kamu lakukan?" Elia memberontak di gendongan.
Randy mempercepat langkahnya ke kamar, ia melemparkan istrinya ke ranjang gegas menindihnya dan melahapnya.
Elia tersenyum puas ketika suaminya menyentuhnya.
"Aku akan membuatmu menyesal, Randy!" batin Elia.
Pergulatan itu berlangsung 2 jam, sehingga Randy begitu sangat kelelahan. Ia tertidur di samping istrinya.
Bunyi suara perut, membangunkan Randy. Ia tak melihat istrinya di sampingnya. Lantas, ia keluar kamar mencari keberadaan wanita itu.
Elia duduk menikmati cemilan keripik kentang seraya menonton televisi. Ia sangat begitu asyik dengan kegiatannya.
"Apa kamu sudah makan?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa memasak."
"Kita akan mencari makanan diluar, tunggu sebentar aku mau mandi," ucap Randy.
"Ya."
Setengah jam kemudian, Randy keluar dari kamar. Ia lalu mengajak istrinya pergi makan malam.
Di dalam mobil ia mengingatkan Elia agar tak kabur. Wanita itu pun mengiyakannya.
Sepuluh menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran siap saji ayam goreng tepung.
Elia duduk menunggu sang suami memesan makanan.
Tak lama kemudian pria itu membawa 2 porsi ayam goreng tepung beserta nasi dan minuman.
Lagi menikmati makanannya, Elia dihampiri Vallen tampak membuat Randy cemburu.
"El, apa kabar?" sapa pria tersebut.
"Baik, Val." Jawab Elia. "Kenali ini suamiku!" lanjut mengenalkan Randy.
"Aku temannya Elia," ucap Vallen.
Randy hanya tersenyum singkat.
Vallen lalu duduk bersama Elia dan suaminya. "Kenapa tidak mengundangku saat pernikahanmu?"
"Aku lupa," jawab Elia asal.
"Kamu takut aku akan menggagalkan rencana pernikahanmu?" tuding Vallen.
Elia tertawa kecil.
"Padahal aku berharap kita bisa menjadi sepasang kekasih kemudian menikah," ujar Vallen.
Elia melirik suaminya yang tampaknya tak suka dengan kehadiran Vallen.
"Ini kesempatan bagus untuk membuatmu cemburu, Suamiku!" batin Elia menyeringai.
"Aku kalah cepat dengan dia, seharusnya..."
"Memang seharusnya kamu lebih cepat melamarku dan tentunya aku akan menerimamu dengan senang hati," sambung Elia.
"Tapi, akulah yang jadi pemenangnya!" Randy menyahut.
"Mungkin memang dia jodohmu, aku berharap kamu bisa menjaganya dengan baik. Jika tidak ku akan merebutnya darimu," ucap Vallen.
"Pastinya aku akan menjaganya, karena ku sangat mencintainya!" Randy tak mau kalah.
Selanjutnya menuju pulang, Randy menyinggung istrinya sangat begitu bahagia bertemu dengan Vallen.
"Aku sangat bahagia, apalagi dia lebih tulus dan tidak memiliki maksud tertentu mendekatiku," sindir Elia.
Randy terdiam.
-
Di apartemen, Randy yang sangat begitu cemburu lantas memaksa istrinya melayaninya di ranjang.
"Aku tidak mau, bagaimana jika aku hamil?"
"Aku tidak peduli!" jawab Randy yang terus menciumi leher Elia.
"Itu akan membuatmu semakin menyesal!"
Tak memperdulikan ucapan sang istri, ia terus menyusuri seluruh tubuh wanita yang kini dibawahnya.
"Randy...."
Belum selesai berbicara, mulutnya telah dibungkam oleh Randy dengan bibirnya.
Pertempuran pun kembali terjadi lagi untuk kedua kalinya dalam satu hari ini.
__ADS_1