
Seminggu berlalu....
Chintya telah ditahan, alasannya menculik Elra karena tak senang jika Randy kembali menikah dengan Elia.
Randy seharusnya membalaskan dendam Cindy bukan malah berbalik. Ya, mereka kecewa atas sikap pria itu.
Randy yang bangun lebih awal, melangkah ke kamar putranya. Ia sengaja membangunkannya agar dapat dibawa jalan-jalan pagi.
Elra turun dari ranjangnya dan memegang tangan papanya, keduanya melangkah ke kamar Elia.
Elra berlari kecil dan menaiki ranjang kedua orang tuanya, ia mengecup pipi Elia yang masih tertidur pulas.
Elia mengerjapkan matanya dan melihat buah hatinya di dekatnya. Ia pun mengukir senyuman.
"Ayo bangun, sayang. Katanya kita hari ini mau lari pagi," ujar Randy.
"Iya, tunggu sebentar." Elia bangkit, merenggangkan otot-otot tubuhnya lalu turun dari ranjang.
Beberapa menit kemudian kini keduanya bersiap berlari pagi, Elra tampak begitu riang di tengah kedua orang tuanya.
Elra berhenti membuat Elia mendekat, "Kamu lelah?"
Elra mengangguk.
Randy lalu menggendong anaknya dan melanjutkannya dengan berjalan kaki.
"Nanti siang kita ke rumah Paman Darren, putrinya hari ini berulang tahun," ucap Elia.
Elra bertepuk riang.
"Kamu senang?" tanya Randy.
Elra mengangguk semangat.
__ADS_1
"Selesai sarapan kita cari kado buat Kak Dayna," ucap Randy.
Elra malah bertepuk tangan.
Randy dan istrinya tertawa melihat tingkah putranya.
Selesai sarapan, ketiganya berangkat ke toko mainan anak-anak. Elra yang begitu senang di bawa ke tempat itu meminta turun dari gendongan sang papa.
Berjalan dengan wajah riang, Elra mengambil mainan dan menunjukkannya kepada Randy.
"Kamu mau ini?" tanya Randy buat memastikan apa serius atau tidak.
Elra mengangguk.
Randy mengambil mainan tersebut dan menentengnya.
Setengah jam memutari lorong toko mainan, keluarga kecil itu pun membayar seluruh tagihan belanjanya.
-
Setibanya di sana, para tamu telah berdatangan. Pernak-pernik pesta ulang tahun tampak begitu meriah.
Wajah Elra begitu riang ketika melihat teman-teman sebayanya saling kejar-kejaran.
Elra lantas turun dari gendongan papanya dan bermain dengan lainnya.
Nayna memeluk Elia, wanita itu menerima kado pemberiannya. "Terima kasih, El."
"Sama-sama, Kak."
Hana kini berusia 8 tahun, begitu sebal dengan bocah laki-laki yang dibawa Astrid dan Alpha.
"Tidak pernah makan enak, ya!" singgung
__ADS_1
Hana.
Bocah berusia 10 tahun tampak begitu santai menikmati es krim rasa coklat.
"Hei, kamu itu kenapa menyebalkan?"
"Kamu mau es krim?" Bocah itu menyodorkan cup es kepada Hana.
"Aku bisa membeli semua es krimnya, jangan berbaik hati padaku!"
Bocah itu tak menghiraukan Hana dan memilih berlalu.
Acara pun dimulai, anak-anak menyanyikan lagu bersama-sama. Hana terus memperhatikan bocah laki-laki itu yang tampak riang.
Hana melipat tangannya, ketika bocah yang telah mencuri perhatian kedua orang tuanya sedang bernyanyi. Tampak Astrid dan Alpha tertawa melihatnya, begitu juga dengan putranya.
"Suaranya bagus sekali!" puji Elia yang duduk di sebelah Hana.
"Jelek begitu di bilang bagus," Hana menatap sinis.
"Hana, kemarilah!" Darren memanggil gadis kecil itu menggunakan mikropon.
"Hana, kamu di panggil. Cepat sana!"
"Aku tidak mau, Tante." Hana berdiri, menggelengkan kepalanya dan meninggalkan tempat.
Semua orang tampak heran dengan sikap Hana yang tiba-tiba ketus, biasanya dia sangat ceria.
"Kenapa dengan dia?" tanya Randy.
Elia menaikan bahunya.
"Hana tidak mau bernyanyi bersama Dennis, bagaimana kalau kita sama-sama bernyanyi?" tanya Darren pada tamu anak-anak.
__ADS_1
"Mau, Paman!" teriak mereka serentak.