
Dua hari kemudian, tepatnya hari Senin. Darrell kembali bekerja seperti biasanya.
Mengendarai mobil seorang diri ia menuju kantornya.
Sesampainya di parkiran, ia berpapasan dengan Kayla.
"Pagi!" Kayla melemparkan senyumnya.
"Pagi juga!" Darrell membalasnya.
Keduanya berjalan beriringan bersama memasuki gedung.
Rino yang selama ini menjadi sopir pribadi dadakannya Kayla tampak cemburu. Bagaimana tidak? Hampir tiap hari mereka bertemu.
"Sepertinya pria itu menyukainya," tebak Rino dalam hati.
Astrid baru saja tiba, ia diantar suaminya menggunakan mobil. Setelah melambaikan tangannya, kendaraan di kemudikan Alpha perlahan meninggalkan gedung kantor.
Rino yang belum pergi, bergegas keluar dan berlari kecil. "Astrid!" panggilnya.
Mendengar namanya dipanggil Astrid segera menoleh.
"Aku boleh tanya sesuatu padamu?"
"Tanya apa?" jawab Astrid.
"Siapa pria itu?" Rino menunjuk ke arah mobil hitam yang terparkir.
"Oh, itu Darrell. Adik iparnya rekan kerja suami aku, dia juga karyawan sini."
"Oh, jadi namanya Darrell."
"Iya."
"Apa dia dan Kayla memiliki hubungan?" tanya Rino.
"Aku tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu? Bukankah kalian sering bertemu dan mengobrol?"
"Iya, aku dan Kayla sering mengobrol tapi tak pernah membahas Darrell."
"Oh."
"Memangnya kenapa kalau Kayla dan Darrell memiliki hubungan? Mereka berdua tidak sedang menjalin hubungan dengan orang lain," ucap Astrid.
"Ya, tidak apa-apa, sih!" Rino memaksakan senyum.
"Kamu suka dengan Kayla, ya?" Astrid mencoba menebak.
Rino menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
"Benarkan? Kalau kamu suka dengan Kayla," ujar Astrid.
"Sebenarnya...."
Ponsel Astrid berdering membuat obrolan keduanya berhenti.
Astrid pun menjawab teleponnya.
Selepas mengakhiri percakapan, Astrid lalu berkata, "Aku harus bekerja, lain waktu lagi kita bicara. Sampai jumpa!"
Astrid mempercepat langkahnya memasuki gedung kantornya.
Sesampainya di ruang kerjanya, tampak Kayla sudah menunggunya. "Kenapa hari ini kamu lama sekali datangnya?"
"Aku tadi mengobrol sebentar dengan Rino." Astrid membuka pintu ruang kerjanya.
"Rino?" Kayla tampak heran.
"Dia bertanya tentang Darrell."
"Untuk apa dia bertanya?"
"Entahlah, mungkin dia cemburu kamu dekat dengan Darrell," ujar Astrid, menarik kursi kerjanya lalu duduk.
"Kenapa harus cemburu?"
"Mungkin dia menyukaimu," Astrid menjawab dengan tersenyum meledek.
Kayla hanya tertawa kecil.
"Mana laporan yang ku minta kemarin?"
__ADS_1
"Ini!" Kayla memberikan beberapa berkas.
"Kembalilah bekerja dan jangan membuat Rino mengejar-ngejar aku hanya bertanya tentangmu," singgung Astrid seraya tersenyum.
Kayla pun berlalu.
-
Sore harinya, Darrell dan Kayla berpapasan ketika di pintu masuk gedung kantor.
"Pulang dengan siapa?" tanya Darrell.
"Dijemput."
"Kekasihmu?"
"Tidak, hanya teman. Kebetulan dia butuh pekerjaan, makanya menjadi sopirku."
"Oh."
"Darrell, aku duluan, ya!" pamit Kayla lalu melangkah cepat ke mobilnya Rino.
Kayla membuka pintu, duduk dan memasang safety belt.
"Kalian sepertinya sangat akrab," Rino membuka percakapan seraya menghidupkan mesin mobil.
"Maksudnya?" tanya Kayla.
"Pria itu namanya Darrell, kan?"
"Iya."
"Kalian memiliki hubungan?"
"Tidak," jawab Kayla.
"Jangan berbohong, akui saja!"
"Kami memang tidak memiliki hubungan apa-apa," ucap Kayla.
"Dari wajahnya sepertinya dia menyukaimu," tuding Rino.
Kayla tertawa mendengarnya.
"Aku juga serius!" ucap Kayla.
Rino tak mendapatkan pasti jawaban dari Kayla, memilih diam dan fokus menyetir.
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di kediaman Madya.
"Nayna, bisakah kamu membantu saya?" tanya wanita paruh baya itu.
"Apa yang bisa saya bantu, Nyonya?" Nayna balik bertanya.
"Bisakah kamu mengantarkan makanan ini ke rumah Darrell? Tante kasihan dengannya, tinggal sendirian tanpa ART."
"Kenapa tidak ada ART, Nyonya?"
"Mereka mengikuti Rissa di rumah suaminya, makanya Darrell sekarang tinggal sendirian," jelas Madya.
"Oh, begitu. Apa kira-kira Tuan Darrell butuh beberapa orang ART?"
"Saya tidak tahu, nanti kamu tanyakan saja. Sekarang kamu antarkan ini!" Menyerahkan kantong kertas berisi beberapa wadah kotak makanan.
"Baik, Nyonya!"
"Setelah dari sana, kamu boleh pulang!"
"Terima kasih, Nyonya. Saya permisi!"
Mengendarai mobil, Nayna pergi menuju kediaman Rissa yang sekarang ditempati oleh Darrell.
Nayna berdiri di depan pintu dan memencet bel.
Tak lama kemudian Darrell membuka pintu. "Nayna!"
"Saya hanya mengantarkan ini saja, Tuan!" Menyerahkan kantong kertas.
"Oh, sampaikan terima kasih kepada Bibi Madya."
"Iya, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"Nayna, tunggu!" ucap Darrell menghentikan langkah wanita itu.
__ADS_1
Nayna menoleh, "Iya, Tuan. Ada apa?"
"Temani saya makan!"
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa, permisi!" Nayna bergegas pergi.
"Kenapa dengan dia? Tidak biasanya," gumamnya.
Darrell menutup pintu dan menikmati makan pemberian dari Madya seorang diri.
***
Keesokan harinya, Rama menemani Intan berbelanja di minimarket tak jauh dari rumahnya menggunakan motor.
Rama menunggu di luar sementara Intan yang masuk dan berbelanja.
Di tengah waktu menunggunya, Rama memperhatikan sekitar jalan. Tak lama sebuah mobil berhenti tepat di samping kendaraan yang di dudukinya.
Seorang wanita keluar dari mobil lalu melemparkan senyuman kepada Rama.
Merasa mengenal wanita yang ada dihadapannya, Rama tersenyum singkat.
"Apa kabar?" sapanya.
"Baik," jawab Rama singkat.
"Lagi menunggu siapa?" tanya wanita itu lagi.
"Istri," jawab Rama lagi.
"Kamu sudah menikah?" wanita tersebut tak percaya.
"Iya."
"Kenapa kamu tidak menungguku?"
Rama mengerutkan keningnya.
"Rama, aku menunggumu. Tapi, kenapa kamu tidak datang?"
"Menunggu? Bukankah kedua orang tuamu yang jelas-jelas menolakku? Dan kamu sama sekali tidak membelaku," ungkap Rama.
"Aku minta maaf, Rama." Wanita itu tampak menyesal.
"Sayang, aku sudah siap belanja...." Intan memperhatikan wanita yang mengobrol dengan suaminya.
"Kamu sudah selesai belanjanya, kalau begitu ayo kita pulang!" ajak Rama, bergegas menyalakan mesin motor.
Wanita itu masih terdiam dan berdiri melihat sepasang suami istri tersebut.
Intan lantas duduk di bagian belakang.
Tanpa permisi, Rama pun segera meninggalkan parkiran minimarket.
Diperjalanan Intan lantas bertanya, "Siapa dia?"
"Mantan kekasih."
"Untuk apa dia menemuimu?" tanya Intan.
"Dia menyesal telah meninggalkan aku," jawab Rama.
"Apa kamu juga menyesal?"
Rama meminggirkan mobilnya lalu menoleh ke belakang, "Tidak."
"Sudah bilang kalau kita ini telah menikah?"
"Sudah."
"Lalu bagaimana ekspresi wajahnya?" tanya Intan pemasaran.
"Tentunya terkejut."
"Tidak memiliki perasaan apapun lagi padanya, 'kan?"
"Kalau ada, aku tidak akan menikahimu, istriku yang cerewet!"
Intan tersenyum nyengir.
"Jangan menanyakan sesuatu yang membuat hubungan kita merenggang!"
"Iya, suamiku!"
__ADS_1
Rama kembali menyalakan mesin motornya dan melesat ke rumahnya.