
Keesokan harinya, selepas pulang kerja. Harsya mendatangi kediaman ibunya. Ia menjelaskan hasil penyelidikannya tentang Randy.
Madya tanpa syok dan tak menyangka dengan ucapan yang diberikan putra pertamanya.
"Sebentar lagi Elia pulang, Ibu sudah memberitahunya agar tidak pergi ke mana-mana," ucap Madya.
Dan benar saja 10 menit kemudian, Elia pulang.
"El, kakak kamu ingin menjelaskan sesuatu padamu. Ayo duduk sini!" ujar Madya.
"Iya, Bu." Elia duduk di sebelah ibunya.
"Dari mana kamu mengenal Randy?" tanya Harsya.
"Randy yang lebih dahulu mengenal aku, Kak."
"Maksudnya?" Harsya bertanya lagi.
"Randy menyukaiku tujuh tahun yang lalu dan dia juga selalu mengirimkan ku hadiah," ungkap Elia.
"Jadi, dia selama ini...."
"Iya, Bu!" sahut Elia.
"Aku tidak mengerti arah pembicaraan kalian," ujar Harsya.
"Adikmu hampir tiap hari mendapatkan kiriman berbagai macam barang, Harsya." Jelas Madya.
"Jadi, dia sebenarnya penggemarmu?" tanya Harsya.
"Entahlah, Kak. Mungkin," jawab Elia.
"Kamu harus menjauhinya sekarang juga!" perintah Harsya.
"Kenapa, Kak?"
"Karena dia adalah keponakannya Cindy!" jawab Harsya.
"Tante Cindy? Sekretarisnya papa?" tanya Elia ragu.
"Iya," jawab Harsya lagi.
"Dia mendekatimu karena ingin menghancurkan kita!" ucap Harsya.
"Aku tidak percaya, Kak!"
"El, Kakakmu tidak mungkin berbohong. Bisa jadi dia ingin membalas dendam melalui kamu!" ujar Madya.
-
-
Malam harinya, Elia bertemu dengan Randy di sebuah kafe.
Tanpa basa-basi Elia segera bertanya pada pria yang baru saja duduk. "Siapa kamu sebenarnya?" menatap dingin.
"Ada apa, El?"
"Jangan balik bertanya!" sentaknya.
"Elia, aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu," Randy berkata lembut.
"Siapa Tante Cindy?"
Randy bergeming.
"Kamu sengaja mendekati aku karena wanita itu, kan!" tuduh Elia.
"El, dengarkan aku. Ku akan jelaskan semuanya!"
"Cepat jelaskan!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Aku mohon kecilkan volume suaramu, orang-orang melihat kita," ujar Randy.
"Buruan!" desaknya.
"Baiklah, aku akan jelaskan. Tante Cindy adalah adik kandung papaku."
Elia menahan napasnya, Randy adalah keponakan dari musuh keluarganya. Wanita itu yang telah melenyapkan ayahnya.
"El, aku minta maaf. Aku rasa hubungan ku dengan Tante Cindy itu tak terlalu penting karena yang menjalani semuanya kita."
"Tapi, aku tidak bisa menerimamu!"
"El, kenapa?" Randy pura-pura tidak tahu.
"Tante Cindy itu yang telah membuat ayahku meninggal!" jawab Elia.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak tahu untuk masalah itu!"
"Mustahil!"
"El, percaya padaku. Aku memang tidak tahu kalau Tante Cindy adalah pelakunya."
Elia lalu beranjak berdiri.
"El, kamu mau ke mana?"
"Jangan pernah dekati aku dan pergilah menjauh dari hidupku!" Elia mempertegas perkataannya.
Meraih tasnya dan bergegas pergi.
Randy mengejar langkahnya, "El, apa aku tidak boleh bahagia?"
Elia menghentikan langkahnya.
"Tante Cindy memiliki kesalahan, kenapa aku yang harus terkena imbasnya?"
Elia menoleh ke belakang. "Karena keluarga ku tidak menyukai hubungan kita!"
"Aku akan buktikan kalau ku tak seperti Tante Cindy!"
"Silahkan!" Elia lanjut melangkahkan kakinya.
Randy mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
***
Esok harinya, Randy sengaja menunggu Elia di depan kantornya. Ia datang lebih awal dari jadwal pulang karyawan.
Elia keluar menjinjing tasnya menuju parkiran. Randy dengan membawa buket bunga mawar menghampirinya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Elia ketus.
"Buat kamu!" Randy menyodorkan buket.
"Lebih baik kamu bawa pulang!"
"Aku tidak bisa!"
"Randy, jangan menggangguku!"
"El, aku harus melakukan apa agar kamu bisa menerimaku?"
"El, tolong dengarkan aku...."
Elia bergegas membuka pintu dan masuk.
Randy mengetuk jendela mobil berulang kali.
Elia menyalakan mesin mobil dan berlalu.
Randy lantas tak tinggal diam, ia juga menyusulnya.
Mobil Elia memasuki halaman rumah.
Randy yang tak dapat masuk meminggirkan kendaraannya dan berusaha untuk menghampiri Elia.
"Anda tidak boleh masuk!" usir penjaga keamanan.
Randy pasrah, akhirnya memilih pulang.
Malam harinya, tepat pukul 9. Randy kembali datang karena pesan dan teleponnya tak di respon oleh Elia.
"Apa saya boleh bertemu dengan Elia?"
"Maaf, Tuan. Nona Elia tidak menerima tamu malam ini," ucap penjaga keamanan.
Karena tak diizinkan bertemu dengan Elia, Randy memilih menunggu di dalam mobil.
Elia melihat dari kaca jendela. Ada rasa kasihan dan iba.
"Randy tak bersalah, seharusnya dia tidak perlu menanggung perbuatan Tante Cindy," gumamnya.
"Kamu masih memikirkannya?"
Pertanyaan Madya mengejutkan Elia sehingga ia menoleh, "Ibu!" lirihnya.
"Apa kamu mencintainya?"
"Bu, kasihan Randy. Aku rasa kita salah besar jika harus menyangkut pautkan semua ini dengannya. Tante Cindy yang melakukan kesalahan besar, tapi kenapa dia..." Elia menghentikan perkataannya.
"Randy adalah keponakan Cindy jadi Ibu yakin dia juga di pengaruhi wanita jahat itu!"
"Bu, aku yakin Randy tak sejahat itu."
__ADS_1
"Kamu telah jatuh cinta padanya, sehingga tak mampu membuka matamu. Dengarkan ucapan Ibu dan kakakmu!"
Elia terdiam.
Madya meninggalkan putrinya di balkon, 5 menit kemudian Elia masuk ke kamarnya.
Jarum jam terus bergerak namun mobilnya Randy masih di tempat yang sama. Elia hanya bisa memperhatikannya dari jendela kamarnya.
"Lebih baik aku tidur, pasti sejam lagi dia akan pergi," ucap Elia sembari melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Menarik selimut, Elia memejamkan matanya. Tapi, pikiran di kepalanya tak dapat membuatnya tertidur dengan nyenyak.
Ya, Randy alasannya tak membuatnya tenang.
Elia menyibak selimutnya lalu turun dan kembali membuka gorden jendela. Mobil berwarna merah milik Randy masih terparkir diluar halamannya.
Elia berjalan ke arah nakas dan meraih ponselnya, gegas ia menghubungi Randy. Dua menit kemudian pria itu menjawab panggilannya.
"Halo, El!"
"Pergilah dari rumahku!"
"Aku tidak akan pergi, jika kamu tak memberikanku kesempatan!"
"Randy, tidak ada kesempatan. Pergilah dan cari wanita lain yang lebih baik dariku. Keluargaku sangat berharga, keputusan mereka tak bisa ku bantah."
"El, aku serius denganmu. Jangan hakimi diriku atas apa yang bukan aku perbuat!"
"Aku tidak bisa memutuskan," ucap Elia.
"Apa kamu tidak mencintaiku?"
"Randy, ini bukan soal cinta tapi rasa sakit hati kami terlalu besar!"
"Aku minta maaf atas apa yang telah dilakukan Tante Cindy kepada kalian," ujar Randy.
"Maaf kamu tidak bisa mengembalikan ayahku!" Elia menutup ponselnya.
****
Elia bangun dan kembali melihat ke arah mobil Randy terparkir. Tetap sama di posisinya semalam.
Elia tak mau ambil pusing, ia lantas membersihkan diri dan bersiap berangkat kerja.
Di meja makan, Elia dan Madya menikmati sarapan bersama.
"Dia masih menunggumu diluar. Sepertinya dia ingin membuktikan bahwa dirinya serius," tutur Madya.
Elia hanya diam.
"Kenapa dia tidak menyerah saja?" singgung Madya.
"Aku tidak tahu, Bu. Biarkan dia begitu, sebentar lagi dia menyerah," ujar Elia.
"Semoga saja."
Sementara itu, Randy masih di dalam mobil menunggu Elia keluar dari kediamannya. Tak lama kemudian seseorang yang ditunggunya pun muncul.
Elia mengendarai mobilnya keluar dari rumahnya.
Randy dengan cepat mengikuti kendaraan yang dikemudikan Elia.
Ketika jalanan sepi dan lenggang, Randy mendahului laju kendaraannya Elia. Ia menghalangi jalan mobil wanita itu.
Membuka safety belt, Randy lalu keluar dari mobil dan berjalan cepat ke arah Elia yang juga berada di luar kendaraannya.
"Ada apa? Kenapa menghalangi jalanku?" tanya Elia.
"Aku ingin bicara denganmu," jawab Randy.
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, lupakan semuanya!" Elia memegang kenop mobil.
Randy menarik lengan Elia, "Aku serius denganmu, El. Katakan bagaimana caranya agar kamu menerimaku?"
Elia menurunkan tangan Randy. "Tidak ada caranya!"
"El!" Randy mulai tersulut emosi.
"Kamu ingin marah?"
Randy menarik napas lalu ia hembuskan.
"Minggirlah!"
Randy pun menyingkirkan tubuhnya.
Setibanya di kantor, Elia menerima setangkai bunga mawar putih dan secarik kertas yang berada di dalam amplop. Ia lalu membaca isinya, 'Berikan aku kesempatan.'
__ADS_1