
Di sepanjang jalan menuju rumah, Alpha bertanya alasan Elia pulang. Gadis itu pun menjelaskannya.
"Lain waktu sebelum Nona pulang atau melakukan apapun. Beritahu saya atau Biom," ujar Alpha.
"Iya, Kak."
"Sekarang kami akan mengantarkan Nona Elia pulang," ucap Alpha.
Selepas mengantarkan Elia pulang ke rumah, Alpha menggunakan mobil kembali ke gedung resepsi pernikahan bersama dengan Astrid.
"Apakah mungkin Elia memiliki musuh?" tanya Astrid.
"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Alpha. "Oh, aku tahu. Jangan-jangan pria itu yang pernah diceritakan Nona Elia," lanjutnya berucap.
"Maksudnya pria siapa?"
"Elia pernah mengatakan jika dirinya sering mendapatkan kado dari seseorang."
"Penggemar rahasia?"
"Bisa dikatakan begitu."
"Beberapa bulan belakangan ini, Nona Elia tak pernah cerita tentang pria penganggum rahasianya itu."
"Mungkinkah orang yang hampir menculiknya adalah sama?" tebak Astrid.
"Kemungkinan, karena Nona Elia tidak mengalami sesuatu yang buruk."
"Jadi, tujuan mereka mengusik Elia apa?"
"Pasti ada kaitannya dengan Tuan Muda."
"Sepertinya kalian harus mengawasi gerak-gerik Elia juga, karena dia sendiri mengatakan tak ingin ada pengawalan ketat. Temannya takkan leluasa bergaul dengannya."
"Ya, kami akan mengawasinya. Jika ada seseorang yang membuatmu terganggu, segera beritahu aku."
"Sepertinya ada pria yang membuat hatiku karuan," ujar Astrid.
"Benarkah? Siapa dia?"
"Pria itu kini sedang bersamaku," jawab Astrid tersenyum.
Alpha membalas senyuman calon istrinya. "Kamu tuh juga selalu membuat hatiku tercabik-cabik."
***
Keesokan harinya....
Astrid menikmati makan siang bersama dengan Kayla karena Alpha tidak memiliki waktu untuk menemani kekasihnya itu.
Astrid dapat memakluminya, lagian juga mereka akan menikah dan Rama masih izin bekerja.
"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Kayla.
"Hampir dua puluh persen lagi selesai."
"Syukurlah, aku senang kamu akan menikah. Semoga acaranya lancar dan kalian selalu bahagia.
"Terima kasih, Kay. Doa yang sama untukmu juga."
"Apa lelaki itu masih mengganggumu?"
"Rino?"
__ADS_1
"Ya."
"Dia tak pernah muncul dihadapan ku lagi."
"Baguslah, akhirnya dia sadar."
"Mungkin ancaman kamu waktu itu menyadarkannya," ujar Astrid.
"Mungkin saja."
-
-
Sore harinya, Kayla yang sedang menunggu taksi. Tanpa sengaja ia melihat diujung jalan, seorang pria sedang mengalami masalah.
Kayla mendekatinya.
Kerah baju pria yang bersandar di badan mobil dipegang pria bertubuh besar dan berwajah garang.
Kayla terkejut melihat sosok yang mengalami kekerasan itu adalah Rino.
"Cepat beri uang kami!" bentak pria bertubuh besar lainnya.
"Cukup, hentikan!" teriak Kayla.
Ketiga pria menoleh.
"Hei, Nona. Kami tidak memiliki urusan denganmu, pergilah!" usir pria bertubuh besar itu berkacamata hitam.
"Apa salah dia pada kalian?" tanya Kayla lantang.
"Nona, ingin tahu?"
"Dia memiliki utang dengan kami sebesar sepuluh juta, sudah sebulan dia tak membayarnya."
"Baiklah, aku akan membayarnya!" berkata dengan yakin.
"Hei, gadis aneh. Tak perlu sok baik!" Rino tak suka dengan sikap Kayla yang membantunya.
"Aku punya uang tiga juta," Kayla mengeluarkan beberapa lembar dari dompetnya. "Kalian lepaskan dia, sisanya bisa ditagih seminggu lagi dengannya!" menyodorkan uang tersebut.
Salah satu pria bertubuh besar mengambilnya.
Dan pria lainnya melepaskan cengkeramannya lalu berkata, "Urusan kita belum selesai, masih ada tujuh juta lagi. Ingat itu!" menunjuk wajah Rino dengan jari telunjuknya.
Rino tak mengiyakan, ia mengelap ujung bibirnya yang berdarah.
Dua pria itu pun pergi menggunakan motor.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Rino sinis.
"Aku kasihan denganmu saja."
"Aku tidak perlu dikasihani!" ucap Rino dengan nada sombong.
"Ternyata, kamu sangat keras kepala, ya!"
"Iya, aku memang keras kepala. Nanti aku akan mengganti uangmu."
"Kapan?"
"Entahlah, sekarang pergilah!" usir Rino.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki uang lagi, bisakah kamu mengantarkan ku pulang?"
"Ckk.. makanya tak usah menolongku jika tidak memiliki uang lagi!"
"Iya, lain waktu aku tidak akan menolong kamu lagi," Kayla membuka pintu mobil lalu duduk di samping pengemudi.
Rino mau tak mau mengantarkan gadis itu pulang.
Di dalam mobil, Kayla lantas berkata, "Aku minta nomor ponselmu!"
"Buat apa?"
"Ya, aku ingin menagih utangmu."
"Jika aku memiliki uang akan ku berikan padamu!"
"Agar kamu mudah membayarnya, bagaimana jika menjadi sopir pribadiku?" Kayla memberikan saran.
"Sopir?" Rino mengernyitkan keningnya.
"Ya, kamu antar jemput aku ke kantor menggunakan mobil ini."
"Apa kamu sudah gila? Aku tidak mau menjadi sopir!" Rino menolak dengan tegas.
"Tuan Rino terhormat, aku sudah tahu tentang masalah hidupmu. Perusahaan keluargamu bangkrut dan sekarang kamu itu pengangguran. Ini tawaran menarik dan hanya dua bulan saja."
"Itu terlalu lama!"
"Kalau begitu satu setengah bulan," ujar Kayla.
"Baiklah, aku setuju," ucap Rino.
"Cepat berikan nomor ponselmu!"
Rino memberikan ponselnya lalu menyuruh Kayla menulis nomornya.
Kayla menekan tombol di ponsel Rino lalu menghubungi ponselnya sendiri.
Kayla mengembalikan ponsel Rino, "Aku sudah menyimpan nomormu, aku harap kamu tidak datang terlambat. Kalau tak mau aku dipecat Astrid."
"Astrid berani memecatmu?"
"Kami memang berteman, tapi sekarang posisinya dia adalah atasanku jadi dia berhak memecatku jika tak profesional."
"Baiklah, aku akan datang tepat waktu."
"Aku berangkat kerja pukul enam lewat tiga puluh menit dan pulang paling cepat pukul lima sore."
"Kenapa sepagi itu?"
"Aku ini karyawan bukan pemilik perusahaan, jadi jangan protes!"
"Iya, baiklah aku akan menjemputmu. Pastikan setengah jam sebelum pergi telepon aku lagi."
"Baiklah!"
"Nanti kita singgah ke apotik," ucap Kayla.
"Untuk apa?"
"Kamu tidak mau mengobati lukamu itu?"
"Tidak perlu, aku akan mengobatinya di rumah saja.
__ADS_1
"Baiklah!"