
Sebulan berlalu...
Lanny merupakan sepupunya Mama-nya Randy ia selalu menjaga, merawat dan mengurus wanita itu jika dibutuhkan.
"Aku tidak melihat menantumu, Kak. Di mana dia?" Lanny akhirnya berani bertanya karena rasa penasarannya yang tinggi.
"Dia sudah pindah dengan Randy di apartemen."
"Oh." Lanny memberikan segelas jus buah naga kepada sepupunya. "Aku baru tahu jika istrinya Randy itu putri dari keluarga Abraham tempat Kak Daniel bekerja," lanjutnya.
"Kenapa kamu baru sadar?" tanya wanita paruh baya itu ketus.
"Ya, aku pikir Abraham yang berbeda lagian juga kejadian itu cukup lama," jawab Lanny.
"Tujuan Randy menikahi putrinya untuk membuat gadis itu tersiksa."
"Pasti Kakak mendengarkan ucapan dari Cindy, ipar yang menurutku licik."
"Cindy tidak seperti itu!" sentaknya.
"Kakak ini kenapa selalu tak pernah mendengar," protes Lanny. "Cindy itu berwajah dua, dia ingin kalian ikut terjebak dalam masalahnya!" lanjutnya lagi.
"Cindy itu yang membantu aku dan Randy dalam keterpurukan bukan kalian saudara tak tahu diri setelah kami kaya baru datang!" singgungnya.
"Astaga, kenapa Kakak berkata begitu? Justru Cindy sendiri mengatakan pada kami jika kalian tidak berada di kota ini!"
"Aku tahu kalian sangat iri padanya, kan?"
"Siapa pula iri dengan wanita jahat yang merebut suami orang sekaligus pembunuh!" Lanny tak mau kalah.
"Dia melakukan itu hanya untuk membalas kematian kakaknya dan mereka juga saling mencintai," ujarnya.
"Oh, bagaimana jika Elia bermain hati dengan pria lain yang mencintainya?" sindir Lanny.
Mama-nya Randy terdiam.
"Aku akan mempertemukan kakak dengan orang yang tahu semua kebusukan adik iparmu itu, Kak."
"Kamu ingin memfitnahnya?" tudingnya
"Tidak, Kak. Untuk apa? Aku melakukan ini agar mata hati kalian tahu dan terbuka siapa yang benar-benar tulus. Dan ku juga tak ingin Elia tersiksa karena kesalahan yang kalian lakukan."
-
-
Sementara di apartemen Randy...
Elia terbangun karena matahari telah menyinari ruangannya. Seluruh badannya terasa sangat pegal.
Menyibak selimutnya, ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 10 pagi. Ponsel yang selalu ia pegang sebelum menikah kini ditahan suaminya.
Elia ke kamar mandi membersihkan diri, ia menangis di dalam ruangan kecil itu. Menyesali apa yang telah terjadi dengannya dan merutuki kebodohannya yang mudah percaya pada orang lain.
Lelah menangis, ia keluar dan telah berpakaian. Ia pergi ke dapur melihat di meja makan tersedia nasi goreng dan telur ceplok.
Tanpa berpikir panjang, Elia menyantapnya.
Selesai makan, ia membersihkan ruangan apartemen milik suaminya.
Setelah melakukan pekerjaan rumah tangga yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Terdengar bunyi bel, Elia mendekati pintu. Kunci masih tergantung di handle.
Elia lalu membukanya.
__ADS_1
Sinta kini berada dihadapannya, "Di mana kekasihku?"
"Siapa kekasihmu?" tanyanya balik.
"Suamimu."
"Dia tidak di sini, cari saja di kantornya!"
"Apa aku bisa minta uang darimu?"
"Memangnya kamu siapa aku?" Elia balik bertanya.
"Nanti kamu bisa minta gantinya dengan Randy," jawab Sinta.
"Tak ada uang untuk pengemis sepertimu!"
"Hei, aku bukan pengemis!" sentaknya.
"Lalu kamu apa? Datang ke rumah orang lain yang sudah memiliki istri dan meminta uang. Apakah itu namanya bukan pengemis?" singgung Elia lagi.
"Aku akan memberitahu Randy agar selalu menyiksamu!" ancamnya.
"Silahkan, aku tidak takut!"
Sinta yang kesal, "Kamu tunggu saja nanti!"
"Sepertinya Randy sangat menikmati tubuhku sehingga dia lupa menyiksaku," ujar Elia.
Sinta semakin kesal, akhirnya pergi meninggalkan apartemen Randy.
Elia yang marah, menutup pintu dengan kasar. "Brengsek! Beraninya dia menyuruh kekasihnya kemari. Awas saja jika dia pulang, aku akan menyuruhnya tidur di ruang tamu!"
-
Randy pulang dari kantor, istrinya tak menampakkan hidungnya meskipun ia berulang kali memanggilnya.
Baru saja memegang handle, pintunya terbuka tampak Elia sedang menenteng 2 kantong plastik.
"Dari mana saja kamu?" tanya Randy.
"Aku pergi berbelanja, aku memakai uangmu yang diletakkan di nakas."
"Siapa yang menyuruhmu belanja?"
"Tidak ada, aku bosan di sini dan lagian pintu tak terkunci." Elia menerobos masuk dan berjalan ke dapur.
"Kamu jangan mencoba kabur dariku!"
"Jika aku ingin kabur mungkin sebentar lagi pengawal kakakku akan menangkapmu!"
Randy terdiam, ia membenarkan perkataan istrinya.
"Tidak ada makanan lagi di sini jadi aku berbelanja dan kuakan mencoba memasak."
"Kamu tidak boleh memasak!" larang Randy.
"Kenapa?"
"Bagaimana jika tempat ini terbakar karena kesalahanmu?"
"Bukan itu sangat bagus, aku juga akan mati."
Randy terdiam, entah kenapa dia tidak ingin sesuatu terjadi pada wanita yang dihadapannya.
__ADS_1
"Jika kamu tidak ingin aku yang memasak, buatkanlah makan malam untukku. Aku sangat bosan kalau tiap hari terus beli diluar," ungkap Elia.
"Tunggulah di ruang tamu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu!"
"Baiklah, aku tunggu!" Elia ke ruang tamu lalu menyalakan siaran televisi.
Tak sampai 1 jam, makanan tersaji di meja makan. Elia melahap semua masakan sang suami.
Randy tampak heran dengan perubahan istrinya yang begitu rakus.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Elia menghentikan makannya seraya menatap suaminya.
"Tidak biasanya kamu begitu."
"Aku sengaja biar badanku gendut dan kamu tak mau menyentuhku lagi," celetuk Elia.
Randy tertawa kecil, "Aku malah makin suka."
"Kalau begitu aku akan berhenti makan," ucap Elia.
"Ya, tidak begitu juga."
"Akhir-akhir ini selera makanku sangat tinggi, jadi kamu harus maklum apalagi aku tidak bekerja diluaran," jelas Elia.
"Tak masalah, asal kamu tidak kabur dariku!"
Elia mengakhiri makan malamnya lalu pergi ke kamar dan membawa bantal beserta selimut keluar menuju ruang tamu.
"Kenapa membawanya ini semua di sini?" tanya Randy heran.
"Kamu tidur di sini!"
"Aku?" menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, ini akibatnya karena berani membawa wanita lain ke sini."
"Ke sini? Maksudnya bagaimana?"
"Tadi pagi ada wanita jelek ke sini, dia menanyakanmu dan mengaku sebagai kekasihmu. Lebih parahnya lagi dia meminta uang padaku!"
"Sinta kemari?"
"Aku tidak tahu namanya dan tak peduli!"
"Mau apa dia ke sini?"
"Bertemu kamu.
"Jika dia kemari kamu harus mengusirnya!"
"Aku tak mau, jika kamu menghargaiku seharusnya tidak membawa wanita lain di pernikahan kita!" Elia lalu memilih pergi ke kamar dan menguncinya.
"Selamat tidur di luar!" teriak Elia dari dalam.
Elia lantas menjatuhkan tubuhnya di ranjang, "Rasain, akhirnya malam ini aku bebas dari terkamannya!" gumamnya.
"El, tolong buka pintunya. Aku tidak bisa tidur diluar!" Randy mengetuk pintu berulang kali.
Randy akhirnya pasrah, ia melangkah ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana. "Kenapa setiap hari dia sangat galak dan tak ada takutnya?" gumamnya.
Randy yang sangat mengantuk terpaksa memejamkan matanya.
Randy terbangun jam 1 malam karena tak dapat tidur nyenyak, ia pun mencari sesuatu di laci meja.
__ADS_1
Randy tersenyum ketika mendapatkan sesuatu yang dicarinya, ia lalu menuju kamarnya dan membuka pintu dengan kunci cadangan.
Randy dengan melangkah pelan, merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan memandangi wajahnya. "Kenapa semakin hari kutak bisa membencimu?" lirihnya.