Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 35 - S2- Berhasil Mengetahui Si Peneror


__ADS_3

Beberapa hari kemudian....


Elia baru saja pulang dari kantor, ia sengaja memperlambat laju kendaraannya karena macet juga.


Elia memperhatikan sekelilingnya seakan mencari sesuatu.


Dan seseorang dicarinya pun akhirnya ia temui. Elia pun memarkirkan kendaraannya di sebuah minimarket.


Keluar dari mobil, menenteng tasnya, Elia menyeberang jalan. Dengan langkah cepat ia menghampiri pria yang selalu menerornya itu.


Ya, Elia sangat hapal dengan bentuk tubuh, potongan rambut dan plat nomor kendaraan pria misterius itu.


Secara cepat, Elia menutup pintu mobil yang telah dibuka pria itu dan menghalanginya untuk masuk ke dalam kendaraan.


Pria itu tampak terkejut dengan kemunculan Elia dihadapannya.


Elia kini bersandar di pintu mobil.


"Minggirlah!" Pria itu berkata dengan pelan namun cukup jelas.


Elia menggelengkan kepalanya, dengan cepat ia menarik masker yang digunakan pria misterius tersebut.


Pria itu mendelikkan matanya, wajah aslinya telah diketahui Elia.


"Aku sudah melihat jelas wajahmu!" Elia tersenyum mengejek.


Pria itu mengeraskan rahangnya dan menatap tajam wajah Elia.


"Mau marah!" Elia menantangnya.


"Minggirlah!" Pria itu menekankan kata-katanya.


"Aku tidak mau!" Elia berkata dengan lantang sehingga menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar mereka.


Pria itu tampak gelagapan karena suara Elia sangat keras.


"Dia ini suami saya, namun selalu menghindar setiap permasalahan dalam rumah tangga kami. Sekarang dia ingin kabur!" Elia berkata berbohong dengan suara tinggi.


Pria misterius itu tak menyangka Elia mampu berkata seperti tadi.


"Kenapa?" tanya Elia tersenyum menyeringai.


Pria itu lalu menarik tangan Elia dan membuka pintu bagian penumpang depan. "Cepat masuk!" titahnya.


Elia yang tak takut segera masuk.


Pria itu lalu kembali ke tempat dia berdiri, membuka pintu mobil dengan wajah dingin ia memakai safety belt.


Menyalakan mesin mobil dan meninggalkan toko kue tempat dirinya berbelanja.


"Mau di bawa ke mana aku?" Elia mulai panik.


"Bukankah kamu bilang jika kita ini suami istri?" sekilas menoleh ke arah Elia.


Wanita itu menengguk salivanya, padahal ucapan mendadaknya agar pria penerornya kabur.


"Kenapa diam?"


Elia lantas memegang kemudi, membuat pria itu kewalahan. "Cepat katakan siapa kamu? Kenapa menjadi penguntitku?" cecarnya.


"El, ini sangat berbahaya!" bentaknya.


"Aku tidak peduli!" teriak Elia.


Pria itu terpaksa meminggirkan tangan Elia dari kemudinya secara kasar.


Dengan cepat ia meminggirkan kendaraannya dan berhenti.


Elia yang tak memakai safety belt, keningnya membentur dashboard sehingga membuatnya meringis kesakitan.


"Bagaimana jika terjadi kecelakaan?" sentaknya.


Memegang keningnya yang memerah, "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Elia emosi.


"Kenapa kamu harus tahu siapa aku?"


"Jelas aku harus tahu!" jawab Elia dengan nada tinggi.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku!"


"Aku tidak nyaman kamu selalu menguntitku!"


"Tapi, aku senang melakukannya!"

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila?" Elia membentaknya.


"Iya, aku gila karena kamu!"


"Aku?" tanyanya pada sendiri dengan lirih.


"Aku menykaimu, El."


"Kita tidak kenal dan aku tak tahu siapa namamu. Bagaimana bisa semudah itu menyukainya ku?"


Pria itu menarik napasnya lalu menjawab, "Aku obati lukamu dan ku akan menjelaskannya."


Elia mengiyakan.


Setelah berhenti di depan apotek, pria itu lantas turun tak lama kemudian ia membawa sebuah salep. Membuka penutup, "Mendekatlah!"


Elia dengan ragu mendekat.


Pria itu lalu mengoleskan salep ke kening Elia yang memar.


"Auww!" Elia meringis.


"Maaf!"


"Siapa namamu?" tanya Elia.


"Randy."


"Jadi inisial R itu namamu?"


"Ya." Menarik tangannya dari kening Elia.


"Sejak kapan kamu menyukaiku?"


"Tujuh tahun lalu tepatnya di sekolah menengah atas tempatmu menimba ilmu," jawabnya.


"Aku rasa alasanmu tidak masuk akal dan sangat aneh!" Elia tak mudah percaya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak!"


"Lalu kenapa kamu menabrak mobilku beberapa hari yang lalu?"


"Aku cemburu!" jawab Randy asal.


"Kedekatanmu dengan pria dari luar negeri itu."


"Kenapa semuanya kamu tahu?" tanya Elia.


"Ya, karena aku adalah penggemarmu!"


Elia terdiam sejenak, kemudian ia meminta sesuatu, "Berikan ponselmu!"


"Untuk apa?" tanya Randy.


"Cepat kemarikan ponselmu!" paksa Elia.


Randy menyerahkan ponsel miliknya.


Dengan cepat Elia menekan angkanya dan menghubungi ponselnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Randy lagi.


"Aku hanya ingin mencatat nomormu!"


"Pasti kamu ingin mengobrol denganku di ponsel, kan?"


"Cih, tingkat percaya dirimu sangat tinggi sekali!"


"Lalu untuk apa meminta nomor ponselku?"


"Jika kamu menerorku lagi, ku akan memarahimu!" jawab Elia asal.


Randy tertawa kecil mendengarnya.


Elia tampak menatap sinis.


"Cepat antar aku ke minimarket di jalan yang tadi!"


"Baiklah!" Randy pun mengantar Elia mengambil mobilnya.


Sesampainya, Elia segera turun. Membayar parkir lalu meninggalkan tempat tersebut.


Elia mengendarai mobilnya dengan perlahan, ia dapat melihat dari kaca spionnya jika Randy mengikutinya.

__ADS_1


Elia lantas mengambil ponselnya, menggunakan headset lalu menghubungi Randy, "Kenapa kamu mengikuti aku?"


"Aku ingin memastikan kamu pulang dengan selamat!"


"Jangan sok perhatian!" Elia lalu menutup ponselnya.


Begitu sampai rumah, Madya memperhatikan kening putrinya. "Kenapa ini? Apa yang terjadi denganmu?"


"Aku tidak hati-hati, Bu. Makanya jadi begini," jawab Elia berbohong.


"Makanya lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi," nasihat Madya.


"Iya, Bu. Aku ke kamar dulu, ya!"


***


Esok paginya, Elia kembali mendapatkan kiriman namun kali ini bukan bunga atau cokelat melainkan kopi dalam cangkir kemasan.


"Selamat pagi, semoga kamu suka. Minumlah, aku tidak meletakkan sesuatu yang membuatmu ragu!" Begitulah isi pesan yang dikirimkan Randy di ponselnya Elia.


Wanita itu menarik sudut bibirnya lalu menengguknya sedikit. Ia lalu memulai pekerjaannya.


Ponsel Elia kembali bergetar, ia membaca chat tersebut dalam hati, "Nanti sore kita bertemu di kafe yang ada di ujung jalan kantormu. Aku ingin mengenal dan dekat denganmu."


"Baiklah, aku akan ikuti permainanmu!" gumamnya.


Sejam kemudian, ponsel Elia berdering tertera nama Vallen. Ia bergegas menjawabnya, "Halo!"


"Halo, El. Apa sore ini kamu sibuk?"


"Tidak."


"Bisakah kita bertemu di kafe biasa?"


"Maaf, Val. Aku sudah memiliki janji dengan seorang teman," jawab Elia.


"Oh, baiklah. Lain waktu saja kalau begitu kita mengobrolnya."


"Ya, Val. Maaf!"


Vallen mengiyakan dan menutup panggilannya.


-


-


Sore harinya, Elia menuju kafe yang dimaksud oleh Randy. Dan pria itu telah berada di sana sedang menyeruput kopinya.


"Aku pikir kamu tidak akan datang," Randy membuka percakapan.


Elia hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana kabarmu hari ini? Apa kopi yang ku kirim kamu minum?"


"Ya, aku sudah meminumnya dan rasanya enak sekali. Kamu sangat mengenal sekali tentang aku hingga tahu minuman yang ku sukai," sindir Elia.


"Aku menyukaimu, jadi semua tentangmu kutahu!" Randy tersenyum menyeringai.


"Sebenarnya kamu tidak menyukaiku, hanya saja dirimu memiliki sebuah misi untuk mendekatiku!"


Randy terdiam.


Elia tertawa kecil, "Aku tidak tahu apa misi kamu sebenarnya."


"Misi aku ingin memilikimu dan menikahimu," ucap Randy.


Elia yang mendengarnya terdiam.


"Aku serius denganmu, El."


"Aku tidak mengenalmu dan keluargamu," ujar Elia.


"Aku akan mengenalkan kamu dengan ibuku," janji Randy.


"Untuk saat ini, ku belum bisa diajak serius."


"Kenapa?" tanya Randy.


"Kita baru kenal meskipun kamu sudah lebih lama mengenalku. Dan aku masih fokus mengejar karir menjadi desainer."


"Aku akan menunggumu."


"Kamu akan bosan," ujar Elia.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan tujuh tahun?" tanya Randy lagi.


__ADS_2