
Sebulan kemudian..
Elia dan Randy semakin dekat serta akrab. Namun, kedua keluarga mereka belum mengetahuinya.
Vallen, pria yang Elia sukai sejak sekolah perlahan ia lupakan karena Randy mampu membuatnya nyaman.
Sosok Randy tak ia kenalkan dengan Mitha alasannya takut temannya itu akan memberitahunya pada Harsya atau Vallen.
Siang ini, Elia akan menikmati makan bersama dengan Randy.
Dengan wajah sumringah, Elia duduk saling berhadapan.
"Aku sudah memesan makanan buat kamu," ucap Randy.
"Terima kasih."
"Aku tidak ingin kamu menunggu terlalu lama," ujar Randy.
"Ya."
"Silahkan dimakan!"
Elia mengiyakan dan menikmati hidangan yang telah dipesan.
"Nanti sore aku akan memperkenalkan kamu dengan ibuku. Apa kamu mau?"
"Sore ini?"
"Ya."
"Maaf, aku tidak bisa. Karena kakakku dan keluarga kecilnya akan datang ke rumah," Elia memberikan alasan.
"Bagaimana besok?"
"Baiklah, kebetulan besok hari libur."
Randy tersenyum menyeringai.
Setengah jam berlalu, selesai makan. Randy mengantarkan Elia ke parkiran setelah itu masuk ke mobilnya.
"Elia Abraham kamu segera masuk perangkapku!" gumamnya seraya memegang erat setir mobil dengan kedua tangannya.
-
Malam harinya di kediaman Madya..
Elia menyambut kedatangan keluarga kakaknya. Begitu turun dari mobil, Elia lantas mengambil keponakannya nomor 2 dari gendongan kakak iparnya.
"Bibi, kangen sekali denganmu!" mengecup pipi bayi laki-laki itu.
"Aku mau turun, Bibi!" ucapnya dengan kata-kata belum jelas.
"Bibi, sudah lama tidak main dengan kami!" protes Hana.
"Maaf, cantik. Bibi memiliki pekerjaan yang sangat padat," jelas Elia.
"Jangan terlalu sibuk bekerja, ingat kamu harus mencari pasangan hidup," celetuk Harsya.
"Kakak, kenapa jadi ikutan Ibu dan Kakak ipar?" protesnya.
"Kamu sudah dewasa, El. Kami ingin ada yang bertanggung jawab denganmu dan menemanimu."
"Lalu Ibu bagaimana jika aku menikah?" tanya Elia.
"Ibu ada Hana dan Lian," jawab Madya.
"Aku belum kepikiran untuk ke sananya. Nanti saja, jika memang waktunya tepat pasti ku akan menikah," jelas Elia.
***
Besok paginya, selesai sarapan tepatnya jam 10. Elia berangkat ke rumah orang tuanya Randy.
Tentunya, Randy telah menunggu Elia di ujung jalan menuju kediamannya menaiki sepeda motor maticnya.
Elia tiba di rumah yang tidak terlalu besar dan tidak memiliki halaman lebar.
Elia masuk ke dalam, Randy mengarahkannya ke belakang rumah tepatnya taman kecil. Seorang wanita paruh baya duduk di kursi dengan melamun.
"Dia mamaku!" ujar Randy.
Elia mendekati wanita itu dan menyapanya, "Selamat pagi, Tante!"
__ADS_1
Wanita itu menoleh dan menatap kosong.
"Perkenalkan nama saya Elia."
"Dia calon istri Randy, Ma!"
Elia lantas menoleh ke arah Randy dan mengerutkan keningnya.
"Kamu cantik!" pujinya dengan terbata.
"Terima kasih, Tante."
"Tolong, jaga Randy. Dia harta ku satu-satunya," ujarnya.
Elia mengangguk.
"Randy, Mama mau ke kamar," ucapnya.
"Iya, Ma." Randy mendorong kursi roda menuju kamar wanita yang melahirkannya itu.
Tak lama kemudian Randy keluar menghampiri Elia yang menunggunya.
"Kenapa kamu bilang kalau aku ini calon istrimu?"
"Aku hanya ingin membuat mamaku bahagia. Bukankah waktu itu kamu juga yang bilang kalau kita ini suami istri?" singgung Randy.
"Jangan membahas itu lagi!"
Randy tertawa, "Baiklah."
"Kalian tinggal berdua saja?"
"Iya."
"Kalau kamu pergi kerja, siapa akan menjaga mamamu?"
"Ada sepupu yang akan menjaga sekaligus bersih-bersih rumah," jawab Randy.
"Oh."
"Aku akan membuatkan minuman untukmu!"
Elia mengangguk mengiyakan.
Elia melangkah mendekat.
Randy lantas menoleh, "Kenapa tidak tunggu di ruang tamu?"
"Aku bosan sendirian di sana," jawab Elia berbohong.
Randy tersenyum seraya mengaduk teh.
"Kamu biasa melakukan semuanya sendiri?"
"Ya."
"Hebat!" puji Elia.
Randy hanya tersenyum, ia menatap wajah Elia yang berada di dekatnya cukup dalam.
Elia tampak gugup.
Randy mengarahkan jemarinya di bibir Elia dan wanita itu tak menepis tangannya.
Perlahan wajahnya mendekati bibir ranum yang dimiliki Elia dan menciumnya.
Elia yang mendapatkan serangan mendadak, memejamkan matanya. Ia menikmati sensasi sentuhan yang diberikan Randy di bibirnya.
Elia meletakkan kedua telapak tangannya di dada Randy dan tangan pria itu memeluk pinggangnya.
Ciuman yang dilakukan keduanya di dapur cukup singkat karena ibunya Randy berteriak memanggil nama putranya.
Randy melepaskan tautan bibirnya sejenak menatap Elia dan mengelap bibir wanita itu dengan jemarinya. "Maaf!" lirihnya.
Elia hanya diam terpaku.
Randy meninggalkan Elia di dapur, lalu bergegas pergi ke kamar mamanya.
Elia duduk di meja makan dan meminum tehnya, ia kembali teringat ciuman ia dan Randy lakukan.
"Kenapa aku tidak menolaknya? Apa aku mulai mencintainya?" batin Elia bertanya.
__ADS_1
Randy keluar dari kamar mamanya dan menarik kursi di sebelah Elia.
"Mama lagi mengigau," ucap Randy.
"Apa tiap hari begitu?" tanya Elia.
"Ya."
Elia merasa iba dengan keadaan Randy dan ibunya. "Kalau aku boleh tahu di mana papa kamu?"
"Papa sudah lama meninggal."
"Maaf!"
Randy hanya tersenyum.
"Aku harus segera pulang, karena tadi ibu meminta tuk menemaninya belanja," ucap Elia.
"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu."
"Aku juga bawa kendaraan sendiri, bagaimana kamu bisa mengantarku."
"Oh, iya. Aku lupa."
Elia tersenyum singkat.
"El, maafkan yang tadi. Aku benar-benar..."
"Tidak apa-apa." Elia beranjak berdiri diikuti oleh Randy.
"Aku pamit, ya!" ucap Elia.
"El, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?"
Lamaran secara tiba-tiba dan mendadak membuat Elia tampak terkejut.
"Maaf, jika ini terlalu cepat. Tapi, aku benar-benar serius denganmu. Perjuangan panjang selama tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Walaupun, caraku salah."
"Randy, aku belum siap untuk menikah."
"Kapan kamu akan siap?"
"Aku tidak tahu."
Randy menarik pinggul Elia hingga menubruk dada. "Aku tidak mau kamu diambil pria lain, El."
Elia mendorong tubuh Randy dan memundurkan langkahnya.
"Maaf!" Gegas Elia pergi.
***
Seminggu kemudian...
Randy kembali mengirimkan paket kepada Elia karena sejak ucapannya itu, keduanya menjaga jarak dan tak pernah mengirimkan kabar.
Sebuah kalung emas Randy kirimkan kepada wanita yang selalu ia kejar.
Secarik kertas berwarna merah muda Elia buka. 'Maaf, jika ucapan aku membuatmu jauh. Cara apa lagi harus ku lakukan untuk meluluhkan hatimu.'
Elia meremas kertas tersebut lalu melemparkannya di tong sampah yang ada di kamarnya.
Elia terduduk di pinggir ranjang, hatinya benar-benar bimbang. Ada rasa suka dan ragu menjadi satu.
Dengan Randy, ia merasa jika lelaki itu sangat perhatian dan tulus padanya.
"Apa aku terima saja lamaran darinya?" gumamnya.
Elia yang ragu akhirnya menghubungi Mitha untuk menanyakan pendapatnya.
Keduanya bertemu di rumah Mitha karena orang tua dari sahabatnya itu sedang pergi.
"Kita sudah lama tidak bertemu tiba-tiba kamu datang untuk bertanya tentang pria," Mitha menyinggungnya.
"Maaf, Mitha. Sebulan terakhir ini aku memang sibuk karena banyak permintaan desain," jelas Elia.
"Oh, aku pikir kamu sibuk dengan kekasih barumu!" Mitha menyindirnya.
"Aku belum memiliki kekasih."
"Jadi, pria mana yang sudah membuat hatimu bimbang?" tanya Mitha.
__ADS_1
Elia membuka ponselnya dan menunjukkan foto Randy.
"Aku sangat mengenalnya," ucap Mitha.