Cinta Asisten Dingin

Cinta Asisten Dingin
Bab 12 - Kembali Memohon


__ADS_3

Astrid masih bekerja meskipun pernikahannya dengan Alpha telah tinggal beberapa hari lagi.


Menjinjing tas berwarna abu-abu, ia melangkahkan kakinya menuju gedung kantornya.


Langkahnya terhenti ketika melihat Kayla turun dari mobilnya Rino, ia tampak heran dengan pemandangan yang ada di depannya.


Setelah mobil itu pergi, Astrid mendekati sahabatnya. "Kalian kenapa bisa bersama?"


"Ceritanya panjang!"


"Apa kita perlu minum teh untuk mengobrol?" sindir Astrid.


Kayla hanya menyengir.


"Makan siang nanti, kita mengobrol. Hari ini kamu harus mentraktirku," ucap Astrid.


"Aku tidak bisa mentraktirmu bulan ini. Bagaimana kalau bulan depan?"


"Kenapa begitu? Bukankah dua hari lalu gajian?"


"Ceritanya juga panjang."


"Sepertinya kita harus mengobrol di rumah," singgung Astrid.


"Ya, tidak juga. Tapi, aku janji bulan depan akan mentraktirmu dan Alpha," ujarnya.


"Oh, baiklah kalau begitu."


"Iya, Bu Astrid."


-


Siang harinya, ketika makan siang di restoran depan kantor.


"Jadi, kamu membantu membayar utangnya?"


"Ya."


"Lalu, kenapa dia mengantarmu kerja?"

__ADS_1


"Agar dia bisa melunasi utangnya padaku, karena tak mungkin dia mampu membayarnya."


"Tapi, kamu harus hati-hati dengannya," ucap Astrid.


"Iya, aku akan hati-hati."


"Dan kamu harus menjaga hatimu," sambung Astrid.


"Kenapa?"


"Biasanya cinta akan tumbuh seiring waktu dan intensitas bertemu yang terlalu sering. Apalagi kamu bilang antar jemput kemanapun pergi," jawab Astrid.


Kayla tertawa kecil.


"Hei, aku serius. Aku jatuh cinta dengan pria dingin itu karena Harsya selalu menyuruhnya untuk mengantarkan ku pulang. Segala urusan menyangkut aku, semua diserahkannya kepadanya. Apalagi Alpha mendonorkan darah buatku."


Kayla tampak diam dan berpikir.


"Tapi, kalau dia jatuh cinta padamu tidak masalah juga. Biar berhenti mengejarku," ucap Astrid.


"Dia bukan tipe kekasihku!"


Kayla malah tertawa.


"Semoga kamu dan dia bersatu, aku sungguh melihatnya itu!"


"Aku berharap semoga tidak akan pernah terjadi!" harap Kayla.


-


-


Malam harinya...


Dikediaman Madya, Rissa duduk bersama dengan Biom.


"Setelah pernikahan Biom, Bibi akan mengirimkan Nayna. Semoga dia berhasil membujuk kakakmu."


"Ya, Bibi. Aku yakin Bibi pasti bisa mengatasinya," ucap Rissa.

__ADS_1


"Fokus kalian adalah persiapan pernikahan, bisa saja 'kan Darrell pulang secara mendadak."


Sementara di tempat lain, di kediaman Harsya.


"Bagaimana dengan acaranya Kak Rissa?"


"Setelah urusan pernikahan Alpha, kami akan fokus membantu membawa Darrell ke sini," jelas Harsya.


"Kasihan sekali Kak Rissa, punya kakak kandung tapi tidak peduli apalagi tidak memiliki kedua orang tua. Beda dengan aku memiliki ayah dan ibu tetapi begitu buruk memperlakukan ku."


"Jangan ingat masa lalu yang buruk itu," ucap Harsya lembut.


"Aku merasa kasihan dengannya, suamiku. Intan dan Kak Astrid mereka telah bahagia."


"Rissa bahagia bersama Biom," ujar Harsya.


"Iya, tapi restu untuk menyatukan kebahagiaan mereka terhalang," ucap Anaya.


"Yakinlah, pasti mereka akan bahagia," kata Harsya.


Setelah pulang dari kediaman Madya, Rissa menelepon kakaknya.


"Halo, Kak!"


"Ada apa lagi?"


"Kak, ku mohon kembalilah sebentar saja memberikan restu pada kami," mohon Rissa mengiba.


"Berapa kali aku bilang, ku takkan pulang jika hanya untuk melihatmu saja!" bentak Darrell.


"Kak, apa aku harus mati agar Kak Darrell bisa memaafkan ku?"


"Ya, semua hancur karenamu seharusnya kamu yang pergi selamanya bukan papa dan mama!"


"Iya, Kak. Aku salah, aku yang terlalu keras kepala tak mendengar perkataan mereka. Aku yang buat mama sering sakit-sakitan ditinggal papa. Aku yang membuat keluarga kita hancur. Aku minta maaf, Kak!" Rissa berkata dengan menangis.


"Rissa, menangis darah pun. Aku takkan pernah memaafkanmu!" Darrel lantas menutup teleponnya secara kasar.


Rissa terduduk di lantai, ia memeluk lutut dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2